Nadine memasuki rumah dan menutupnya rapat-rapat. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Tiba-tiba saja dia merasa perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan. Nadine mengambil obat di dalam laci dan meminumnya. Sampai detik ini dia masih meminum obat dari psikiater. Perlahan perasaan takut yang ia rasakan pun mulai mereda. Nadine merebahkan tubuhnya di kasur dan perlahan tertidur. Sebelum benar-benar tertidur, Nadine mengingat pria yang tadi menolongnya. Dia tidak tahu siapa orang itu, awalnya dia menolongnya, tapi tiba-tiba saja wajahnya terlihat sangat membencinya. Apa dia memang tidak pantas dicintai? Mungkin Tuhan memang menciptakannya hanya untuk menjadi pelampiasan kebencian. Perlahan Nadine pun tertidur. Dalam mimpinya dia melihat kedua orang tuanya yang bert

