Chapter 16

1597 Kata
Hari pertama Zio masuk sekolah, dan hari pertama bagi Reya untuk terus berada di rumah Nevan sampai tugasnya bekerja dengan Nevan selesai dan setelah itu ia akan kembali ke Indonesia. Reya pindah ke rumah Nevan atas paksaan Zio, sekaligus dukungan dari Nevan. Zio terus merengek meminta Reya untuk tinggal bersama mereka hingga akhirnya Reya pun pasrah dan menuruti kemauan Zio. Lagian di rumah tersebut Reya tidak bersama Nevan, ada Zio juga dan menurut Reya itu bukanlah masalah yang besar. Reya bangun di pukul lima pagi dan langsung mandi menghabiskan waktu hampir 25 menit lamanya. Setelah itu Reya pergi ke dapur untuk membuat sarapan sekaligus bekal Zio karena ini adalah hari pertama Zio pergi bersekolah. Selesai membuat sarapan, Reya pun pergi ke kamar Nevan untuk membangunkan kedua laki-laki yang sepertinya masih terlelap. Ketika Reya hendak mengetuk pintu, pintu kamar Nevan terbuka dari dalam. Nevan lah yang membuka pintu tersebut dengan pakaian yang sudah rapi. "Zio udah bangun?" Reya melangkah masuk. Nevan tidak menjawab karena mata Reya sudah terlebih dahulu melihat Zio yang duduk di atas tempat tidur sambil mengucek-ngucek matanya dan menguap. "Hei," Reya menyingkirkan selimut yang menutupi kaki Zio. "Mandi yuk, hari ini kan mau sekolah. Hari pertama masuk sekolah lho." Reya terlihat bersemangat sedangkan Zio malah kembali berbaring membelakangi Reya memasukkan kedua tangannya ke dalam baju tidurnya. "Gak mau mandi? Gak mau sekolah?" Nevan melirik Zio sambil melangkah ke lemari untuk mengambil jam tangannya yang tersusun rapi di dalam sana. "Io masih ngantuk." Ucap Zio dengan nada khas baru bangun tidur. "Ntar pulang sekolah tidur lagi, tapi sekarang bangun, mandi, sarapan, terus pergi ke sekolah." Reya menarik lembut tangan Zio. Tanpa ada perlawanan dari Zio, Reya menggendong Zio dan membawanya ke kamar mandi yang ada di kamar Nevan. Selesai mandi Reya langsung memakaikan Zio seragam sekolah yang berwarna hijau seutuhnya dibagian celana dan dibagian baju hijau bercampur putih. Reya mengambil tas Zio dan memperhatikan Zio yang sedang berbicara pada Nevan. "Fotoin Io." Reya cukup terkejut mendengar ucapan Zio dimana anak kecil itu meminta untuk di foto. Sedangkan Nevan terlihat biasa saja karena memang Zio sering meminta untuk di foto kepadanya. "Nih," Nevan memberikan ponselnya pada Zio ketika sudah memotret anak itu. Zio tidak berhenti tersenyum melihat gambar dirinya yang tengah memakai seragam sekolah. "Yuk sarapan, ntar telat ke sekolahnya." Reya memegang kepala bagian belakang Zio membawa Zio keluar dari kamar dengan Nevan membawa tas Zio berjalan dibelakang Zio dan Reya. ^•^ "Ntar kalo di tanya sama guru, nama kamu siapa? Zio jawab apa?" Tanya Reya dengan mata memperhatikan ke arah luar jendela mobil lalu menatap Zio yang duduk di pangkuan menghadap ke arahnya. "Io," balas Zio sambil mengusap-usap blouse bagian lengan Reya. "Terus, kalo guru nya nanya lagi. Umur kamu berapa?" "Tiga tahun," balas Zio melingkarkan tangannya di leher Reya. "Kalo di tanya, siapa nama Papi nya. Zio jawab apa?" Tanya Reya. Zio diam sesaat melipat tangannya di depan perut sebelum matanya melirik ke arah Nevan yang duduk di sebelah Reya fokus menatap iPad. "Siapa?" Tanya Reya lagi karena Zio tidak menjawab, bibir Reya sudah menyunggingkan senyum karena ia tahu bahwa Zio tidak berani menyebut nama Nevan. "Hmm, siapa?" Zio melirik Nevan lagi sebagai jawaban dan berhasil membuat tawa Reya pecah dan juga berhasil membuat Nevan menoleh dengan wajah bingung karena ia tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakan kedua orang itu walaupun ia duduk di dekat Reya dan Zio. "Kok malah di lirik sih? Sebutin dong siapa nama Papi Zio." Reya menatap Nevan sekilas. Nevan yang semula menatap Reya beralih menatap Zio. "Papi..." Zio melingkarkan tangannya di pinggang Reya menoleh ke arah jendela mobil milik Reya. "Iya Papi siapa?" Tanya Reya menatap Nevan. Zio masih bungkam tidak berani menatap Reya apalagi Nevan. Padahal sejujurnya Nevan tidak marah jika Zio menyebut namanya, malah Nevan heran mengapa Zio menjadi takut hanya sekedar menyebutkan namanya saja. Karena Zio tidak kunjung menjawab, Nevan kembali sibuk dengan iPad nya sedangkan Reya tengah berusaha membuat Zio menjawab pertanyaannya. "Siapa?" Tanya Reya ketika Zio sudah menatapnya. Zio menutupi bagian samping mulutnya dengan kedua tangan dan mulai menyebutkan nama Nevan tanpa mengeluarkan suara. "Apa?" Reya tertawa melihat cara Zio menyebutkan nama Nevan dan Reya meminta Zio untuk mengulang jawabannya. Zio malah menyembunyikan wajahnya di d**a Reya. Nevan kembali menoleh karena mendengar Reya kembali tertawa. "Kata Zio, Nevan. Tapi gak pake suara tadi jawabannya." Reya berbicara pada Nevan masih dengan sisa-sisa tawanya. Nevan tertawa kecil sambil menatap Zio yang masih menyembunyikan wajahnya di d**a Reya. ^•^ "Zio gak bakal nangis, kan?" "Enggak, Zio gampang bersosialisasi kok, Zio juga punya temen pasti di sana. Lagian kan kita harus ke kantor. Jam sepuluh kita jemput Zio." Nevan mengambil kunci mobil yang diserahkan supir kepadanya. Tadi mobil memang dibawa oleh supir pribadi Nevan dan sekarang Nevan ingin membawa mobilnya sendiri. Berhubung tidak ada Zio, pikir Nevan. Ketika di jalan menuju kantor, mata Reya tidak sengaja melihat sebuah peringatan untuk tidak boleh merokok. Dan itu berhasil mengingatkan Reya ketika ia melihat Nevan memegang rokok yang menyala di balkon kamar. "Kamu masih merokok?" Nevan menoleh sekilas karena ia sedang menyetir. "Gak separah dulu." "Tapi tetep aja merokok, kan?" Nevan berdehem lalu mengangguk. "Ka-" "Lagian di sini dilarang ngerokok di tempat-tempat umum, kalo mau ngerokok di tempat terbuka ada tempat khususnya gitu terus harga rokok di sini juga mahal banget, satu bungkus rokok 90 ribu, kalo di Indonesia udah dapet nasi bungkus berapa itu." Ucap Nevan memotong Reya yang ia yakini hendak mengoceh. "Aku udah jarang banget ngerokok, satu bungkus aja kadang gak abis. Gak sekuat dulu." Nevan menoleh sekilas untuk memberikan raut wajah penuh kejujuran. "Tapi lebih bagus gak usah merokok sama sekali, berhenti." "Udah di coba, gak bisa." Reya menatap Nevan, "kamu gak mau coba berhenti demi Zio? Jangan bilang kamu pernah merokok di depan Zio." Nevan langsung menggeleng. "Gak pernah, aku kalo ngerokok ya selalu diem-diem. Aku juga tau ngerokok di depan anak kecil gak baik." "Bukan cuma untuk anak kecil, untuk yang merokok pun gak bagus. Usahain berhenti merokok." Kata Reya. "Kenapa kamu pengen banget aku berhenti ngerokok?" Tanya Nevan dengan seulas senyum. "Gak papa, kan merokok gak bagus. Dari dulu kan aku larang kamu?" Nevan mengangguk. "Ya udah berhenti kalo gitu." "Emang kalo aku bisa berhenti kamu mau ngasih aku apa?" "Ngasih apa? Ya gak ngasih apa-apa." Balas Reya sambil menghidupkan ponselnya. "Aku gak mau berhenti kalo kayak gitu." Reya menatap Nevan dengan mata yang sedikit memicing. "Jaga kesehatan," Nevan mengangguk-angguk. "Udah tua." Ucapan Reya sukses membuat Nevan langsung menoleh. "Berhenti," kata Reya sedikit melotot memberi peringatan. ^•^ Reya menjauhkan ponsel yang berada di depan wajahnya ketika melihat Zio bersandar di kakinya dan memeluk paha nya. "Kenapa?" Reya meletakkan ponsel yang ia pegang di sofa. "Besok Io mau ke Zoo," "Emang Papi udah tau?" Zio beralih duduk di sebelah Reya dan bersandar. Zio mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. "Coba bilang kalo kamu mau ke kebun binatang besok." Reya menunjuk Nevan yang baru menuruni tangga. Sebenarnya Reya sudah tahu jika besok Zio hendak pergi ke kebun binatang yang diselenggarakan oleh sekolah Zio. Zio turun dari sofa berlari menghampiri Nevan. "Papi, besok Io mau ke Zoo." Lapor Zio. "Sama siapa?" Tanya Nevan berdiri di dekat Reya memasukkan satu tangannya di kantong celananya. "Teachel." Jawab Zio sambil tersenyum menautkan tangannya dan memiringkan kepalanya. Nevan menggeleng membuat senyum Zio hilang. "Why?" Tanya Zio dengan raut wajah sedih. "Zio itu kecil mungil. Kebun binatangnya rame udah gitu luas, kalo Zio hilang gimana?" Zio menggeleng, "enggak." "Yang ikut gurunya cuma dua orang, Zio sama temen-temen Zio ada sepuluh orang. Udah gitu kecil-kecil lagi kalian, ntar hilang. Gak usah, kapan-kapan aja sama Papi sama Tante Yaya." Zio menghentakkan kakinya karena sudah mulai kesal Nevan tidak mengizinkannya ikut. "Io ikut!" Zio menyentak tangannya sendiri. Nevan menatap Reya yang tengah tertawa diam-diam karena tingkah mengemaskan Zio. Nevan beralih menatap Zio. "Ya udah ikut, tapi Mami eh Tante Yaya, ikut Zio." Zio menoleh pada Reya. "Gak mau," Zio menggeleng. "Kenapa? Kan enak kalo ada Tante Yaya." Ucap Nevan sambil memegang kepala sofa, ia masih berdiri saling berhadapan dengan Zio. "Temen Io gak sama Mami meleka, sama teachel, Io juga gitu." "Oh kalo gitu gak boleh ikut." Kata Nevan membuat Zio terduduk di lantai seraya merengek. Dan setiap adegan Zio selalu menjadi bahan tawa oleh Reya, Reya tertawa secara diam-diam agar Zio tidak semakin kesal karena sudah ditertawakan olehnya. "Papi Io ikut," Zio mendongak menatap Nevan sambil menangis. "Ya udah ikut, tapi Tante Yaya juga ikut." Jika tadi Zio duduk sambil merengek, sekarang anak itu sudah tergeletak di lantai dengan pipinya yang basah akibat air matanya. "Izinin aja." Reya menatap Nevan karena ia merasa kasihan dengan Zio. "Guru nya yang ikut cuma dua orang, gimana aku mau ngizinin. Aku bilang kamu ikut, Zio nya gak mau." Balas Nevan memperhatikan Zio yang berganti posisi menjadi telungkup. "Io mau ikut pun," ucap Zio menghapus air matanya dengan punggung tangan seraya bangkit berdiri dan berjalan ke arah tangga. Nevan dan Reya diam sama-sama memperhatikan Zio yang melangkah ke arah tangga. Nevan dan Reya saling tatap setelah melihat Zio duduk di anak tangga pertama dengan kaki yang ditekuk dan tangan Zio berada di atas lutut tanpa menatap ke arah Nevan dan Reya. "Samperin," Reya menunjuk Zio. Nevan pun melangkah mendekati Zio dan menggoda Zio yang sedang menyendiri di tangga. Dari balik sofa, Reya memperhatikan Nevan yang sedang bernyanyi menggoda Zio namun Zio malah memiringkan tubuhnya mengabaikan Nevan. Reya tersenyum karena akhirnya Zio mau digendong oleh Nevan. Nevan berjalan ke arah Reya sambil menciumi pipi Zio lalu duduk disebelah Reya dengan Zio berada di antara mereka dimana Zio sudah tidak kesal lagi akibat godaan maut yang Nevan berikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN