“Sika, bagaimana keadaanmu?” Maddalene bertanya pada Yasika yang masih duduk di tempatnya dan melihati api yang sudah di nyalakan. Yasika mengadah menatap Maddalene yang berjalan menghampirinya dan duduk di samping kanannya. “Lebih baik!” Jawaban itu yang terucap dari mulut Yasika, Maddalene hanya mengangguk mengiyakan dan mengelus-elus punggung tangan Yasika. Ia benar-benar merasa bersalah pada apa yang menimpa pada Yasika, dan Yasika pun tahu jika saat ini Maddalene sedang merasakan sesal di dalam hatinya. “Aku baik-baik saja, Maddalene… Percayalah!” Maddalene mengangguk, namun ia tetap tidak beranjak dari sisi Yasika. Ia tetap bertekad akan menemani perempuan itu sampai mereka sampai di tempat tujuan dengan selamat. Semantara di sisi kanan mereka, di belakang Maddalene… Adhair diam-

