Samudra masih bertahan duduk bersimpuh berada di depan pintu rumah Cristal, rasa bersalah kini makin menghantui tak menyangka secepat ini akan terbongkar. Samudra pun merutuki kebodohannya yang susah untuk mengendalikan diri, ia hanya khawatir tak ingin calon anak dalam kandungan Cristal kekurangan suatu apapun, terutama kasih sayang dari kedua orang tua. Ia tak mau anaknya merasakan hal itu, akan sangat menyakitkan tumbuh tanpa keluarga yang lengkap. Samudra pun beranjak dari duduknya menggedor pintu berulang kali, berharap Cristal mau membukanya dan bicara baik-baik mendengar semua penjelasannya, tapi sayang Cristal tak mau membukakan pintu. Jangankan membuka pintu, melihatnya saja enggan. "Cristal tolong buka pintunya, kita harus bicara! Aku tau aku salah tapi tolong beri aku kesempat

