"Aku akan menikah." Ruu mengabaikan pisau di tangan ibunya yang jatuh ke lantai, juga ayahnya yang tersedak sesaat setelah minum air putih darii gelas miliknya. "Karena itu, aku mau minta Papa sama Mama buat nemenin aku ngelamar Lamia." Ibunya terperangah. "Kamu serius? Beneran enggak cuma bercandain kita doang, kan?" Kepala Ruu menggeleng pelan, dia lebih dulu meneguk air putih miliknya sebelum menjawab. "Buat semua hal yang berhubungan sama Lamia, aku enggak mungkin bercanda, Ma. Aku sama dia kemarin juga udah beli cincinnya, aku minta dia yang pilih sendiri supaya sesuai sama seleranya. Tapi.." kini Ruu menghela napas hingga membuat kedua orangtuanya berpandangan dengan bingung. "Lamia cuma milih cincin tipis yang permatanya satu. Padahal aku pengen kasih yang terbaik buat dia, yan

