pagi saya berangkat kesekolah bersama Wijaya, dari rumah ke sekolah jarak tempuh sangat jauh, kami pergi ke sekolah dengan berjalan kaki karena kendaraan masih minim.
setiap perjalanan ke sekolah saya bertemu teman-teman yang kesekolah juga, kami berangkat kesekolah ramai-ramai.
tidak terasa lelah kami pun sampai disekolah, lega rasanya sampai disekolah, saya langsung masuk kelas dan duduk kecapekan.
tidak lama kemudian bel pun berbunyi tanda masuk kelas, menunggu ibu guru masuk kami tertawa bercanda.
ibu guru masuk kelas, selamat pagi ibu guru, selamat pagi anak-anak.
mulai berlajar berhitung, saya masih duduk di kelas satu SD sedang kakak saya Wijaya kelas empat.
selesai belajar bel berbunyi bertanda waktu pulang bagi kelas satu.
saya pulang terlebih dahulu, kakak masih di kelas pulangnya jam dua belas tiga puluh.
saya pulang dengan berjalan kaki bersama sama teman sekelas saya.
dalam perjalanan pulang kerumah teman mengajak saya, hai lihat Disana ada buah jeruk kita minta yukkk haus NII,
yuk kita coba panggil orangnya ada nggak iya hehehe saya tertawa, kami manggil orangnya dan keluar kenapa nak? kata yang punya ladang jeruk tersebut.
kami minta buah jeruk boleh? boleh boleh ambil lah, pelan-pelan iya ngambilnya jangan sampai patah, iya nak, iya,,
kemudian saya mengambil empat biji jeruk dan teman-teman mengambil buah jeruk cukup banyak,
terimakasih ibu buah jeruknya, iya nak pelan-pelan hati-hati dalam perjalanan pulangnya yaa,
kami melanjutkan perjalanan pulang kerumah sambil makan buah jeruk, cuaca panas jeruk sangat manis sekali sehingga habis semua jeruknya di makan.
sampai di tempat yang teduh kamu duduk istirahat sejenak,
kemudian kami melanjutkan perjalanan kami, penempuh perjalanan yang mendaki dan jauh. cukup melelahkan,
sampai dirumah aku makan karena sampai dirumah sudah jam sebelas lewat, selesai saya istirahat duduk menunggu kakak pulang aku bermain sama adik ku.
tak lama kakak pulang makan siang, selesai Wijaya makan saya ikut kakak saya dengan mengembala sapi ke perladangan yang banyak rumput-rumput agar sapi biasa makan, dengan membawa karung untuk tempat rumput untuk makan sapi pada malam hari nya.
dalam perjalanan keladang Wijaya membawanya dan saya ikut dari belakang sambil bernyanyi disini senang Disana senang dimana-mana hatiku senang,
nah disini saja kita ikat tali sapi dulu ya, kemudian kita ngambil rumput Disana iya uda.
saya bersama Wijaya mengambil rumput untuk dimasukkan ke karung, asyik mengumpulkan rumput-rumput sampai karungnya penuh,
akhirnya selesai karung penuh, kita nunggu sapi kenyang, saya memanjat pohon dan duduk Disana sambil menikmati angin sepoi-sepoi dari atas pohon, sejuknya duduk disini, Uda saya memanggil kakak saya Wijaya, apa sinilah duduk disini saja, sejuk dibawah sana panas,
Uda naik ke atas pohon jambu air yang rimbun, coba ada buah ini jambu enak iya uda bisa makan buah jambu apalagi cuaca panas gini? iya ini sebentar lagi berbuah masih berbunga.
sudah kita pulang kayak sudah sore ini matahari sudah reda, ayo kita pulang, pelan-pelan turunnya Tika, iya uda.
sampai dibawah saya sama Wijaya membawa rumput, rumput yang dalam karung saya angkat dan letak di atas kepala, sedangkan Wijaya sambil memegang tali sapi dagar sapi tidak jauh-jauh.
dalam perjalanan pulang saya terpeleset dan jatuh, hahahaha ketawa kakak ku Wijaya, iiii Uda bantu aku angkat karung ini,
kamu angkat karung itu ke atas batu tu, Terus angkat kepala, iya iya jawab ku.
sampai dirumah saya meletakkan karung dibawah, saya langsung kerumah melihat jam sudah pukul empat lewat , lalu melihat ibu sedang mengupas singkong untuk diparut bikin kerupuk singkong besoknya.
saya menanyakan ibu sini Tika bantu ngupas singkongnya, oooya ini bantu ibu boleh cepat selesai, iya ibu,
Wijaya dia membersihkan kadang sapi, mengambilkan kotoran sapi dan di buang kebelakang kadang sapi,
Wijaya mencuci tangan kakinya lalu membantu saya mengupas singkong sedangkan adik ku amzal mencucinya.
ibu kerumah iya ibu masak, kalian selesai kan ini,! iya ibu jawab Wijaya.
hari sudah sore saya dengan cepat begitu mengupasnya, aduh kenapa Tika tanya Wijaya? ini tangan aku kena pisau Uda, alah pelan tika coba lihat, lalu Wijaya mengambil obat merah bahasa kami (batadine) lalu tangan saya di Palut.
pelan-pelan Tika, iya uda. untung luka kecil
selesai mengupas Wijaya melanjutkan mencucinya, saya kerumah langsung kedapur membantu ibu masak,
selesai masak saya mencuci piring lalu mandi, dingin airnya yang jernih asli air dari pergunungan, selesai mandi saya duduk dijendel sambil mendengarkan radio, karena televisi tidak punya dan listrik masuk minin,
sudah magrib saya menghidangkan makanan untuk makan malam bersama, sini kita makan lagi kata ayah ku.
selesai makan saya membersihkan semuanya, ayah memarut singkong tadi, dan saya masuk kekamar belajar, saya belajar bersama kakak membaca perkalian,
saya malah bercerita sama Wijaya coba kita punya televisi bisa nonton, cuma dengar dari radio tidak bisa melihat gambarnya Uda, iya sabar saja mudah-mudahan ayah sama ibu ada rezeki bisa beli tv.
sudah belajar coba baca dari perkalian satu sampai lima dulu, sudah bisa kan? mmmmmm iya aku coba iya uda.
nahhh pintar kata kakak ku, sudah sekarang kita tidur iya,,,, besok cepat bangun nanti telat kesekolah, iya uda aku tidur.
saya tidak bisa tidur karena mikirin kapan iya punya televisi bisa nonton film India aku kan suka film "Sahrul Khan" dalam hati ya Allah lancarkan Rezki kedua orang tua ku.
bangun pagi saya pergi ke sumur mencuci piring lalu mandi, mbrrr dinginnya air, sampai dirumah kedinginan saya bergegas memakai pakaian seragam sekolah.
Tika? iya ibu, makan lagi sebelum berangkat kesekolah, iya ibu ini lagi nyisir rambut.
saya makan pagi sedang kan Wijaya pergi mandi, selesai makan saya memakai sepatu menunggu kakak selesai makan, Tika tunggu Uda makan dulu kita berangkat bersama sama.
saya turun dari tangga nunggu kakak di halaman rumah, ayooo kita berangkat sekolah, ibu kami pergi iya iya hati-hati jalan berlari, iya ibu, assalamualaikum "wa'alaikumsalam"
perjalanan jauh kesekolah dalam perjalanan ketemu teman yang lainnya, kami beramai-ramai kesekolah sambil bercanda gurau, senang bahagia kesekolah ramai-ramai gini bisa bercanda gurau.
lelah pun tidak dirasakan lagi kesekolah ramai-ramai seperti ini, iyee sampai disekolah.
kami masuk ke kelas masing-masing meletakkan tas sekolah di meja, kemudian saya keluar lagi main diluar sebentar menunggu bel berbunyi.
bel berbunyi kami masuk kelas, duduk menunggu ibu guru masuk kelas, dimana ini ibu guru kok belum masuk juga iya, ketua kelas pergi keruang guru
ibu agama ada ibu, ketua menanyakan kepada guru yang lainnya, tidak ibu ada halangan tidak hadir hari ini, oooya lah ibu,
ketua kelas kembali ke kelas guru agama kita tidak hadir, Yeyeye betapa senang kalau guru tidak ada datang.
sudah jam sepuluh siang waktu nya pulang, seperti biasa pulang dengan berjalan kaki, menempuh jarak yang cukup jauh dari sekolah kerumah.
sampai dirumah makan cuci piring kemudian saya istirahat menunggu kakak pulang dari sekolah.
saya bermain dihalaman rumah, setelah kakak pulang sekolah Wijaya makan siang selesai makan pergi lagi ke ladang membawa sapi dan mencari rumput untuk makan sapi.
sampai diladang saya mengambil rumput -rumput dan dimasukkan kekarung sampai karungnya penuh, setelah penuh.
Uda Disana ada jambu itu? aku kesana ya ngambil buah jambu, iya hati-hati.
lalu saya memanjat pohon jambu, aduhh tinggi juga pohon jambu ini, saya terus manjat sampai di atas.
saya duduk diatas pohon jambu sambil makan buah jambu biji, uda sini lah masih banyak buah jambu mau? iya tunggu sebentar.
sebentar lagi uda kesana, naah akhir penuh karung ku kata Wijaya.
Tika mana minta uda jambunya, saya masih duduk di atas pohon jambu saya mau turun agak susah, aduh saya terpeleset jatuh untung sudah didekat dan tidak terlalu tinggi jatuhnya,
nah tu kan pelan-pelan tika, iya sudah aku salah injak kaki ku salah, adu sakit.
akhirnya saya duduk, coba lihat sini kamu apa yang sakit coba lihat.
tidak apa-apa Uda untungnya jatuh dari di dahan yang rendah ini, ya Allah untung tidak patah kaki ku ini, kalau patah saya merepotkan orang tua saja, kata saya dalam hati.
saya duduk istirahat dibawah pohon jambu sampai sapi makan dengan kenyang,
cuaca terasa dingin, kita pulang lagi yuk Tika sudah sore, dengan mengangkat karung ke atas kepala, lalu jalan pulang dengan berlahan lahan lahan.
sampai dirumah sudah jam lima sore saya masuk kerumah membantu ibu masak,
selesai masak saya mandi mencuci piring kotor,
menunggu waktu magrib saya duduk di jendela sambil mendengar radio, cerita sama kakak.
begini ayah sama ibu kerja diladang di sawah tiada kata lelah, kita bersyukur bisa sekolah, walaupun orang-orang mengejek kita tidak akan bisa kita sekolah yang penting kita bersyukur punya orang tua bekerja keras.
sudah magrib saya menghidangkan makanan untuk makan malam bersama sama, senang makan bersama sama seperti ini.
selesai makan saya masuk kamar belajar bersama kakak ku Wijaya dan adik ku amzal, walaupun adik belum masuk sekolah namun dia ikut belajar.
saya ngantuk dan tidur,,,
bangun paginya saya mandi terlebih dahulu kemudian makan pagi, menunggu kakak mandi dan makan pagi.
kami berangkat kesekolah bersama-sama dengan berjalan kaki.
sampai disekolah bel berbunyi saya masuk kelas lagi,,, belajar matematika dengan satu persatu maju ke depan membaca perkalian.
Yeyeye bel berbunyi pulang,,, bertapa senang kalau bel pulang berbunyi, saya pulang dengan berjalan kaki, kejar aku nah sini saya kejar kami berlari lari, alahh capek istirahat dulu lah, sampai dibawah pohon beringin yang sejuk kami istirahat Disana duduk.
panas menyengat terik matahari begitu panasnya..
yuk kita jalan lagi, tunggu lah sebentar panas bangat, kata teman ku. saya duduk menunggu, yang ada dipikiran saya cuma satu cepat sampai bisa istirahat aku bantu ibu banyak kerjaan aku, saya berkata dalam hati.
teman-teman mengejek saya sampai menyebut nama orang tua saya, saya diam.
mereka masih mengejek akhirnya saya marah, saling ejek diantara kami, teman saya marah karena saya menyebut nama orang tua nya.
marah kan? tadi ngapain nyebut nama orang tua ku? tanya ku sama teman ku itu,
terjadi pertengkaran antara kami, saya menangis. mereka mengejek saya lagi, saya dibilang cengeng. tak lama datang rombongan kakak ku bersama teman-temannya.
hidung perdi berdarah, kenapa?
mereka berlari menghampiri kami, nah kenapa ini tika menangis? kalian apa kan adik ku tanya kakakku dengan nada tinggi, semuanya terdiam.
ayo jawab kalian apakah adik ku, saya cerita sama uda, mereka mengejek ku menyebut nama ayah Uda? siapa yang mengejek adik ku? jawab sebelum aku marah.
maaf bang kita minta maaf kata teman-teman saya itu kepada kakak saya, kalian ini dorrr Wijaya memukul kepala teman saya Riki, dia menangis kesakitan lalu dia pergi berlari pulang kerumah.
sudah sudah jangan berkelahi kata teman-teman Wijaya yang lainnya, sudah yuk kita pulang lagi, yang tika tidak apa-apa, sudah yukk kita pulang?
dalam perjalanan pulang kami dihadang sama kakak teman saya tadi yang ditonjok oleh kakak ku.
siapa yang mukul adik aku? kami diam dia memegang rantai anjing, lalu di panggilnya kakak ku dan teman-teman yang lainnya, itu itu sini lalu mereka mendekat dan dia langsung memukuli pakai rantai anjing namu yang terluka malah sepupuku.
waduh hidungnya berdarah bantu-bantu cepat itu kata kakak ku Wijaya kepada kami, ayo ayo cepat bawa dia pulang itu, kami melihat hidungnya mengeluarkan darah.
dia langsung lari kerumahnya melihat darah banyak keluar dia ketakutan orang tuanya pun terdiam tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
kami pulang membawa sepupu ku terluka, kami berjalan dengan cepat agar cepat sampai dirumah kakak sepupuku.
sampai dirumahnya paman paman saya teriak memanggil paman, iya paman buka pintu masuk lah.
astaghfirullah, ini kenapa berdarah? kata paman, kenapa bisa apa cerita kok sampai seperti ini, paman marah melihat anaknya berdarah, baju baju sudah merah Ken darah.
Wijaya menceritakan semua apa yang terjadi, begini paman tadi pulang sekolah Tika di ejeknya sampai menyebut nama orang tua kita dan dia juga bercandanya sudah melebihi sampai Tika menangis,
terus iya mengejek Tika lagi iiii kamu cengeng cepat menangis kamu bodoh begitu.
nah kami pulang melihat kok Tika belum sampai dirumah masih duduk dipinggir jalan menangis, aku tanyalah sama mereka siapa yang menganggu adikku! mereka dia.
aku marah temannya tika ceritakan semuanya, jadi aku tonjok kepalanya, lalu dia menangis berlari pulang eeeh tahunya dia mengadu ke kakaknya.
dan kami di hadang jalan pulang dia bawa rantai anjing itu, dia mau Mukuli aku malah perdi yang kena, dia melihat perdi berdarah dia pergi masuk kerumahnya, orang tua nya diam saja.
oooya sudah besok paman kerumahnya, kenapa Mukuli orang pakai rantai memangnya kalian binatang, kata paman.
sudah sekarang kalian makan dulu sebelum pulang kerumah, tidak usah paman kami pulang saja, etz makan dulu? kata paman.
kami pun makan terlebih dahulu sambilan nonton film India hahaa sampai film nya habis saya kan paling suka film Sahrul Khan itu film kesukaan saya.
karena dirumah tidak ada televisi jadi tidak bisa nonton film berita, saya hanya mendengar dari radio saja.
paman kami kami pulang, iya besok pergi sekolah tunggu saja di pinggir jalan kita pergi sekolah bersama iya, biar paman jelaskan sama orang tua nya.
jangan takut sama paman perginya, iya paman.
saya pulang kerumah, bagaimana ini Uda kita pulang sudah terlambat ini sekarang sudah jam dua, tidak apa-apa nanti kita bilang saja paman nyuruh makan makanya jadi lambat pulang.
assalamualaikum,,,, wa'alaikumsalam jawab ibu kenapa terlambat pulang hari ini? Oya ibu tadi mampir dirumah paman kami disuruh makan dulu jadi kami makan sambil nonton disana ibu.
ooiya sudah ganti baju, tika bantu ibu ngambil singkong diladang ayah belum pulang dari sawah, ayah ke sawah ibu tanya Wijaya, iya.
aku mengambil rumput sekalian bawa sapi iya ibu, iya hati-hati iya nak.
ayo bu pergi, bawa karung kecil itu tempat singkongnya, cangkul bu, cangkul ad diladang.
saya sama adik saya amzal ibu keladang, mengambil singkong.
dalam perjalanan keladang ada pohon jambu saya mau manjat ngambil buah jambu sudah sini ibu ambilkan, nah ini kasih amzal, iya.
sampai diladang ibu mencabutkan batang singkong, amzal mengambil isinya saya masukin kekarung.
ibu ini sudah penuh karungnya, ikatkan pakai tali, nanti kamu bawa satu karung ibu bawa satu, amzal bawa yang dalam kantong plastik itu saja.
jangan banyak ngisi untuk amzal nanti jatuh tidak kuat dia bawanya, iya Bu dikit sisa-sisa isi karung tadi lah.
pelan-pelan jalan penurunan, saya pulang dengan membawa singkong dalam karung dijunjung di atas kepala.
sampai dirumah saya mengupas singkongnya, amzal membantu mencucinya, tunggu uni ambil baskom besarnya dulu tempat singkong untuk dicuci.
saya mengangkut air dengan ember untuk mencuci singkong dari sumur dibelakang rumah bawa ke depan rumah.
saya kecapekan, uni ngupasinnya amzal nyuci iya? iya uni.
saya mengupas kan singkongnya, sedang hari sudah sore sudah jam lima lewat, nahh itu Uda pulang ada Uda membantu ku mengupasnya kata saya dalam hati.
ayah sudah pulang dari sawah, apa itu! ngupas singkong ayah, pelan-pelan nanti terluka tangan.
Wijaya sudah sampai didepan rumah ia langsung membersihkan kandang sapi membuang kotoran sapi, setelah selesai ia mencuci tangannya.
ada pisau lagi uda bantu ngupasinnya, ini uda.
semua selesai dikupas, sudah jam berapa ini amzal kamu pergi mandi duluan iya sudah sore, iya uni.
saya sama Uda mencuci singkong, akhirnya selesai saya kerumah langsung kedapur membantu ibu masak, sudah pergi mandi sudah sore biar ibu masak ini.
saya pergi mandi, dinginnya air sumur di sore hari apalagi di pagi hari, karena air sumur mengalir langsung dari pergunungan.
setelah memakai baju duduk mendengar radio menunggu waktu magrib.
azan magrib sudah dikumandangkan saya menghidangkan makanan makan malam, menunggu ibu sama ayah selesai sholat kami duduk didepan piring masing-masing.
setelah ayah ibu selesai sholat kami baru makan bersama sama, senang rasanya makan bersama seperti ini.
selesai makan saya membersihkan tempat makan, lalu saya pergi memarut singkong, karena tidak ada mesin parut singkong jadi singkong diparut pakai tangan.
saya bergantian sama Wijaya sedangkan ayah sama ibu masih duduk istirahat seusai makan tadi.
sudah sudah sini ayah parut kalian belajar sana ada pr sekolah? tidak ayah, iya sudah sana kekamar belajar besok mau kesekolah, iya ayah.
saya sama Wijaya masuk kamar belajar karena sudah jam delapan lewat say belajar cuma sebentar jam sembilan saya tidur.
bangun pagi saya langsung mandi dan sarapan pagi, makan dulu sebelum berangkat kesekolah? iya ibu.
ibu kami berangkat kesekolah? iya, assalamualaikum? wa'alaikumsalam hati-hati.
Rik ketakutan dan tidak masuk sekolah!
saya berlari lari ke sekolah, ooya kita mampir dirumah paman ingat pesan paman kan kemarin? iya uda. ternyata paman sudah menunggu kami di pinggir jalan, ayo kita berangkat bersama.
nanti jangan emosi biar paman saja yang berbicara sama dia iya, kalian diam saja kata paman, sampai dirumah teman saya yang memukuli perdi, kami berhenti mampir Disana.
dimana Rik kata paman sama orang tua nya, Oya dia sudah pergi sekolah, kalau Yos kemana? dia pergi kata orang tua nya, dia ketakutan sehingga orang tua nya berbohong kepada kami.
akhir paman berbicara sama kedua orang tua nya, ini kasih tahu sama Yos kenapa dia Mukuli anak ini pakai rantai, anak saya sampai berdarah hidungnya.
hari itu kalian kan melihat mereka kenapa tidak ditegur, tanya paman sama orang tua nya, mereka hanya bisa diam tidak bisa menjelaskan apa-apa.
kemudian ajari Rik untuk tidak mengejek Tika lagi sampai menyebutin nama orang tua segala, tidak boleh seperti itu bilang sama dia, kata paman.
iya iya nanti saya sampaikan sama Yos dan Rik biar saya kasih tahu jawabnya, coba dari kemarin tegurkan mereka tidak akan seperti ini jadinya, saya marah karena dia Mukuli mereka pakai rantai itu yang bikin saya marah kepadanya.
iya maaf pak atas kesalahan anak saya, saya tidak tahu kalau menjadi begini, dengan gemetar tangannya meminta maaf kepada paman saya.
lain kali masih juga anak kamu mengejek mereka aku tidak segan segan membalas memukulinya, kata paman dengan nada tinggi. iya pak maaf nian sampai ibunya menangis minta maaf.
sekarang iya sudah saya sudah memaafkan kalian tapi ingat kalau masih mereka seperti itu lagi, saya akan cari dia sampai dapat, iya pak, iya pak.
lalu saya sama paman melanjutkan perjalanan ke sekolah, ini pasti terlambat kita, sudah tidak apa-apa paling terlambat berapa menit.
kalian kalau ada apa-apa bilang sama paman biar paman ngasih mereka pelajaran, iya paman, sudah jangan takut lagi, sampai di sekolah kami terlambat orang-orang sudah masuk ke kelas semua.
saya pun berlari bergegas masuk kelas, paman menghadap ke kepala sekolah menyampaikan yang terjadi sama kami kemarin.
saya dan yang lainnya masuk kelas, sampai di kelas saya lega ibu guru belum masuk kelas, saya melihat teman-teman saya Rik kemana tidak nampak? oo dia tidak masuk.
ternyata orang tua nya berbohong kepada kami tadi pas dirumahnya, dia ada dirumah berarti dia mendengar percakapan paman sama orang tua nya, saya bicara dalam hati.
Oya itu kenapa iya orang tua nya perdi datang ke sekolah juga ada apa? tidak masalah apa? jawab saya, apa masalah kemarin yaa? emang apa masalah kemarin? perdi dipukuli sama kakaknya Rik pakai rantai anjing terus mengenai hidungnya mengeluarkan darah yang banyak.
tadi pagi kami mampir dirumah nya Rik tapi kata orang tua Rik dia sudah berangkat kesekolah? kakak nya pergi tidak ada dirumah katanya orang tua nya.
ooooo mungkin ini lah alasan dia tidak masuk hari ini? mungkin juga, soalnya tadi pagi paman marah dengan nada tinggi gitu ngomong sama orang tua nya.
iya sih bercanda berlebihan gitu iyalah, siapa yang tidak marah aku dibilang gitu aku marah juga sama dia, kata teman ku.
assalamualaikum,,, wa'alaikumsalam ibu guru, hari ini kita olahraga bermain dihalaman sekolah, benar ibu guru kita keluar dengan senang belajar di luar kelas, karena selama ini dialam kelas terus kita bosan.
kami bermain diluar ruangan, kita bermain sambil menanam bunga ya anak-anak? baik ibu.
minggu besok kita ujian jadi ibu mau mengambil nilai praktek kalian semua dengan berolahraga dengan senam bersama, selesai senam kita bercocok tanam dengan menanam bunga.
selesai mengambil nilai kami semua menanam bunga.
Alhamdulillah selesai boleh pulang ibu guru, nah bagus sekarang kalian boleh pulang jangan lupa belajar iya minggu depan kita ujian, iya ibu guru.
yeyeeye kita pulang,, saya pulang duluan sama teman, sampai didepan rumah nya rik saya tidak melihat rik ya? sambil berbicara sama teman lainnya.
mungkin dia takut itu sama paman kamu, iyakan salah sendiri kenapa mukul orang pakai rantai, itu salahnya sendiri, iya sudah mudah mudahan besok dia masuk sekolah.
sampai dirumah saya ganti baju lalu makan, selesai makan saya bermain dihalaman rumah bersama amzal, saya main dengan anak anjing yang masih kecil imut imutnya ini anak anjing.
kaki kakak'ku diinjak sapi
asyik bermain kakak ku pulang, wijaya ganti baju lalu makan siang selesai makan wijaya membawa sapi ke ladang dibelakang rumah.
Tika ini singkong nya dikupas ya, ayah mau mengambil rumput dulu, iya ayah jawab saya.
ibu membuat kerupuk dirumah, saya sama amzal mengupas singkong. selesai mengupas singkong saya mengambil air untuk mencuci singkong tunggu disini iya uni ambil air dulu, nah ini airnya cuci nanti masukkan ke baskom disini iya, uni ambil air lagi untuk mencuci ke dua kalinya.
suara apa sih tolong,,,,tolong,,, siapa yang minta tolong iya saya bertanya tanya dalam hati. Tika suara siapa itu minta tolong, tidak tahu ibu.
lalu saya melihat kebelakang rumah, melihat Wijaya di injak sapi, saya berteriak ibu,, ibu,,, tolong Uda ibu, kenapa itu lihat Uda kata saya.
ibu keluar buka pintu belakang rumah melihat Wijaya diinjak sapi, ibu berlari kebelakang rumah menolong Wijaya, Tika lihat kerupuk sudah masak angkat itu, ibu tolongin Wijaya dulu,,,,
ibu berlari jalan penurunan sampai ibu terguling kebawah astaghfirullah kata saya dalam hati melihat ibu terguling.
saya mengambil kerupuk yang direbus tadi, setelah saya angkat, saya berlari melihat wijaya, hus hus sapi tidak mau beranjak dari injakannya, aduh gimana ini ibu.
Tika kamu tarik tali sapi itu kesana, ibu Mukuli kaki sapi biar beranjak dari injakannya ini.
ibu cemas takut sapi menginjak badan wijaya, posisi Wijaya yang terlungkup sapi menginjak pas dilututnya, untung tanahnya berlumpur jadi kaki Wijaya tidak pecah atupun patah.
Alhamdulillah sapi melepaskan injakannya, ibu menarik kaki wijaya yang terbenam di lumpur, lihat kaki lihat kata ibu dengan perasaan cemas dan khawatir.
tidak apa-apa ibu kaki aku tidak apa-apa ini aku berjalan, kata wijaya, tapi nanti di urut kaki biar tahu apa tidak ada yang sakit patah atau tergilir, iya ibu besok lah sekarang sudah sore, iya besok harus diurut kaki kamu itu.
ibu membawa sapi pulang masuk kandang, wijaya jalan dengan pelan-pelan agar tidak kelihatan jalannya agak pincang karena menahan sakit.
sudah pergi mandi wijaya kata ibu, iya ibu aku membersihkan kotoran sapi dulu nanti ayah pulang lihat kandang sapi kotor begini bisa ayah marah mana ayah capek, iya sudah bersih lah kadang sapi dulu.
saya menyelesaikan mencuci singkong tadi, selesai saya mengangkut singkong kerumah dikit demi sedikit kerumah.
ibu singkong nya disini iya, saya mencuci piring yang kotor, lalu saya membantu ibu masak, kamu masak ini ya ibu mengambil kerupuk yang sudah kering dijemur itu dulu sudah sore.
iya ibu, saya memasak sampai selesai semuanya saya terus mandi, ibu masih mengumpulkan kerupuk yang sudah kering dijemur.
saya membantu ibu menyusun kerupuk, Wijaya apa tidak sakit kaki kamu? tanya ibu, ambil air panas masuk baskom ambil kain kecil, nanti mau tidur di oles oles kaki biar tidak bengkak besok nya.
malam hari selesai makan wijaya langsung mengambil air panas campur air dingin yang disuruh ibu tadi,
untuk apa air kata ayah? tidak ada ayah, karena takut ayah marah.
ibu menceritakan sama ayah kejadian yang terjadi sama Wijaya. besok bawa sama paman Wijaya paman bisa urut tu? kata ayah bawa kesana. pulang sekolah besok mampir dirumah paman mana tahu ada yang retak kita kan tidak tahu, bawa kesana saja.
bangun pagi Wijaya kesekolah, ayah sudah menunggu diruang makan, nah makan dulu sebelum kesekolah! saya makan sama Wijaya, nanti mampir dirumah paman cerita sama paman boleh paman urut kaki, bawa kedokter ayah tidak uang pasti biaya dokter mahal, sekarang bawa ke tempat paman mu itu saja, ngerti? iya ayah nanti kami mampir Disana.
belikan rokok untuk paman kasih kepaman, iya ibu. sudah pelan-pelan. iya ibu assalamualaikum,,,, wa'alaikumsalam..
saya sama wijaya berangkat kesekolah bersama-sama dengan berjalan berlahan-lahan, kayak nya tidak sakit lah kaki Uda Tika, ia apa tidak sakit? kan kaki Uda terbenam di tanah yg lunak jadi tidak sakit, kalau tanah keras oa sakit mungkin patah kaki Uda.
iya tapi ayah kan nyuruh kita mampir dirumah paman? iya kita tetap mampir dirumah paman kok.
dalam perjalanan kesekolah tampak kaki Wijaya berjalan seperti biasa, kayak tidak sakit saja.
sampai disekolah Wijaya pun seperti biasa jalannya, saya memperhatikan cara jalannya Wijaya, kayak biasa saja tidak sakit, kata saya dalam hati.
saya terjatuh dari pohon cengkeh,,,,,,
pulang sekolah saya berjalan dengan pelan-pelan sambil menunggu Wijaya pulang sekolah, dalam perjalanan pulang sekolah kami melihat ada buah Langsat yang menguning, wahh panas gini enak makan buah, yuk kita minta ada orang nya tidak Disana.
kami masuk keladang orang mau mengambil buah Langsat, orang yang punya ladang menyapa kami, apa itu bapak kami minta buah Langsat boleh? OOO mau minta buah langsat, ambil-ambil saja sana.
yeyeeye akhir teman saya yang laki-laki memanjat saya dan yang lainnya mengumpulkan buah yang jatuh ke bawah.
terimakasih bapak? iya nak sama-sama banyak dapat nya, banyak pak.
saya dan teman-teman istirahat dipinggir jalan dibawah pohon yang teduh sambil makan buah langsat, manis iya buahnya?
wooiiiii,,, nah itu rombongan Wijaya sudah pulang? kalian masih disini? iya, ini cicip lah manis Uda.
dimana kalian ambil, itu disana, kalian nyuri yaaaa, tidak itu ada yang punya ladang ada Disana malah kami disuruh ambil banyak banyak.
saya melanjutkan perjalanan bersama rombongan kakakku jadi ramai, sampai dirumah paman,
paman Wijaya mau urut kaki? kenapa Sama kaki mu Wijaya, diinjak sapi, haaa paman kaget. kapan kemarin sore, dimana dibelakang rumah.
kita makan dulu iya ini sudah Zuhur kalian pasti lapar, sini makan bersama paman sini, tidak usah paman kami nonton TV saja nunggu paman, nah itu paman tidak suka seperti itu harus makan, sini makan bersama sama sini, iya paman.
selesai makan saya duduk nonton film India, sini wijaya paman lihat kaki mu, baring sini . saya nonton film kesukaan saya yaitu film Sahrul Khan.
ini kaki tidak apa-apa, nanti bilang sama ibumu cari anak pisang bunga di bakar di atas bara api tunggu dingin lalu dioleskan di kaki mu, ayah kamu tahu itu caranya.
baiklah paman kami pulang dulu paman, iya.
sampai dirumah saya ganti baju lalu makan siang, gimana ada mampir dirumah paman tadi, tanya ibu, sudah ibu apa kata paman.
ooya nanti lah ayah ambil diladang tunggu ayah pulang dari sawah, sapi ibu ikat disamping rumah mudah lihatnya. bantu ibu angkat kerupuk yang sudah kering itu kerumah.
sedikit lagi ibu selesai bikin kerupuk nya, Tika susun kerupuk iya bantu kakak mu.
semuanya sudah ibu, iya sudah biar saja disana.
setelah selesai membantu ibu saya pergi bermain disamping rumah sambil melihat sapi, saya manjat pohon cengkeh.
Tika kamu mana, saya duduk di atas pohon cengkeh sambil tertawa hahaha Uda keliling mencari saya.
astaghfirullah Tika turun nanti jatuh, ia Uda itu dahan banyak yang rapuh mudah patah, cepat turun kata Wijaya.
saya turun dengan melompat dari atas namun baju saya tersangkut saya terjatuh dengan posisi kepala kebawah saya menahan pakai tahan lalu dahan patah saya terjatuh, dengan menahan pakai tangan saya, aduh.
nah itu kan apa kata Uda jatuh, saya kesakitan tangan kanan, Uda sakit mana coba lihat ini tangan kanan aduh kamu itu ngapain juga pakai melompat Tika.
sudah kerumah sana, Uda mau masukan sapi ke kandang lagi sudah sore.
saya kerumah langsung pergi mencuci piring yang kotor. tangan saya gemetar mengangkat baskom isi piring.
Tika kenapa tangan kamu gemetar gitu iya ibu, tidak apa-apa.
nah ini pisang ayah sudah pulang kata saya dalam hati, aduh kalau ayah aku jatuh pasti marah. saya cemas, dengan pelan-pelan saya membawa piring kerumah namun kelihatan sama ibu tangan aku gemetar.
wijaya selesai makan nanti oles di kaki ia, itu Tika kenapa? tidak ada cerita sama ibu, tidak? dia tadi manjat pohon cengkeh ibu turun melompat di atas malah tersangkut bajunya di ranting dan jatuh dia menahan pakai tangannya.
itu katanya sakit tangannya ibu, itu diurut lagi itu bawa tempat paman mu.
siapa lagi yang di bawa urut? kata ayah itu Tika jatuh dari pohon cengkeh kata Wijaya dia ditanya tidak ada, jawabannya tidak ada.
pas makan malam ayah memperhatikan aku melihat tangan aku gemetar menyuapi nasi ke mulutku.
Tika kenapa tangan mu gemetar gitu, nah itu ayah dari ibu lihat tangan gemetar pas menahan baskom tadi
pakai sendok makan dengan tangan kiri, iya ayah tadi aku jatuh. besok Wijaya temani Tika urut kerumah paman mu iya.
iya ayah, sudah sekarang makan dulu to ada yang berbicara makan lagi.
selesai makan saya langsung masuk kamar tidur, Wijaya mengoles obatnya di kaki nya.
bangun pagi saya melihat tangan bengkak, aduh tambah parah ini tangan, saya langsung mandi memegang gayung saja tidak bisa ini bagaimana kata saya dalam hati.
selesai mandi saya pakai baju dan makan, disana kelihatan jelas tangan ku bengkak, nanti urut tangan iya Tika bengkak itu tangan mu, kata ibu.
pulang sekolah saya mampir dirumah paman urut tangan, ini tanganmu tergilir cari anak pisang bunga dibakar dulu seperti obat wijaya kemarin itu juga caranya, bilang saja sama ibu, ibu tahu itu Iyah.
tidak apa-apa besok susut bengkaknya setelah dioleskan obat nantinya.
sampai dirumah saya makan wijaya menceritakan ke ibu obat untuk saya. wijaya nanti selesai makan ambil anak pisang diladang atas sana yang kecil ambilnya iya? iya ibu biar Wijaya ambil nanti.
saya membantu ibu, dengan tangan kiri ku, mencuci piring dengan tangan kiri, semua yang saya kerjakan pakai tangan kiri
memasak pakai tangan kiri, sudah kamu mandi biar ibu masak, ini obat kamu mau di urus.
saya duduk dirumah sambil menunggu waktu magrib, Tika udah magrib ibu sholat dulu hidang makan malamnya ya,,,
selesai makan malam ayah mengoleskan obat tangan saya, aduh sakit ayah, iya dioles obatnya besok susut bengkaknya.
nah sudah pergi tidur sana, hati-hati tidur jangan sampai tersenggol tanganmu tu, iya ayah.
bangun paginya saya melihat tangan wah sudah susut tangan tidak bengkak lagi, iya belum begitu pulih tu.
sarapan pagi saya masih belum begitu pulih tangan untuk makan saja masih bergetar.
nanti kesekolah hati-hati jangan sampai tersenggol sama kawan kamu itu. Wijaya lihat adekmu itu disekolah, iya Bu.
sampai disekolah kami tidak belajar karena hari Senin ujian jadi kami murid membersihkan kelas sampai halaman sekolah, tidak sengaja saya terleset karena licin saya terjatuh.
aduh sakit saya menangis kesakitan,,,, baru saya tangan ini diobati malah tersenggol.
panggil kakaknya Tika? kata ibu guru.
kenapa Tika terpeleset licin orang ini ngumpul s****h Disana. tangan masih sakit kemarin jatuh dari pohon cengkeh buk. oowalah sudah antar lah Tika pulang wijaya, iya buk, hari Senin kita ujian ya?
saya pulang sama wijaya langsung mampir dirumah paman, tangan saya diurut lagi, aduh sakit, saya kesakitan.
ini Sam tiga kali oleskan obatnya ditangan lagi sama kayak kemarin obatnya bilang sama ayah tidak apa-apa, oleskan saja obat herbal sampai tiga kali, ibu tangannya kambuh.