Bab.9 Hari Pertemuan (2)

1057 Kata
  "Kamu ada benarnya, Kissia." Tanpa diduga, Helvin setuju dengan usul Kissia. "Kamu bisa ke sana duluan pakai taksi."   "Aku akan menemani Kissia," sahut Ivanka.   "Ibu temani Ayah saja," kata Kissia sambil memegang tangan ibunya. "aku sudah tahu di mana alamat rumah Pak Alanzo."   "Hati-hati!" seru Ivanka ketika Kissia berbalik pergi dengan sebuah rencana berisiko tinggi yang akan dilakukannya.   Kini di rumah keluarga Alanzo Rico ....   "Jadi," kata Helvin sambil melirik Ivanka tajam-tajam. "kamu bisa jelaskan di mana Kissia sebenarnya, Ivanka?"   "Ah, aku ..." Ivanka memandang berkeliling ruangan dan tidak menemukan keberadaan putri kandungnya. "Aku akan mencoba menelepon Kissia, Henry."   "Sebaiknya memang begitu," timpal Helvin dingin. "Jangan sampai Kissia membuat pertemuan sepenting ini hancur hanya karena dia tidak jadi datang."   Feli memalingkan muka dengan agak sinis sementara Ivanka buru-buru mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.   Di seberang ruangan, Giordano berbisik kepada ayahnya yang bersiap menyambut Helvin dan keluarganya.   "Yah, kenapa wanitanya cuma satu?" tanya Giordano penasaran. "Dan itu tunangannya siapa? Virghi atau aku?"   Alanzo Rico memandang salah satu putranya dan mengangguk samar.   "Sebentar, ayah akan mengobrol dengan Pak Helvin dulu." Alanzo merapikan jasnya dan berdiri untuk mendatangi meja yang ditempati salah seorang rekan pentingnya. "Kalian berdua, baik-baik saja di sini. Ayo temani aku, Levina."   "Baiklah," angguk Levina sambil berdiri dengan anggun. "Anak-anak, tetaplah bersikap elegan."   Giordano hanya menyeringai tipis sementara Virghi tidak berkata apa-apa.   "Aku penasaran dengan perempuan itu," tunjuk Giordano kepada Feli ketika kedua orang tuanya berlalu pergi. "apa dia tunanganmu?"   Virghi melirik Feli dari kejauhan dan menurutnya dia sama seperti wanita kebanyakan, dari mulai model baju yang Feli kenakan hingga riasan yang menempel di wajahnya.   Nyaris tidak ada ciri khas yang menjadi pembeda di mata Virghi.   "Kita tunggu ayah saja," kata Virghi dengan nada datar.   "Selamat malam, Pak Helvin!" sapa Alanzo ketika dia dan istrinya mendatangi meja Helvin. "Perjalanan Anda menyenangkan?"   Helvin berdiri untuk berjabat tangan dengan Alanzo dan Levina, sementara Ivanka dan Feli bergegas mengikuti.   "Sempat ada halangan di jalan, tapi tidak apa-apa." Helvin menjelaskan apa adanya.   "Ngomong-ngomong, di mana putri Anda yang satunya lagi?" tanya Levina sambil menolehkan kepalanya. "Apa dia berhalangan hadir?"   Helvin melirik Ivanka sebelum menjawab.   "Istri saya sedang berusaha menghubungi putri kedua kami," jelas Helvin terus terang. "Dia pamit pergi lebih dulu saat saya harus mengganti ban yang bocor, jadi seharusnya putri saya sudah sampai di sini dari tadi."   Levina mengangguk paham.   "Saya akan minta penjaga di depan untuk siaga di pintu," ujarnya sambil tersenyum. "siapa tahu putri Anda sudah jalan ke sini."   "Tidak apa-apa kita tunggu sampai dia datang," timpal Alanzo. "Anda dan keluarga bisa menikmati sajian pembuka dari kami sambil menunggu."   "Terima kasih, Pak." Helvin mengangguk sopan, dan dia harus menunggu hingga Alanzo dan istrinya berlalu pergi sebelum menegur Ivanka.   "Kamu bilang Kissia tidak akan bikin masalah," kata Helvin dingin sambil memandang Ivanka. "Sekarang mana buktinya?"   Ivanka tidak berkata apa-apa karena dia masih berusaha menghubungi Kissia.   "Aku sih sudah curiga kenapa Kissia mendadak mau pergi ke rumah Pak Alanzo duluan," komentar Feli sok tahu.   "Feli, bisa tidak kamu bantu ibu untuk menghubungi adikmu?" tanya Ivanka menyela.   "Kalau Ibu saja tidak berhasil menghubungi Kissia, apalagi aku." Feli menyahut sambil lalu.   "Sudahlah, hubungi terus sampai Kissia menjawab." Helvin menengahi ketika Ivanka akan membuka mulutnya.   "Kamu tahu, perempuan itu melihat ke arahmu terus." Giordano menunjuk dengan gerakan matanya. "Sudah pasti kalau dia adalah tunanganmu."   Virghi menoleh ke arah yang ditunjuk Giordano. Dia bisa melihat Feli yang sedang melihatnya terang-terangan dengan tangan cewek itu menopang dagunya.   "Entahlah," sahut Virghi datar. "aku kurang suka dengan sikapnya."   Giordano tertawa pelan.   "Kalau kamu bisa mendidiknya untuk tidak jelalatan seperti itu, aku akan sangat bangga menjadi kakakmu." Dia menegaskan.   Virghi tidak berkomentar apa-apa, tapi jelas Feli bukanlah kategori tunangan favoritnya. Rencananya untuk mengadakan pernikahan kontrak itu akan benar-benar terjadi kalau sampai sang ayah tetap menjodohkannya dengan Feli.   "Aku masih penasaran dengan perempuan yang satu lagi," ujar Giordano. "Kalau yang ini saja modelnya begitu, pasti yang lainnya nggak jauh beda. Mereka bersaudara kan?"   "Mungkin," sahut Virghi tanpa memandang Giordano. "tapi ayah pernah bilang kalau mereka berdua adalah saudara angkat."   Giordano mengangguk paham.   "Sudah kuduga," komentarnya. "Lagipula mana mungkin aku menikahi iparku sendiri nantinya."   Virghi diam saja, dia mulai risi dengan sikap kakaknya yang tidak pernah bisa berhenti bicara.   ***   Kissia keluar dari kafe saat hari sudah mulai gelap, dia masih menunggu taksi untuk mengantarkannya ke rumah keluarga Alanzo Rico.   Kissia jelas berharap bahwa dia bisa mengejar waktu sehingga ayahnya tidak perlu tahu bahwa dia sempat pergi ke tempat lain.   Tidak berapa lama kemudian, taksi yang ditunggu lewat dan Kissia segera menyetopnya. Setelah itu dia bergegas masuk dan meminta sopir taksi untuk mengantarnya ke alamat yang tertera di layar ponselnya.   Kalila benar-benar berharap semoga pertemuan penting itu belum dimulai saat dirinya tiba nanti.   Namun, harapan Kissia jauh meleset dan dia harus menelan ludahnya dengan getir begitu dia turun dari taksi.   'Ayah akan membunuhku,' ucap Kissia dalam hati, wajah cantiknya yang terpoles riasan natural seketika mengerut pasrah.   "Maaf Tuan, ada seorang nona muda sedang menunggu di luar." Salah satu penjaga terpaksa menyela obrolan antara Helvin dan Alanzo untuk memberi kabar terbaru.   "Nona muda?" ulang Alanzo sambil menoleh memandang Helvin. "Jangan-jangan dia adalah putri Anda, Pak?"   Helvin menganggukkan kepalanya.   "Boleh saya lihat dulu, Pak?" tanya Helvin meminta izin.   "Silakan," sahut Alanzo tidak keberatan.   Kissia terkejut ketika Helvin mendadak muncul dan menarik lengannya dengan sedikit kasar.   "Ayah ...?"   "Dari mana saja kamu?" tanya Helvin tajam. "Ayah harap kamu tidak sedang pergi ke tempat lain ...."   "Aku tersesat, Yah!" jawab Kissia cepat-cepat. "Aku sempat berputar-putar di kawasan yang sama, makanya aku terlambat."   Helvin melempar pandang tidak percaya ke arah Kissia, tapi dia juga tidak ingin membuang waktu lebih lama untuk sekadar menginterogasi putri angkatnya.   "Sekarang masuk," perintah Helvin. "berikan senyum terbaikmu."   "Yah, aku belum siap. Kak Feli saja yang dijodohkan dengan putra Pak Alanzo," geleng Kissia dengan wajah memohon.   "Kita sudah pernah membicarakan soal ini, Kissia. Apa kamu berniat mempermalukan ayahmu di depan relasi bisnisnya?" geram Helvin sambil mencengkeram lengan Kissia. "Sekarang ikuti ayah ke dalam, senyum yang benar!"   Kissia meringis kesakitan, tapi dia buru-buru memaksakan bibirnya untuk tersenyum sesuai perintah ayah angkatnya.   Beberapa orang menolehkan kepalanya saat Helvin muncul sambil membawa Kissia bersamanya.   "Itu perempuan yang satu lagi sudah datang!" tunjuk Giordano yang rupanya tidak bisa diam. "Virghi, bagaimana menurutmu?"   Virghi menolehkan wajahnya ke arah Helvin dan saat dia melihat sosok Kissia dari kejauhan, seketika dia teringat dengan seseorang.   Bersambung -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN