9. Death

1837 Kata
Drap Drap "Hah, hah." Mata Irina menatap sekelilingnya dengan perasaan waspada. Di tengah hujan deras dan petir yang menyambar daratan, Irina yang telah berlari sepanjang waktu akhirnya memutuskan untuk bersembunyi dibalik semak belukar yang ada di hutan kecil dekat jalan desa sepi yang sebelumnya dia lewati. Nafasnya memburu, saat Irina dengan lemah bersandar pada dahan pohon besar untuk melihat luka sobek yang banyak bersarang di tubuhnya. Dia seharusnya tahu, pertemuannya dengan Ava pasti membuat Dominic kesal padanya. Sejujurnya Irina juga heran. Kenapa setelah sekian lama dia mencoba menjauhkan Alexa dari Dominic, lelaki itu baru mengambil tindakan nyata padanya sekarang? Sejak bangun pagi tadi, Irina telah diikuti oleh berbagai jenis orang yang berusaha membunuhnya setiap ada kesempatan. Namun membunuh mantan tentara khusus sepertinya memang tidaklah mudah. Bahkan setelah mobilnya ditabrak dengan keras, Irina buktinya masih bisa melarikan diri walau dengan luka hampir di sekujur tubuhnya. Dia tidak bisa meminta bantuan siapapun di negara asing ini. Polisi tidak akan membantu, Irina pernah mencoba meminta bantuan mereka dulu. Semua orang bertindak seakan mereka patuh pada Dominic, hanya karena lelaki itu memiliki banyak sekali uang disisinya. Mengingat kembali Ava, Irina tersenyum kecil. Ava adalah teman pertamanya di panti asuhan yang jarang diisi oleh wanita. Mereka banyak menghadapi situasi hidup dan mati bersama, keduanya bahkan berjanji akan saling membantu sampai maut memisahkan mereka. Namun kemarin, Ava tidak lagi memandangnya sebagai teman. Wajahnya bahkan penuh permusuhan saat Irina mencoba mengajaknya bicara. Di dunia dimana Irina pada akhirnya bisa sedikit bebas seperti keinginan mereka, Irina tidak menyangka pada akhirnya dia akan mati tanpa bisa memenuhi janjinya pada Ava dan Jake. "Hei, aku akan menyelamatkanmu dari lelaki psikopat itu oke? Kita juga akan mencari jalan keluar dari tuntutan tidak berdasar yang dibebankan padamu. Aku...... Aku tahu kamu tidak akan pernah membunuh Jenderal Hugo, Ava. Aku akan mencari bahwa semua kejahatan itu dilakukan oleh orang lain. Aku akan mengumpulkan bukti apa pun yang kamu butuhkan agar kamu percaya bahwa kamu bersama orang yang salah selama ini. Jadi sampai aku mengumpulkan semuanya dan menemuimu, jangan usir aku lagi oke?" Irina tertawa kecil saat memutar kembali ingatannya, sampai darah mulai keluar dari mulutnya. Dia telah menjadi buronan militer selama bertahun-tahun, menerima pekerjaan apapun hanya untuk makan setiap harinya. Dia terus lari sepanjang waktu, karena dia harus menolong Ava kabur dari lelaki gila itu. Namun berbulan-bulan setelah pelarian yang dia lakukan, Irina tiba-tiba kembali bertemu dengan Ava yang sudah bersama dengan Dominic. Ava dengan kejam mengusirnya pergi, dan memintaanya unttuk tidak menemuinya lagi seperti hari ini. Sejak itu, Irina telah mengganti tujuan hidupnya, dia ingin membunuh Dominic saat dia memiliki kesempatan. Dengan begitu, setidaknya dia bisa membawa Ava kembali sekalipun bukan sebagai rekannya. Dia melacak Dominic dan Alexa sepanjang waktu, sampai dia akhirnya menerima berita bahwa Dominic tengah mengunci dirinya di rumahnya sendiri entah karena apa. Irina tidak memiliki kesempatan jika harus menerobos rumah dengan keamanan penuh seperti yang dimiliki Dominic. Dia hanya bisa terus menunggu, menunggu hari dimana Dominic akan keluar lagi untuk mengurusi urusannya. Setelah lama hilang dari radar orang-orang, Dominic akhirnya benar-benar kembali ke masyarakat suatu hari. Dengan segala usahanya, Irina akhirnya tahu Dominic akan makan siang dengan seseorang di restoran untuk pertama kalinya. Irina menghabiskan semua uangnya untuk masuk kesana, hanya untuk menemukan bahwa orang yang diajak makan oleh Dominic sekali lagi adalah sahabatnya sendiri. Lebih parah dari sebelumnya, Ava mengaku telah menikah dengan b******n itu kini, dan tidak mengingatnya sama sekali kali ini. Sejujurnya Irina marah karena Ava tidak lagi mengingat perjuangan kehidupan masa lalu mereka, janji mereka, dan tentang bagaimana b******n itu menghancurkan hidup mereka semua di masa lalu. Namun jika di ingat-ingat, wajah Ava nampaknya lebih ceria saat dia tidak lagi mengingat segalanya. Irina benci mengakuinya, namun Irina merasa Ava memang tidak pernah bisa tersenyum lagi semenjak kejadian yang membunuh seluruh anggota keluarganya. Melihatnya tersenyum kemarin....... Rasanya Irina tidak perlu mengingatkan Ava akan kenangan buruk mereka lagi. Irina pikir mungkin memang lebih baik begini. Dia mati, dan Ava akhirnya bisa hidup nyaman tanpa perlu merasa bersalah lagi. Dominic juga sepertinya tidak berniat menyakiti Ava dalam cara apapun, semua itu terbukti dengan lebih terawatnya tubuh Ava begitu mereka bertemu kembali sebelumnya. "Hah......... Maafkan aku Jake........ Aku....... Ukh, tidak bisa menjaga istrimu lagi......" sesal Irina dalam sakitnya. Tubuhnya sudah kehilangan terlalu banyak darah, dan para pengejarnya itu tampaknya tidak ingin menyerah sampai mereka membawa mayatnya sendiri kehadapan Dominic. Dengan lelah, kepalanya mendongkak untuk melihat langit kelabu yang menjadi saksi kematiannya. Pada akhirnya dia memang ditakdirkan mati sendiri, tanpa ada orang yang akan menangisi kematiannya seperti teman-temannya yang lain. "Aku itu akan menangis jika kamu mati Irina! Jangan coba-coba untuk mati sebelum aku! Kita...... Kita harus hidup sampai tua dan memiliki kehidupan yang tenang bodoh! Hiks, kita harus hidup sampai akhir daan mendapatkan kebebasan yang belum juga kita dapatkan..... Itu janji kita bukan? Tidak ada yang boleh melanggar janji itu Irina......." Air mata mulai turun saat Irina ingat bagaimana sedihnya Ava dulu saat dia tertembak dan hampir mati di tengah misi keduanya. Irina tidak memiliki siapapun di dunia ini selain ketiga temannya. Dan saat itu, hanya Ava-lah satu-satunya orang yang akan menangis untuknya disana. Oleh karena itulah Irina bersedia mengorbankan apapun untuk Ava. Wanita itu telah banyak membantunya sejak kecil. Ava memberinya harapan, kekuatan, dan mimpi yang sempat hilang dalam hidupnya. Mereka telah berjanji untuk terus hidup dan saling membantu sampai akhir hayat mereka. Setelah apa yang terjadi pada Jake dulu, Irina tidak ingin kejadian yang menimpa Jake kembali terjadi pada Ava. Tangannya yang berlumuran darah perlahan bergerak untuk mengambil sesuatu dari kantung pakaiannya. Irina menekan setiap nomor dengan susah payah, sebelum perlahan dia simpan ponselnya itu didekat kupingnya dengan lemas. Setiap detik seakan menjadi siksaan tersendiri untuk Irina. Dia bahkan tidak yakin apa orang yang dia hubungi mau mengangkat panggilannya atau tidak. Orang itu pasti tahu jika Irina memanggilnya. Irina selalu menggunakan nomor dengan deret angka akhiran yang khusus untuk memanggil pria itu, dan hanya orang itu juga yang tahu rahasia ini. Pada nada keenam, panggilannya akhirnya terangkat. Irina tersenyum kecil, hatinya dibuat menghangat saat dia sadar seseorang mungkin masih peduli padanya sampai sekarang. "....... Halo?" Irina mengambil nafas panjang, sebelum berusaha keras untuk mengeluarkan suaranya. "Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengar suaramu, Connor," ujar Irina jenaka. Ada jeda panjang setelah dia berucap. Mata Irina melirik cemas ponselnya sendiri. Connor belum mematikan panggilannya ternyata. Lelaki itu tidak mengatakan apapun dalam jangka waktu lama, sebelum baritone rendah kembali menyapa telinga Irina. "Jadi kau masih hidup huh? Untuk apa kau menghubungiku? Aku masih belum memaafkan apapun yang kau lakukan Irina" Irina tersenyum sedih saat dia mendengar suara Connor kembali. Ah, tentu saja lelaki itu tidak bisa memaafkannya. Dia menempatkan Connor dalam posisi sulit dulu, hanya agar dia bisa menyelamatkan Ava dari Dominic yang telah membawa temannya pergi saat itu. "Aku tahu......... Ukh, tapi kau satu-satunya yang bisa membantuku sekarang. Connor, jika aku tidak menghubungimu sampai besok, itu artinya aku sudah mati. Ava masih hidup, namun tidak ada lagi yang bisa membantunya menjauhkan dia dari Dominic jika aku mati hari ini. Ava bersama lelaki b******n itu kini, b******n itu pasti melakukan sesuatu sampai Ava tidak bisa lagi mengenaliku. Aku tidak bisa membantunya lagi kali ini Connor. Seorang buronan tanpa harta dan kekuasaan sepertiku tidak akan bisa menyelamatkannya dari pria itu. Tapi kau...... Kau yang sekarang memiliki kemampuan untuk itu bukan, Tuan Jendral Connor? Aku...... Aku tahu aku sudah berjanji untuk tidak melibatkanmu lagi dalam masalah ini. Tapi kau sendiri tahu aku tidak lagi memiliki siapapun untuk dimintai tolong bukan?" "Jangan melucu Irina! Kau akan mati katamu? Dimana kau sekarang? Aku akan menjemputmu saat ini juga. Lagipula, kenapa kau selalu lebih peduli pada wanita itu huh? Apa sesuatu terjadi padamu karena Ava? Aku sudah billang bukan, jangan campuri urusan mereka atau kau pun akan berada dalam bahaya!" Irina menghembuskan nafas panjang saat dia mendengarkan suara panik Connor dengan tenang. Irina menatap langit mendung diatasnyaa lama, sebelum dia berusaha melanjutkan ucapannya saat untuk bernafas pun rasanya sudah begitu sulit. "Aku....... Tidak bisa melakukannya Connor. Kita sudah berjanji untuk saling melindungi apapun yang terjadi bukan? Aku...... Aku hanya mencoba untuk menepati janjiku. Sekarang....... Kupikir ini waktunya kau menepati janji milikmu Connor." "TAPI AKU JUGA MENCINTAIMU IRINA! Aku..... Aku rela melakukan apa pun asal aku bisa bersama denganmu! Kenapa....... Kenapa kamu tidak pernah peduli padaku huh? Kamu meninggalkan aku disini sendirian, melupakan janji di antara kita dan menghilang selama bertahun-tahun. Tahukah kamu bahwa aku mencarimu selama ini? Aku terus mencarimu setiap hari seperti orang gila Irina.... Aku..... Aku tidak ingin mendapat panggilan darimu hanya untuk membicarakan hal ini. Aku akan menjemputmu sekarang, kau boleh bicara hal lain setelah kita bertemu kembali." Irina hanya diam saat Connor mulai terdengar putus asa di ujung sana. Dipikir-pikir, dia memang wanita yang jahat untukk Connor. Dia terus menempatkan Connor dalam posisi yang sangat sulit, tanpa peduli pada perasaan pria itu sedikitpun. Mungkin sebenarnya diaa tidaka mencintai Connor sedalam itu. Dia tidak lagi ada saat pria itu membutuhkannya. Irina mengabaikannya, dan hanya kembali saat dia membutuhkan sesuatu dari pria itu. Irina mengigit bibirnya keras, sebelum mencoba untuk bicara kembali pada Connor. "Lindungi dia oke? Aku akan mengirim sinyal terakhir untukmu kali ini. Carilah aku jika kau bisa. Kali ini aku akan bersamamu, jika kau bisa menemukanku sebelum mereka." "Kau-" Tanpa ampun Irina segera mematikan panggilannya dengan Connor. Irina tersenyum untuk yang terakhir kalinya, sebelum dengan susah payah dia menekan tombol GPS pada ponselnya sendiri dan menyembunyikannya diantara lubang dahan pohon yang tiddak mudah ditemukan oleh orang lain. Setelahnya, Irina benar-benar menyenderkan tubuhnya pada pohon besar dibelakangnya sambil menatap langit berwarna kelabu diatasnya. "Semoga........ Kau selalu hidup dengan baik Ava........ Ak, aku........ Aku akan menjagamu dari tempat yang jauh sekali bersama Jack mulai sekarang....." Irina tersenyum kecil saat tubuhnya mulai membeku. Penglihatannya perlahan memudar, saat dia samar-samar mendengar derap langkah para pengejarnya. Di tengah hujan besar, Irina akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya karena kekurangan darah akibat kecelakaan yang diterimanya. ***** "Dia wanita yang sangat tangguh Bos, tidak heran dia salah satu anggota terbaik pasukan khusus pada masanya. Ini pertama kalinya aku melihat seseorang masih bisa kabur dari kami saat tubuhnya sudah penuh luka seperti ini." Dominic terdiam memerhatikan mayat kaku Irina sambil mendengarkan laporan dari para bawahannya. Tentu saja Irina kuat, dia adalah wanita lain selain istrinya yang dulu bisa membunuh puluhan tentara hanya dengan seorang diri. Jika saja Irina tidak percaya pada ucapan pria itu dan mulai menganggu hubungannya dengan Alexa seperti orang gila, Dominic pasti akan dengan senang hati menerima Irina sebagai teman sekaligus atasannya seperti dulu. Dominic selalu menghormati Irina yang kuat namun baik hati. Namun kebaikan hatinya kini hanya akan membahayakan hidup dirinya dan Alexa jika tetap dibiarkan. Dominic terpaksa membunuh Irina. Dia tidak ingin lagi mengambil resiko terpapar oleh orang lain. Musuhnya sudah cukup banyak sekarang, Dominic tidak ingin lagi menambah musuh hanya karena kehadiran wanita itu. Sekalipun itu berarti Dominic harus mengingkari janjinya pada Alexa, yang memintanya untuk tidak menyentuh teman-temannya sedikitpun. Dominic menatap mayat Irina sekali lagi, sebelum akhirnya menetapkan pilihannya. "Bakar mayatnya, jangan tinggalkan bukti sedikitpun," titah Dominic singkat sebelum pergi dari tempat itu dengan santai. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN