Yasika terdiam di depan api unggun, manatapi cahaya yang menghangatkan tubuhnya. Liam yang duduk di sampingnya ikut terdiam, tidak membuka suara sedikitpun. Ada satu hal yang sebenarnya mengganggu pikiran anak termuda itu, tetapi dia tidak berani untuk menanyakannya pada Yasika. “Tidurlah Liam.” Liam menatap pada Gaelan yang baru saja datang menghampiri mereka berdua, ia mengangguk dan merebahkan dirinya di samping Yasika. “Kalian juga tidurlah.” Ucap Liam, ia melirik pada Yasika yang ada di sampingnya. Namun perempuan itu seakan tidak mendengarnya, dan tetap menatap pada api. Liam pun akhirnya memilih untuk membalikan badannya ke arah lain, dan memunggungi Yasika juga Gaelan. Kedua orang yang berada di hadapan api unggun itu terdiam, cukup lama… Bahkan sangat lama. Yasika tidak pern

