“Apa lagi yang kamu butuhkan?”
Toni mendorong troli, kontras dengan ketegasan yang selama ini ditunjukkan pria itu di kantor, kesan pembunuh berdarah dingin yang biasa menempel di jidat Toni itu tak lagi terlihat. Untuk beberapa saat, Nayla berharap Toni tetap bersikap manis dan tidak berubah menjadi juru teror yang gemar menggerutu. Perlukah Nayla mencari mantra pemusnah kutukan Toni? Oke, mantranya harus dirapal seperti ini, “Pergilah mahluk jahat. Jangan pernah kembali. Hush. Hush. Hush.”
“Hei,” panggil Toni. “Saya tanya, ada barang yang kamu belum dapat?”
Mengerjapkan mata, Nayla menjawab, “Cokelat.”
Kedua alis Toni bertaut, bingung.
“Kebiasaan,” jelas Nayla, “saya tinggal sendiri, nggak jago masak jadi … kalau ada serangan lapar di kala malam, saya biasanya ngemil granola atau permen.”
“Lalu, kenapa kamu belanja terigu dan sebagainya?” tunjuk Toni pada buruan Nayla.
Nayla mengedikkan bahu. “Ada asisten paruh waktu yang mengurus masak dan kebersihan. Yah, biasanya Mia dan Miranda datang ke rumah. Jadi deh, Miranda berubah jadi koki.”
Toni mengambil beberapa batang cokelat dan memasukkannya ke troli. “Kamu nggak bisa masak?”
“Masak yang biasa bisa, Pak. Tapi, kalau yang repot-repot saya nggak bisa.”
Tunggu. Kenapa Toni mempertanyakan keahlian Nayla? Haruskah ia menaruh curiga?
“Oh, ya,” kata Nayla mengalihkan topic pembicaraan. “Bapak bisa masak?”
Kalau Toni berani mempertanyakan kehidupan Nayla, maka ia pun berhak mengusik kemampuan Toni di dapur. Siapa yang memulai, ia pun harus mengakhiri. Itu baru adil.
“Bisa,” jawab Toni.
Ulala, Nayla mendapatkan satu poin bagus dari seorang Toni. Jika diurut secara cermat dan sistematis, maka Toni memiliki hal-hal bagus; tampan (oh ya, dia tampan jika bibirnya tidak digunakan untuk menyayat hati bawahannya), mapan (sip, dia bisa menjadi suami idaman Nayla), pintar (bukankah biasanya pria berkacamata itu gemar membaca buku?), dan pandai memasak (oh, ya. Pria yang jago memasak itu terlihat seksi). Demi Hades dan seluruh dunia kematiannya, Toni merupakan salah satu calon menantu idaman. Ibu Nayla pasti akan berseru girang apabila Nayla berhasil mengantarkan seorang lelaki tangguh yang dijamin tak akan mempermalukan keluarga di ranah kondangan. Mungkin Nayla perlu belajar memasang tampang, “dia milikku dan pergi ke laut sana, para wanita kurang ajar”.
Eits, apakah Nayla baru saja memikirkan kemungkinan untuk memperkenalkan Toni kepada ibunya?
“Ibu saya suka masak.”
Nayla mengembuskan napas, lega karena Toni tidak menyadari fantasi liar Nayla.
“Waktu kecil ibu saya senang membuat bolu,” lanjut Toni sembari mengarahkan troli ke bagian kasir.
Nayla mengangguk. Pura-pura mengerti padahal….
Ia jauh dari mendengarkan. Pikiran Nayla mengembara bebas ke langit fantasi. Ada satu dua hal yang ingin ia bereskan sebelum kesadaran kembali menjejak bumi realitas.
“Nay, saya harap tulisan kamu semakin berkembang.”
Dorongan. Oke, Nayla akan menghapus sedikit dendamnya. Mungkin benar yang dikatakan Miranda bahwa Toni tidak seburuk penampilannya. Garis bawahi, tidak seburuk penampilan luarnya; dingin, ketus, menuntut kesempurnaan, dan raja penindas. Ya dewa, tidakkah Toni menyadari deretan sifat buruk yang dimilikinya? Atau mungkin otak Toni terlalu lama ditempa dengan besi dan baja hingga koreksi diri pun tak ia pedulikan.
“Dan tidak ada penjabaran kacangan yang kamu selipkan dalam artikel.”
Demi Ares, Nayla berharap bisa menjahit mulut Toni.
Nayla mengedikkan bahu. “Saya akan berusaha.”
Toni pun mengangguk. “Bagus. Saya suka semangatmu.”
Jauh di lubuk hati Nayla, kalimat yang ingin ia dengar ialah, “Saya suka kamu.”
Hore. Kubur Nayla ke sisi gelap bumi.
***
“Nayla!”
Nayla hampir saja terjungkal. Ia mengerjapkan mata, memandang sekitar; kubikel yang dipenuhi tempelan foto artis Korea, tempelan note aneka warna, layar komputer yang berkedip genit, dan wajah Miranda.
Koreksi, wajah Miranda yang terlihat garang.
Berdeham, Nayla berkata, “Oke, kamu kenapa kelihatan pengin nyekek gitu, ya? Apa aku udah nyomot persediaan camilanmu?”
“Nayla,” sembur Miranda. Beberapa orang sampai berjengit, kaget saat mendengar seruan Miranda. “Dari tadi aku panggilin. Aku tanya, ‘Nay, artikel penyanyi jazz yang kemarin udah kamu serahin ke Edi?’ Eh, kamunya malah bengong kaya kebo gitu.”
Tak mungkin Nayla menjelaskan ketidakhadiran pikirannya, dalam kurung, ketidakhadiran pikiran Nayla yang mengembara ke detik-detik romantis yang bisa saja berakhir dengan kencan bersama Toni. Astaga, Nayla perlu memeriksakan kewarasannya. Dokter, Nayla membutuhkan anastesi. Segera!
“Belum,” jawab Nayla. Kedua matanya menatap barisan tulisan yang berjajar di monitor. Ini belum selesai. Itu masih jauh dari kata selesai. Ini dan itu … oh pekerjaan. Tak bisakah Nayla mendapatkan semangat menyongsong hari yang baru?
Jawabannya: tidak.
“Bereskan,” tuntut Miranda. “Sore nanti aku ada acara. Awas saja, sampai aku telat, kamu akan aku….” Miranda membuat adegan mencekik.
“Oke, oke.” Potong Nayla, horor. “Ngeri amat.”
Miranda hanya mendengus, kesal.
“Balik sono,” perintah Nayla. “Aku selesaikan. Sampai tuntas. Oke?”
Entah mengapa Miranda merasa tidak oke.
***
Puji Zeus, Nayla berhasil menyelesaikan todongan Miranda. Alhasil, wanita itu pun melenggang santai meninggalkan Nayla seorang diri membereskan editan beberapa artikel. Mungkin Nayla harus mempertimbangkan pekerjaan sebagai editor. Setidaknya ia tak perlu mengejar penyanyi dangdut sembari berpanas ria dimakan terik matahari.
Nayla menatap kopi yang dibuatnya dengan komposisi ala kadarnya. Tambah gula. Tambah bubuk kopi. Tuangkan air panas. Tada, secangkir kopi pengusir kantuk siap untuk disajikan.
Tak ada siapa pun yang bisa dimintai tolong untuk membuat secangkir kopi pengusir jenuh. Pantry sepi, Nayla setidaknya bisa bersyukur karena tak ada yang meminta tolong untuk dibuatkan minum. Toh, tak ada satu orang pun yang berani mencicipi kopi buatan Nayla yang rasanya terlalu manis untuk lidah mereka.
Perlahan, Nayla mendekatkan cangkir ke bibirnya. Aroma kopi langsung menjernihkan benak Nayla. Entah mengapa kopi terasa paling pas untuk menemani manusia yang ingin menikmati waktu sunyi mereka. Pada kasus Nayla, secangkir kopi lebih berfungsi untuk meningkatkan mood. Percayalah, cara itu ampuh bagi Nayla.
Berbalik, Nayla bermaksud membawa kopi ke kubikel-nya, namun dia langsung membeku saat menatap sosok Toni.
“Eh, Pak, mau kopi?”
Nayla dalam hati berdoa, “Jangan minta, please. Jangan minta. Pokoknya jangan.”
Toni langsung melangkah menuju pantry. Ia mengambil satu cangkir dan mulai meracik minumannya sendiri. “Saya lebih suka teh,” katanya. “teh melati.”
“Oooh,” sahut Nayla, masih bingung harus berkata apa. Tak mungkin Nayla asal bicara, “Bapak seleranya sangat Indonesia, ya?” Huh, itu komentar yang sangat aneh. “Teh? Ibu saya juga suka teh.” Salah-salah Toni akan berpikir Nayla mencoba menjodohkan dirinya dengan wanita berusia empat puluh lima.
Toni selesai meramu teh. Ia menghidu sejenak aroma melati sebelum memutuskan untuk meneguknya. “Aneh, ya?”
“Huh?” Lagi-lagi, reaksi Nayla sungguh tidak oke. Andai Miranda melihat kelakuan Nayla, wanita itu akan mendesis jijik dan memutuskan untuk menjedotkan Nayla hingga kewarasannya kembali.
“Setiap saya merasa resah,” kata Toni. “Saya akan meminum teh.”
Nayla masih tidak mengerti. Apakah Toni bermaksud mengatakan pada Nayla bahwa pria itu saat ini tengah galau?
Seorang Toni merasa galau?
Nayla tak mungkin memercayai apa yang dilihatnya saat ini.
“Oh, begitu. Pak, saya harus kembali ke—”
“Tentu,” potong Toni. “Silakan.”
Pembicaraan terputus.
Entah mengapa Nayla merasa kecewa.