Selang beberapa saat terdengar sirine mobil polisi mendekat. Beberapa petugas kepolisian langsung turun dan mengamankan lokasi kejadian termasuk memasang garis polisi.
Aku membuntuti petugas karena hendak memuaskan rasa penasaran di dalam hati. Ingin memastikan apakah benar jasad yang terbujur kaku itu adalah jasad Intan adanya atau tidak.
Petugas sampai merasa heran karena aku begitu ingin tahu dan bertanya-tanya.
"Bapak kenapa? Kenal wanita ini?" tanya salah seorang petugas yang sedari tadi sibuk mengindentifikasi mayat dan berusaha mencari petunjuk di sekitar lokasi kejadian tersebut padaku.
Aku menganggukkan kepala meski sebenarnya tidak begitu yakin.
"I--iya, Pak. Dia seperti istri muda saya yang sudah dua hari ini hilang dan tidak ada kabar beritanya, Pak," sahutku terus terang sembari mengamati dengan seksama wajah wanita itu.
Namun, karena wajah itu rusak parah dan mulai bengkak, aku tak bisa mengenalinya dengan pasti.
"Bapak sudah membuat laporan kehilangan? Kalau memang Bapak kehilangan anggota keluarga, kita minta bantuannya untuk melapor karena kami ingin mendapat informasi sebanyak-banyaknya dari masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarganya, Pak," imbuh petugas itu lagi padaku.
Mendengar ucapan petugas tersebut, aku hanya menganggukkan kepala dengan patuh.
Aku sendiri memang sudah memiliki rencana besok pagi akan melaporkan kehilangan Intan itu jika hingga subuh nanti keberadaan wanita itu tak juga bisa aku temui.
Jadi tanpa perlu diingatkan lagi sebenarnya aku memang akan melaporkan kehilangan Intan ke kantor polisi besok pagi.
Namun, karena sudah diingatkan seperti ini, aku pun semakin kuat dan merasa yakin untuk melaporkan kehilangan Intan itu pada petugas yang berwajib esok hari.
*****
Aku sampai di kontrakan Intan lima belas menit kemudian setelah jasad wanita yang aku curigai sebagai mayat istri mudaku itu dibawa petugas kepolisian ke rumah sakit untuk diautopsi.
Aku sudah tak peduli lagi dengan pekerjaan. Sudah telat setengah jam dari jadwal masuk kantor tapi aku masih juga sibuk dengan urusan pribadiku di sini, karena bagiku menemukan keberadaan Intan memang lebih penting dari segala galanya.
Tetapi alangkah terkejutnya aku, saat sampai di kontrakan Intan, pintu rumah istri mudaku itu terlihat dalam keadaan terbuka lebar dan seorang laki-laki yang tak kukenal tampak sedang mengamuk di dalam kontrakan Intan itu dengan melempar benda apa saja milik Intan yang ditinggalkan perempuan itu dalam kontrakannya ke segala arah.
Melihat itu, aku menjadi terkejut sendiri. Ya, siapa sebenarnya laki-laki itu? Dan kenapa ia mengamuk di kontrakan Intan ini? Tak urung tanda tanya berseliweran di benakku.
"Pak! Tunggu! Kenapa anda mengamuk di kontrakan ini dan menghancurkan barang-barang Intan?" tanyaku sembari menghambur masuk bertepatan saat lelaki itu hendak melempar cermin yang tergantung di dinding ke atas lantai.
Mendengar seruanku, sontak lelaki itu menghentikan amukannya, menatapku, lalu menyunggingkan seringai tak suka dan tatapan tajam berkilat ke arahku.
"Kau siapa? Jangan ganggu aku!" ucapnya dengan nada suara berat dan tertekan.
"Aku suami Intan! Kau sendiri siapa? Kenapa mengamuk di sini? Kenapa kau hancurkan barang-barang milik istriku seperti ini?" sahutku tanpa pikir panjang lagi.
Rasa cinta dan memiliki yang begitu besar terhadap Intan, memang membuatku siap membela dan menghadapi resiko apa pun yang berkaitan dengan keselamatan wanita tercinta itu.
Jangankan harta, nyawa pun sanggup kupertaruhkan demi dirinya.
"Apa? Suaminya?" Mata tajam di depanku tiba-tiba melotot lebar. Ditelitinya raut wajahku tanpa berkedip. Lalu detik berikutnya tawa keras pun lolos dari mulutnya.
"Sejak kapan Intan punya suami? Kau yakin?" tanyanya dengan nada mencemooh, membuat perasaan emosi yang kutahan-tahan sedari tadi bangkit juga perlahan-lahan.
Namun, demi menuntaskan rasa penasaran dan ingin tahu di hati, siapa gerangan laki-laki di depanku ini sebenarnya dan mengapa ia sampai mengamuk di kontrakan Intan ini, terpaksa kutahan semua rasa emosi itu.
"Maksudnya? Aku dan Intan menikah tiga bulan lalu. Memang tidak mengundang siapa-siapa, tapi kami menikah secara sah di mata agama. Jadi aku dan Intan adalah suami istri!" terangku tanpa diminta. Aku tak ingin Intan direndahkan begitu saja oleh pria tak dikenal depanku ini. Istri mudaku itu terlalu berharga untuk dihina seperti ini.
Mendengar penjelasanku, lelaki di depanku itu mengernyitkan dahinya lalu menatapku tajam.
"Jadi kau benar-benar suami Intan? Kalau begitu bayar semua hutang-hutangnya padaku! Aku tak peduli dari mana kau dapatkan uangnya dan tak peduli dia ada di mana saat ini, tapi yang jelas kau harus membayar seluruh hutang-hutangnya padaku!" bentak lelaki itu dengan keras tiba-tiba, membuatku mendongak kaget.
"Ma-maksudnya?" Aku bertanya gagap. Rasa cemas tiba-tiba menghantui.
"Jangan bilang kau tidak tahu di mana Intan saat ini berada! Bukankah dia istrimu? Tapi aku tidak peduli di mana dia sembunyi asal kau siap membayar semua hutang-hutang perempuan sia**n itu padaku! Enak saja dia! Sudah berhutang banyak, sekarang kabur begitu saja. Dasar perempuan r*ndah!" Laki-laki di depanku itu memaki lagi dengan nada penuh amarah.
Aku menghela nafas yang tiba-tiba terasa sesak. Jadi, laki-laki ini hendak menagih hutang pada Intan sehingga ngamuk-ngamuk begini saat Intan tak ditemukan? Tapi hutang untuk apa sebenarnya? Apa tidak cukup nafkah satu juta rupiah yang kuberikan setiap minggu padanya hingga ia masih perlu berhutang lagi pada orang lain?
Lalu apa benar ia punya hutang? Zaman susah begini, banyak pelaku kejahatan rela menggunakan segala macam cara untuk menipu orang lain, tak terkecuali mungkin laki-laki di depanku ini. Aku bukan orang bodoh yang bisa percaya begitu saja ucapannya!
"Apa buktinya Intan pinjam uang padamu? Untuk apa dia pinjam uang? Dan berapa banyaknya?" tandasku tak kalah keras. Sedikit pun aku tak percaya pada ucapan lelaki di depanku ini.
"Ini kuitansi pinjaman istrimu, lima puluh juta rupiah! Untuk apa digunakan oleh istrimu, aku mana tahu dan mana peduli! Aku hanya tahu, pokok dan bunga yang harus dibayar oleh istrimu! Semuanya menjadi seratus lima puluh juta rupiah! Bayar sekarang juga kalau kau masih ingin selamat!" ucap lelaki itu dengan nada keras dan mengancam.
Laki laki itu kemudian menyeringai lebar dan mendekatiku lalu berusaha meraih kerah bajuku. Tetapi dengan cepat aku menghindar. Tak semudah itu aku akan menyerah begitu saja padanya.
Tunggu! Apa katanya tadi? Seratus lima puluh juta rupiah? Gila! Banyak sekali hutang Intan itu padanya? Apa iya? Aku tak percaya!
"Aku tak percaya kuitansi ini! Bisa saja kamu memalsukannya! Lagi pula bagaimana bisa hutang lima puluh juta rupiah bisa menjadi seratus lima puluh juta rupiah? Kamu gila? Nggak! Aku nggak mau bayar!" ucapku dengan nada keras pada laki laki itu.
Namun, baru saja aku berkata seperti itu, sebuah pukulan keras bersarang di pipiku dan membuatku terbanting dengan keras ke arah dinding!