''Cris, ayo kita pulang?'' ajak Gunawan, berjongkok di sebelah Cristal seraya mengusap bahunya. ''Sebentar lagi, Pa,'' ucapnya lirih yang kini masih setia memeluk pusara. Tak peduli pada hujan yang turun mengguyur tubuhnya hingga basah kuyup. Iya, pihak kepolisan memberi Gunawan ijin untuk menghadiri pemakaman Arina sebagai penghormatan terakhir. ''Nanti kamu sakit.'' ''Benar, Cris, Apa yang dikatakan Papa kamu, sebaiknya kita pulang,'' imbuh Leon ikut menasehati. Ia tidak tega melihat Cristal yang terlihat menggigil kedinginan, karena cukup lama Cristal berdiam di sana. Bahkan bibirnya terlihat pucat dan bergetar. Mau tidak mau Cristal pun bangkit, saat Leon dan Gunawan terus mendesaknya dan membantu berdiri ia tidak ingin melihat orang-orang sekitar mengkhawatirkannya. Leon pun mel

