Sarmila berjalan masuk mengendap-endap menuju rumah mewah yang menjadi pemandangannya setiap malam selama satu bulan tinggal di rumah Lina.
Dia celingukan, mencoba mencari satu makhluk hidup yang bernama manusia, sejenis dengannya atau pun lawan jenis pun tak masalah. Asal dia menemukan kaki yang menapaki tanah saja. Rasanya dia dari tadi berjalan di halaman yang luasnya dua kali lipat dari rumah Tantenya itu, dia tak juga menemukan satu pun makhluk bernapas.
Sarmila kembali mengitari halaman luas itu. Dia tak paham, mau berteriak nanti dikira orang gila, mau diam saja yang ada di atak menemukan satu pun penghuni rumah besar ini.
Sarmila menyerah. Gadis itu akhirnya mencoba mengintip dari dinding kaca. Tangannya menjadi topi untuk kepalanya, mencoba untuk melihat jelas ke dalam.
Sesekali Sarmila berdiri, berjinjit untuk bisa mencari tahu dimana keberadaan bel untuk dipencetnya, agar orang yang di dalam pun bisa keluar. Namun, dia menyerah.
“Udahlah! Mana juga sih belnya ini?!” gerutunya yang kesal bukan main.
Kembali dia menempelkan wajahnya pad kaca namun berujung pada gelap saja. Kaca lantai satu rupanya tak tembus pandang!
***
Di sisi rumah mewah itu, terdapat kolam renang yang tengah dipakai oleh pemiliknya. Pria dengan perut six pack sudah berkali-kali berenang, mengitari kolam renang. Dia segera beranjak, menuju kursi santai dan menyambar handuknya.
Pria itu adalah Gentala, CEO yang di bawah 40 tahun sudah memimpin perusahaan besar di bidang industri perhotelan yang memiliki 40 cabang di Nusantara. Pria sukses yang disoroti oleh majalah Forbes bahkan disoroti oleh media-media kancah internasional.
Dia menyugar rambut basahnya sebelum akhirnya mengeringkannya dengan handuk. Lantas dia beranjak, menyudahi sesi renangnya. Sambil menenteng botol minumnya, dia berjalan memutar ke depan. Dia malas untuk lewat pintu belakang. Toh hanya dia seorang yang ada di sini.
Gentala mematung, matanya mengamati pergerakan wanita yang tiba-tiba ada di rumahnya itu. Dia tak pernah mengizinkan siapa pun untuk memijak rumahnya kecuali beberapa orang yang tahu cara membuka pintu gerbang buatannya.
Jelas-jelas tak sembarang orang. Lantas kenapa bisa ada wanita asing yang masuk ke dalam rumahnya.
Gentala masih mengamatinya, berdiri tepat di belakang gadis yang tengah mengintip ke dalam itu.
“Hei! Kamu mau apa mengintip begitu?!”
Suara bass mengejutkan Sarmila. “Emonyong!!! Monyong!” Sarmila kembali latah.
Dia berbalik dan menganga ....
Gentala memasang wajah datarnya saat ini. tangannya bersedekap di d**a bidangnya dan menonton reaksi latah Sarmila.
Gadis dari mana itu?
Pertanyaan itu sekarang memenuhi otaknya, terus menerus tanpa henti.
“Ya Allah! Aku kira enggak ada orangnya duh!” sungut Sarmila sambil mengusap-usap dadanya.
Matanya kini terbuka lebar, tak beralih sedikit pun sambil terus menatap pria yang berdiri di depannya dengan telanjang d**a dan juga hanya mengenakan celana saja. Tubuh pria itu masih setengah basah dicirikan dengan rambutnya yang masih meneteskan sisa-sisa air.
Glek!
Tenggorokannya mendadak kering kerontang saat matanya memerhatikan wajah pria di hadapannya.
‘Alamak!!!’ batinnya menjerit kagum. Meronta-ronta melihat kadar ketampanannya.
Mata coklat dengan alis tebal yang terbentuk simetris, hidung mancung dengan bibir merahnya. Berhiaskan rahang tegas yang kokoh menjadi kombinasi ketampanannya yang baru kali ini Sarmila temui.
Matanya yang sedari tadi memerhatikan wajahnya saja kini mulai turun, dimulai dari leher dengan adam apple yang menonjol menampilkan sikap kejantanan-nya dan kembali turun, menatap bahunya yang berotot lalu d**a* bidangnya dan ... 6 kotak di perut?!
Roti sobek!!!
Selama ini dia kira hanya bisa didapatkan di dalam ponselnya saja. Namun, kini malah mendapati pahatan sempurna itu tak jauh darinya, berjarak kurang dari 2 meter di depannya.
‘Ya Tuhan!!!’ batinnya semkain berteriak nakal.
“Sudah mengaguminya, Nona?” desis Gentala yang memang dapat melihat tatapan kagum pada wanita di hadapannya saat ini.
Dia melihat wanita muda itu menenteng rantang besar di tangannya. Rambutnya terikat asal, berantakan dengan bulir-bulir keringat di wajahnya. Pipinya gembil dan hidungnya mungil dengan mata belo, iris bulat dengan hitam mengkilat bak mata bambi.
Gentala juga ikut memperhatikan Sarmila. Wanita itu hanya mengenakan gaun coklat selutut. Diperkirakan usianya mungkin ... 18 tahun?
Sarmila tertegun. Dia terpergok!
“Ng ....” Sarrmila tak bisa menjawabnya.
Mendadak kosa kata di otaknya berurai, tercecer sampai-sampai dia tak menemukan kalimat untuk menjawabi Gentala.
Otaknya mendadak lemot saat mendapati pria tampan yang ada di hadapannya.
Sarmila menggeleng-gelengkan kepalanya yang mulai berpikiran iya-iya, terutama imajinasinya yang ingin mendorongnya untuk menyentuh perut six pack itu.
“Kenapa kamu bisa masuk ke rumah saya? Mau maling?”
Satu tuduhan yang dilayangkan Gentala membuat Sarmila menggeleng cepat, mengklarifikasi pertanyaan Gentala.
“Bu—bukan! Bukan! Enak saja! Siapa juga yang mau maling rumah situ sih?!” gerutunya membantah.
“Lalu?” Alis kanan Gentala terangkat.
Dimulai dari gestur tubuhnya sampai tatapan matanya, Gentala menunjukkan sisi dominannya.
“I—ini, ini saya mau antar makanan dari Tante Lina. Aku dari tadi nyari-nyari orang, tapi enggak ada! Lagian rumah kok enggak ada belnya sih?! Mana gerbangnya juga enggak tahu gimana mau membukanya!” omelnya panjang lebar, mengingat dia kepanasan di luar karena tak bisa masuk.
Mendengar kata Lina, Gentala paham. Kalau Ibu tirinya lagi-lagi meminta tolong pada tetangganya itu.
“Ya sudah, mana?” pintanya.
Sarmila ragu-ragu. Dia mau memberikan rantangnya namun ... pria ini Gentala atau bukan?
“Eh, sa—saya enggak bisa kasih gitu aja, Masnya Gentala bukan? Nanti malah bukan pemiliknya lagi,” balasnya berkilah.
“Iya, saya Gentala,” jawab pria itu sambil menyambar, mengambil rantang dari tangan Sarmila.
“Mas kok sendirian sih? Yang lain ke mana?” tanya Sarmila yang mendadak ingin tahu.
“Bukan urusan kamu,” balas Gentala yang mencoba membuka pintu rumahnya.
Sarmila spontan mengikuti langkah Gentala.
“Kamu sedang apa?” Gentala mencegah Sarmila, menghadangnya.
“Eh ... itu ... rantangnya, mau saya bawa lagi ....”
Satu alasan!
Sarmila beruntung tak kehilangan alasan seperti tadi. Entah kenapa dia malah bisa-bisanya mendapatkan alasan untuk mengetahui lebih dalam.
Dia sungguh penasaran dengan Gentala masalahnya.
“Nanti saya antarkan, kamu pulang saja sana!” usir Gentala yang akan menutup pintunya.
Srakkk! Tangan Sarmila spontan menahan pintunya.
Dia menyengir lebar, terkekeh canggung. “Hehe, enggak bisa Mas, mau saya bawa pulang. Mending saya bantu pindahin makanannya aja,” tuturnya.
Gentala heran dengan gadis sok akrab ini. Namun, akhirnya dia mempersilakan Sarmila masuk.
“Ayo ke dapur,” ajaknya.
Sarmila masuk ke dalam rumah besar itu. Rumah yang setiap malam dia kira-kira bagaimana isinya, ternyata super mewah sampai bibirnya setengah terbuka tak mampu tertutup sama sekali saat masuk ke dalam rumah Gentala.