Bukankah hari ini sudah cukup melelahkan? Karena bahkan sekujur tubuh Lamia sudah memohon untuk bisa diistirahatkan.
Tapi, rupanya semua itu belum selesai.
Ketika dia kembali pulang ke rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk dirinya beristirahat, Lamia justru harus berhadapan dengan tingkah kekanakan kakaknya.
"Lihat itu! Adik yang harusnya bela kakaknya, malah tega bikin kakaknya malu di depan orang asing! Apa kali ini juga Mama dan Papa akan tetap bela dia? Aku datang cuma buat minta dibuatkan satu gaun, supaya di keluarga besar nanti dia enggak dipertanyain karena gaunnya enggak aku pakai padahal dia punya butik. Aku berusaha menjaga kehormatan dia sebagai adikku, tapi dia malah nolak aku! Dia bahkan sengaja ngundang orang lain ke butik dan bikin aku malu!"
Jika saja bisa, Lamia sangat ingin berbalik badan dan tidur di apartemen yang baru saja resmi dia sewa. Tidak masalah walaupun di dalam sana masih terdapat banyak debu dan pengap karena belum sempat dia benahi. Setidaknya, itu lebih baik daripada berada di rumah ini dan dituding begitu dirinya menginjakkan kaki ke dalam rumah.
"Mia, apa bener apa yang Venus bilang?" tanya mamanya lembut.
Tapi bagi Lamia, seharusnya pertanyaan itu bahkan tidak ada. Bagaimana mungkin ibunya masih berpikir bahwa itu mungkin terjadi?
"Nggak benar," sangkal Lamia dengan lelah. Dia bahkan sudah tiga kali menghela napas kasar karena tenaganya benar-benar habis tak bersisa.
"Jangan bohong! Semua yang aku omongin itu bener, kan?!"
Melihat kakaknya yang masih sangat semangat menyalahkan dirinya, Lamia membagi tatapan tajam pada wanita cantik yang berbagi dna yang sama dengannya tapi begitu sangat membencinya. "Kalaupun bener, ada bagian yang belum kamu ceritain kan, Ven? Tentang kamu yang dengan bangga dan yakin bilang kalau gaun yang akan kamu dapat dari aku cuma akan kamu pakai selama satu atau dua jam. Bahkan orang awam akan tau maksudnya apa. Kamu cuma enggak mau orang lain punya penilaian salah tentang kamu. Kamu enggak mau orang lain mempertanyakan kenapa kamu pakai gaun dari butik orang lain di saat adik kamu sendiri punya butik. Dan aku masih ingat kalau kamu pernah bilang, enggak akan mau pakai gaun dari butikku yang enggak terkenal." Lamia mengambil napas dan kemudian membuangnya perlahan. "Terus, aku juga enggak pernah undang orang lain datang ke sana buat bikin kamu malu. Sama halnya dengan kamu yang bisa datang begitu aja, dia juga bisa. Orang lain juga sama. Jadi tolong, kalau kamu memang mau bikin huru-hara, jangan sekarang! Aku capek!"
"Aku menghargai kamu! Aku enggak mau orang-orang mempertanyakan hubungan kita nantinya!"
Mendengar hal itu, Lamia hanya bisa mendengus tawa. "Memang ada apa dengan hubungan kita? Selama ini aku enggak pernah punya masalah sama kamu, tapi kayaknya kamu yang selalu punya masalah sama aku. Jadi daripada kamu ngelakuin sesuatu yang enggak perlu, mending kamu mulai berpikir apakah alasan yang kamu punya buat benci sama aku itu, masih relevan sampai sekarang?"
Lalu langkahnya mulai berubah arah. Di melirik ke arah mamanya yang tampak frustasi berhadapan dengan keributan yang selalu sama hampir setiap harinya. "Dan, Ma.. Aku akan pindah ke apartemen yang deket sama butik mulai besok."
Wajah ibunya itu tampak sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Lamia. "Nak, kamu..kamu kayak gini karena kakak kamu?"
"Ma! Kenapa malah jadi aku yang disalahin?! Dia kabur karena dia ngerasa kalau dia salah! Dia adalah adik paling kurang aja di dunia ini! Biarin aja dia pergi, itu lebih bagus daripada aku harus tiap hari lihat mukanya yang nyebelin itu! Aku enggak mau mood ku menjelang pernikahan jadi buruk karena dia!"
"Venus! Jaga bicara kamu!" Mamanya berteriak, hingga membuat Venus langsung diam dengan tatapan tidak puas.
Sedangkan Lamia hanya bisa memijat pangkal hidungnya. Sungguh, dia sangat lelah.
"Aku banyak pekerjaan dan enggak ada waktu buat bolak-balik dari rumah ke butik, Ma. Makanya itu aku milih sewa apartemen sementara waktu sampai pekerjaanku lebih berkurang," kilah Lamia kemudian. Dia tidak ingin membuat mamanya menjadi semakin khawatir jika tahu, bahwa dirinya benar-benar pergi ksrena tidak tahan dengan tingkah Venus yang mulai keterlaluan belakangan ini.
Tapi rupanya, mamanya tidak sepenuhnya percaya. Namun juga tidak ingin mendebat Lamia lebih lama, sehingga wanita itu kemudian hanya mengangguk dengan wajah lesu.
"Mama akan bantu kamu packing barang-barang kamu dan nanti Mama juga akan antar kamu ke apartemen kamu ya!"
Mengulas senyum kecil, Lamia kemudian mengangguk. "Iya, Ma."
*
Lamia mengambil cuti satu hari untuk membenahi apartemen barunya. Bersama dengan bantuan kedua orang tuanya, dia berhasil memindahkan sebagian barang dari kamarnya ke unit apartemen yang akan dia tinggali.
"Kamu beneran enggak mau Mama bantu beresin barang-barang ini?" tanya mamanya.
Tapi Lamia tetap menggeleng. "Mama sama Papa pasti udah capek banget karena harus bantu aku angkut barang ini naik. Mama sama Papa udah bisa pulang, kalian istirahat aja!"
Mendengar ucapannya, mamanya itu bergerak memeluk tubuhnya. Mengusap punggungnya perlahan. "Mama Minta maaf karena bikin kamu enggak nyaman di rumah. Mama dan Papa udah sering tegur Venus, tapi anak itu masih belum berubah juga."
Mata Lamia melirik ke arah papanya yang ikut menghela napas kasar.
"Bukan salah Papa sama Mama. Aku yang salah karena kupikir, Venus udah bisa maafin aku."
"Tapi itu juga bukan salah kamu, Mia! Memang siapa yang bisa menentukan kapan dia akan kena musibah? Dari dulu, ini adalah salah kami karena terlalu memanjakan dia dulu, sebagai anak sulung. Dia jadi manja dan enggak dewasa, bahkan sampai sekarang di saat dia akan menikah. Papa akan bilang ini sebagai bahan pertimbangan, kembalilah ke rumah kalau kakak kamu itu udah menikah dan ikut suaminya."
Padahal itu juga rencana Lamia saat dia memilih menyewa tempat tinggalnya sendiri, tapi dia tidak menduga jika papanya akan berkata seperti itu juga. Setidaknya, keberadaannya masih diharapkan oleh kedu orang tuanya ini.
"Iya, Pa. Itu nanti bisa dipikirin lagi. Sekarang, Papa sama Mama pulang aja ya! Barangnya juga enggak terlalu banyak, jadi aku bisa buat beresin semuanya sendiri."
Walaupun mamanya masih enggan untuk pergi dari sana, tapi akhirnya mereka meninggalkan ruang kecil yang akan menjadi tempat tinggal Lamia ke depannya untuk beberapa saat.
Lamia mulai membuka kotak-kotak yang mengemas semua barangnya. Dia memindahkan pakaian dari koper ke arah lemari dan juga semua barang yang dia letakkan di dalam kamar. Sedangkan untuk bagian di luar kamar, hampir tidak ada barang yang Lamia bawa dari rumah orang tuanya. Hanya satu sofa bed kesayangannya yang tidak muat dia letakkan di dalam kamar.
Kegiatan melelahkan itu memakan waktu nyaris setengah hari. Lamia baru bisa bernapas lega saat jam menunjukkan pukul empat sore. Dia melirik pada kantong sampah, mengambilnya dan kemudian berjalan keluar untuk membuang itu.
Tapi begitu dirinya membuka pintu, pintu lain yang ada di depan unitnya juga terbuka.
"Oh? Tetangga baru ya!" Seru seorang lelaki berambut cepak yang mengenakan celana pendek selutut.
Wajahnya termasuk tajam, tapi senyumnya itu berbanding terbaik dengan aura yang muncul secara alami dari tubuhnya yang tinggi tegap, seperti seorang prajurit.
"Halo, Mas! Saya Lamia, yang akan tinggal disini." Sapa Lamia sopan.
Lelaki di depannya itu mengangguk paham. "Saya Vadel. Salam kenal ya, Mbak! Kalau Mbak nanti perlu sesuatu, Mbak bisa tekan bel unit saya."
Lamia hendak membalas ucapan ramah dari Vadel saat sebuah suara terdengar dari ujung lorong.
"Sayang!"
Mata Lamia melotot. Bahkan ada dorongan dalam dirinya untuk langsung melemparkan sampah yang dia pegang, ke arah Ruu yang tengah berjalan dengan percaya diri menghampirinya.
"Oh? Ini tetangga unit kamu ya?" tanya Ruu. Senyumnya terulas pada lelaki yang berhadapan dengan Lamia. "Selamat sore, Mas! Saya pacarnya Lamia. Ke depannya, saya minta tolong untuk bantu Lamia kalau pacar saya ini butuh bantuan ya, Mas!"
Tidak ingin mendengarkan kalimat menggelikan itu lebih banyak lagi, Lamia kemudian langsung menarik tangan Ruu masuk ke dalam unitnya. Dia bahkan melupakan sampah yang ingin dia buang.
"Maksud kamu apa sih?! Apa ini bentuk balas dendam kamu karena dulu aku tolak? Kamu mau aku enggak bisa punya pacar sampai tua nanti? Iya?!" Lamia merasa marah, karena sikap Ruu ini sangat tidak sopan.
Mereka baru bertemu lagi setelah sekian lama, tapi Ruu malah melakukan hal yang tidak Lamia izinkan.
Tapi lelaki itu justru menatapnya dengan tatapan sendu, seolah dirinyalah yang tengah terluka.
"Kenapa dari awal ketemu, Mbak selalu bilang kalau saya mau balas dendam? Padahal seujung kuku pun, saya enggak pernah punya pemikiran begitu."
Lamia berdecak. "Terus apa maksudnya yang kemarin dan sekarang? Di depan agen properti dan di depan tetangga baru aku, kamu bilang kalau kamu pacar aku! Aku bukannya berharap buat dapat pacar siapa aja, tapi dengan sikap kamu yang kayak gitu, itu menutup akses orang lain atau akses aku sendiri buat dekat dengan orang lain. Apa kamu tahu, kalau di usiaku yang segini aja aku udah dikatain perawan tua karena enggak pernah pacaran?! Kalau kamu malah begitu, yang ada aku beneran enggak akan bisa nikah dan bener-bener jadi perawan tua!"
Kepala lelaki itu bergerak miring dengan tatapan bingung. "Kenapa Mbak jadi perawan tua? Saya bertindak begitu bukan karena dendam, tapi karena saya rasa Mbak enggak perlu susah payah menjalin kedekatan dengan orang lain."
"Hah!" Lamia mengesah kasar. "Jadi maksudnya, aku enggak usah deket sama orang lain dan cuma perlu deket sama kamu akan, gitu?" Itu adalah pertanyaan sarkas karena dia kesal dengan tingkah laku Ruu yang seenaknya.
Tapi tanpa dia sangka, Ruu malah mengangguk dengan yakin.
"Saya akan kasih dan lakuin apapun yang Mbak mau. Cukup sama saya aja, Mbak. Jangan sama yang lain."
**