Chapter 19

1827 Kata
Mata Reya tidak pernah lepas dari layar komputernya, baik saat bekerja ataupun tidak mata Reya terus tertuju ke arah yang sama. Reya menghela napas, tangannya yang saling bertautan menopang dagunya beralih menyentuh keyboard dan mouse yang selalu menemaninya ketika bekerja. Laporan terakhir. Reya membaca bagian atas sebuah lembaran kertas yang berada di komputernya, lalu mata Reya mulai turun kebagian lain. Dengan laporan ini, masa kerja/tugas saya sudah selesai dalam waktu yang sudah ditentukan. Dan saya siap untuk kembali. Sejujurnya d**a Reya terasa sesak ketika membaca sebuah pernyataan yang ia buat sendiri. Rasanya waktu begitu cepat berlalu dan Reya berharap jika dirinya bisa lebih lama lagi bersama mereka, menghabiskan waktu lebih lama lagi. Tapi Reya masih ingat bahwa dirinya hanya bekerja untuk sementara, bukan selamanya dan Reya akan kembali ke tempat kerjanya yang sesungguhnya dalam waktu dekat ini. Untuk yang kesekian kalinya Reya menghela napas sebelum laporan yang sudah ia buat akan ia kirim kepada bos nya yang ada di Indonesia. Dengan berat hati dan rasa tidak ikhlas, Reya pun mengirim laporan sekaligus pertanyaan tersebut. Setelah terkirim Reya menjatuhkan kepalanya di antara kedua tangannya yang terlipat di atas meja kerjanya. Reya mengangkat kepalanya dengan mata yang memerah ketika mendengar pintu ruangan Nevan terbuka. Reya mengalihkan tatapannya saat melihat Nevan keluar dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. Mungkin yang bisa Reya tangkap dari ekspresi tersebut adalah raut kesedihan? Nevan maju beberapa langkah. "Masa kerja kamu udah abis?" Tanpa menatap Nevan Reya mengangguk. "Kapan kamu balik?" Tanya Nevan dengan nada rendah. "Dua hari lagi." Nevan mengangguk kecil seraya sedikit menunduk. "Gina udah ngirim laporan ke aku, kamu juga udah ngirim laporan ke Raihan?" Reya mengangguk. "Oke," Nevan tersenyum sebelum ia kembali masuk ke dalam ruangannya dimana ada Zio yang tengah tertidur. Reya menghapus air matanya yang tiba-tiba saja keluar saat Nevan sudah menghilang dari hadapannya. Di dalam ruangan, Nevan berjalan ke arah sofa panjang dan cukup lebar dimana Zio sedang terlelap. Nevan berjongkok di hadapan Zio seraya mengelus pipi Zio. "Bentar lagi Tante Yaya pergi, balik lagi deh kita cuma berdua di rumah." Nevan tersenyum diselingi tawa kecil. Nevan mengecup kening Zio tetap berjongkok sambil memperhatikan wajah Zio. ^•^ Reya berbalik mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamarnya saat mendengar suara Zio. "Tante Yaya!" Pekik Zio sambil berlari sambil membawa sesuatu. Zio berdiri di depan Reya menunjukkan plastik bening yang berisikan air dan ada ikan juga di dalamnya. "Bobo Io," Zio tersenyum sumringah memperlihatkan gigi-gigi yang mungil. Reya tersenyum menaruh sebuah kardus yang berisikan barang-barangnya di lantai kemudian berlutut di hadapan Zio. "Di jaga ya Bobo nya. Jangan sampe mati lagi." Reya menatap ikan koki baru Zio dengan sekilas dan menatap lama wajah Zio. Zio mengangguk antusias. "Tapi Io kan sekolah, Tante Yaya kasih makan Bobo ya." Reya hanya tersenyum tidak menjawab. "Ganti dulu yuk baju nya, terus nanti Bobo nya dipindahin ke aquarium, terus di kasih makan." Reya mengambil kardus yang tidak terlalu berat memegangnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan Reya menggandeng tangan Zio untuk membawa Zio ke kamar mengganti seragam sekolah Zio. Malam harinya, Reya dan Zio bermain bersama di ruang main Zio tanpa kehadiran Nevan seperti biasanya. "Papi dimana?" Tanya Reya pada Zio yang tengah bermain game di iPad. "Io gak tau." Zio menggeleng terus bermain. Reya menatap ke arah pintu yang memang sengaja dibuka. "Zio jangan nakal-nakal ya, dengerin apa kata Papi, nurut sama Papi, jangan suka ngambek." Reya mengelus kepala Zio. Zio mengangguk tanpa mengetahui bahwa ucapan Reya barusan adalah sebuah ucapan perpisahan untuknya. "Udah mainnya?" Tanya Reya ketika Zio yang tengah berbaring terlungkup beranjak berdiri. "Io bosen, Tante Yaya." Kata Zio sambil mendekati Reya yang sedang duduk lalu melingkarkan tangannya di leher Reya. Reya tertawa mendengar ucapan Zio. "Bosen? Kita jalan-jalan mau?" Reya menaruh tangannya di pinggang dan punggung Zio. Zio menggeleng. "Jadi mau nya apa? Tadi katanya bosen." Zio menjatuhkan kepalanya di bahu Reya sambil memainkan rambut Reya yang tergerai. Reya menatap ke arah pintu karena melihat Nevan baru masuk dengan rambut yang sedikit acak-acakan. "Kamu mau makan?" Nevan menggeleng. "Kenapa enggak? Kan kamu belum makan." "Gak laper," balas Nevan. "Kok kalian keliatan kayak gak semangat gini sih? Zio lagi bosen, kamu gak mau makan karena gak laper, tumben banget." Reya tertawa kecil sembari mengelus punggung Zio. Nevan duduk di hadapan Reya. "Kenapa kamu gak bilang sama aku kalo masa kerja kamu sama aku udah abis?" "Kenapa kamu gak tau kalo masa kerja aku udah abis?" Tanya Reya membalikkan pertanyaan Nevan. "Gimana aku mau inget waktu masa kerja kamu kalo yang aku inget cuma gimana caranya ngabisin waktu sama kamu karena selama ini kamu lebih sering berdua sama Zio daripada sama aku." Reya tersenyum mendengar jawaban Nevan. "Kamu terlalu banyak ngabisin waktu untuk kerja, itu yang bener." Nevan diam sejenak. "Jadi kamu bener-bener bakal pergi?" Reya mengangguk. "Kita pasti bisa ketemu, walaupun gak sering pasti bisa. Kalo aku ada waktu aku usahain bakal nemuin kalian, tapi kalo kamu ada waktu temuin aku, bareng Zio." "Gak usah sedih." Reya menyentuh pipi Nevan membuat Nevan yang sedang menunduk langsung mengangkat kepalanya. "Kamu kerja sama aku aja." Nevan memegang tangan Reya yang masih berada di pipinya. Reya tersenyum, "gak bisa, aku kan kerja sama kamu cuma sementara." "Iya, tapi aku bakal bilang sama Raihan kalo kamu bakal jadi sekretaris aku terus, sampe status kamu berubah jadi istri aku." Reya menarik tangannya namun Nevan menahannya. "Jangan ngomong gitu." Reya tersipu malu akibat kalimat terakhir Nevan. "Bukannya itu yang kamu mau?" Reya menggeleng memaksa tangannya untuk menjauh dari pipi Nevan dengan pipi yang merona. ^•^ Nevan, Reya dan Zio berjalan ke arah meja berbentuk bundar yang sudah disiapkan untuk mereka. "Zio mau apa?" Tanya Reya sambil mendekatkan buku menu pada Zio. Zio sedikit menegakkan tubuhnya untuk melihat gambar makanan ataupun minuman yang tertera. "Ini," Zio menunjuk steak yang dibalas anggukan oleh Reya. "Cuma pesen itu aja? Gak ada yang lain?" Tanya Nevan setelah Reya dan Zio memilih makanan untuk mereka. Reya dan Zio kompak mengangguk. Nevan memberikan buku menu pada pelayan ketika makanan dan minuman yang dipesan sudah dicatat. Nevan memperhatikan Reya dan Zio yang sedang berbicara. Memperhatikan keduanya bersama untuk yang terakhir kalinya sebelum Reya pergi. Walaupun mereka bisa bertemu tapi tetap saja Nevan menganggap jika kebersamaan mereka ini adalah yang terakhir kalinya. "Bentar ya, aku mau ke toilet." Pamit Nevan sambil beranjak berdiri. Reya mengangguk. "Papi mau kemana?" Zio menunjuk Nevan yang sudah pergi. "Ke toilet." Balas Reya sambil menata rambut Zio. "Rambut nya aku iket, ya?" Reya gemas sendiri melihat rambut Zio yang halus dan cukup lebat sehingga terbesit untuk mengikat rambut Zio. "Lambut siapa?" "Zio. Aku iket mau?" Tanpa menunggu jawaban dari Zio Reya mengambil tas selempang nya yang ia letakkan di kursi kosong yang ada di dekatnya. Reya mengeluarkan ikat rambut berwarna pink dari tas nya sengaja Reya bawa untuk mengikat rambutnya yang tergerai ketika ia mulai gerah nanti. Zio terlihat pasrah saat Reya mulai mengambil rambut bagian atasnya dan mengumpulkannya menjadi satu. Reya tertawa ketika sudah mengikat rambut Zio dimana Reya menyisakan sedikit poni untuk menutupi kening Zio. "Tuh kan, lucu." Reya menyentuh beberapa kali rambut Zio yang dikuncir ke atas. Reya mengeluarkan ponselnya dan membuka kamera ponselnya untuk mengabadikan momen dirinya bersama Zio. "Sini kita foto dulu." Reya menarik kursi Zio untuk merapat ke kursinya. Zio beralih duduk di atas paha Reya yang tertutupi oleh dress. Reya yang tersenyum ke arah kamera mendadak tertawa karena pose Zio terlihat sangat lucu. Zio berpose dengan jari telunjuk dan tengah berbentuk peace, memejamkan kedua matanya lalu mengerucutkan bibir. Tidak heran jika Reya tertawa melihat tingkah menggemaskan Zio. Zio ikut tertawa membuka lebar mulutnya dengan mata yang menyipit. "Lagi dong gaya nya kayak tadi." Kata Reya kembali mengarahkan kamera. Zio kembali berpose seperti tadi. "Satu, dua, tiga..." Setelah berhasil dipotret Reya kaget karena ternyata Nevan ikut berfoto. "Mana coba liat." Nevan mengambil ponsel Reya untuk melihat hasil foto yang diambil oleh Reya. "Ini siapa?" Nevan menunjuk gambar Zio sambil tertawa karena lucu melihat gaya Zio serta rambut anak itu. "Papi liat." Zio mengulurkan tangannya. Zio tertawa sendiri melihat gambar dirinya. "Io..." Zio menunjuk dirinya di layar ponsel Reya menatap Reya dan Nevan. "Jelek banget." Kata Nevan sambil kembali duduk. "Enggak," balas Zio memperhatikan foto mereka. "Jelek." "Enggak!" "Jelek, Zio jelek." "Papi jelek!" Ucap Zio tidak mau kalah. "Enggak, Papi handsome." "Io handsome too!" Zio memukul meja karena mulai kesal. "Eng-" "Handsome, handsome, handsome!" Zio memotong Nevan yang hendak berbicara mengucapkan kata handsome dengan cepat. "Tante Yaya..." Zio menatap Reya. Reya menaikkan alisnya. "Io handsome kan?" "Iya dong, kalah Papi." Kata Reya langsung membuat Zio tersenyum lalu menjulurkan lidahnya pada Nevan. "Excuse me," Beberapa orang pelayan datang sambil membawa makanan. Zio yang masih duduk di pangkuan Reya kembali duduk di kursinya karena ia sudah tidak sabar untuk makan. "Ini punya Zio, ini punya Tante Yaya." Nevan menyodorkan makanan milik Zio dan Reya. "Mau aku potongin dagingnya?" Tanya Reya. Zio mengangguk memperhatikan Reya yang mulai memotong daging steak nya menjadi kecil-kecil. "Makasih Tante Yaya." Ucap Zio saat Reya selesai memotong dagingnya menjadi beberapa bagian. Reya tersenyum mengambil piring makanannya. Reya membuka penutup makanan nya dan betapa terkejutnya Reya ketika melihat isi dibalik penutup makanan tersebut. Reya menatap Nevan. "Ini..." Reya tertawa dengan perasaan yang bercampur aduk. Mata Reya memperhatikan sekitarnya dimana tidak ada siapapun selain mereka bertiga. "Cincin?" Reya menyandarkan tubuhnya dengan mata yang berkaca-kaca. Reya mengambil cincin yang terlihat sangat indah yang berada di piring. "I'll give you the best of me..." Reya menurunkan tangannya yang tengah menunjukkan cincin yang ia pegang pada Nevan. Air mata Reya tumpah ketika tangannya di genggam oleh Nevan, cincin yang Reya pegang pun sudah beralih ke tangan Nevan. Reya menangis dalam kebahagiaan, dengan bibir yang menyunggingkan senyum. "Will you marry me?" Tanya Nevan menatap Reya dengan tatapan penuh arti dan keyakinan. "Yes!" Kalian pikir Reya yang menjawab? Salah. Zio :) Reya tertawa sambil menatap Zio. "Tante Yaya say yes!" Zio sudah duduk berlutut di kursinya sambil menggoyangkan tangan Reya. Reya menyentuh pipi Zio dengan tangan kiri karena tangan kanannya digenggam oleh Nevan. Reya menatap Nevan. Dengan malu-malu Reya mengangguk. Nevan langsung memegang dadanya yang terasa bergemuruh karena Nevan TAKUT jika Reya menolaknya walaupun Reya sudah sangat tidak sabar untuk segera dipinang. Reya mengigit bibir bawahnya ketika Nevan memasangkan cincin di jari manisnya. Reya mengigit bibirnya semakin kuat tidak perduli dengan rasa sakit yang mulai terasa saat punggung tangannya dikecup. Nevan menatap Zio yang sedang memperhatikan mereka dengan masih berlutut di atas kursi serta kedua tangan Zio memegang tepi meja. "Mulai dari sekarang, panggil Tante Yaya... Mami." Ucap Nevan pada Zio. "Mami?" Zio menatap Reya. Reya tersenyum malu. "Yeeeeyy Zio punya Mami!" Zio langsung berhambur ke pelukan Reya. Reya tertawa dengan mata yang berkaca-kaca membalas pelukan Zio dengan erat. Reya menatap Nevan yang sedang tersenyum. Nevan beranjak sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mencium puncak kepala Reya. "Makasih." Bisik Nevan. Reya tersenyum lebar sedikit mendongakkan kepalanya menatap Nevan. Tidak perduli apakah Zio akan melihat atau tidak, Nevan mendaratkan sebuah ciuman paling manis untuk gadis yang sudah berubah status menjadi calon istrinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN