6

1355 Kata
Di saat teman-teman seangkatan Nayla mulai memikirkan t***k bengek perihal pernikahan semacam undangan, dekor, makanan untuk resepsi, baju seharga gaji Nayla selama enam bulan (catat, untuk satu jenis baju yang mungkin dikenakan saat ke KUA), lalu foto, dan ini, dan itu. Nayla, sang wanita modern yang mengaku mengerti kehidupan metropolitan, harus berjibaku dengan segala artikel masakan dan hal lain yang dijamin mampu menyedot sembilan puluh persen kebahagian Nayla. Wahai Venus, dewi cinta, kepada siapakah Nayla harus mengadu? Haruskah Nayla berlutut di depan altar milik Isthar, menyenandungkan lagu cinta dan bersumpah setiap menjadi abdi sang dewi? Separah itukah keberuntungan Nayla dalam menemukan satu mahluk bernama Adam yang bisa menerima hobi Nayla yang selalu condong ke Korea? Oke, mungkin Nayla harus ikut kursus mencari cinta.  Cinta, di manakah engkau berada? Jawabnya, di ujung langit.  Nayla benar-benar berada di masa kritis. Menilik Toni, si bos supersensitif, rasa-rasanya status jones akan setia menempel di jidat Nayla. Bahkan Nayla pun curiga jikalau masih ada pria yang tertarik mendekatinya.  Hanya ada tiga kata: hidup memang kejam. Lihat saja, jemari lentik yang seharusnya digunakan untuk membelai tubuh kokoh seorang pria, Nayla menggunakan jemarinya untuk b******a dengan papan keyboard. Sesekali Nayla menggerakkan tengkuk dan pinggangnya, hanya sekedar untuk meregangkan tubuh. Nayla pernah membaca berita mengenai seorang lelaki Korea yang ditemukan meninggal di depan layar monitor komputer. Selidik punya selidik, orang itu mati karena peredaran darahnya tidak lancar akibat terlalu lama bermain game online. Nah, Nayla tak ingin mengalami kemalangan yang serupa. Ia terlalu muda untuk menyusul pria Korea tersebut ke alam Hades. Tidak, Nayla harus menjaga kesehatan tubuhnya, terutama jiwa. Oh jiwa, bagaimana bisa Nayla merasa sehat bila wajah jutek Toni selalu membayang di pelupuk matanya. Heran, tak bisakah Toni tersenyum? Segaris senyum saja. Tak perlu seseksi Luke Evans namun setidaknya itu bisa menurunkan tensi depresi Nayla … atau hasratnya. Oh, apakah tadi Nayla baru mencetuskan sebuah ide panas mengenai bagaimana seorang Toni memperlakukan wanita?  Tersenyum pahit, Nayla paham: itu tidak mungkin terjadi. Menggelengkan kepala, Nayla kembali memfokuskan pikiran. Bunyi jemari yang beradu dengan tombol keyboard mengisi ruang dengar Nayla. Ia mulai menuliskan ulasan singkat mengenai makanan yang kini tengah digandrungi. Terobosan baru, memadukan brownis dan beberapa kue dalam satu wadah cantik. Pemilik kafe tersebut menciptakan menu yang tak hanya menggoyang lidah, namun juga membuai mata. Bayangkan, cokelat yang dipadu dengan lembutnya es krim, buah-buahan segar, sedikit taburan kacang, sirup, lalu tak lupa bubuk kayu manis. Tentu saja Nayla akan mengulas makanan yang bernama ambrosia tersebut ke bagian menu kekinian. Unik, ambrosia, nama yang digunakan untuk menamai makanan tersebut. Setahu Nayla, ambrosia merupakan makanan para dewa dan dewi Yunani. Menggigit sedikit saja sari surga tersebut, maka.... Nayla hanya bisa menelan ludah, lapar. Ia melirik jam dan mendapati angka dua belas.  Nayla mengangguk, rasanya ini saat yang tepat untuk mengisi daya hidup alias makan. Naga agung mulai berontak, perut Nayla mengeluarkan suara keruyuk yang disahut Rei dengan seloroh, “Nay, berisik.” “Rei,” kata Nayla. “Bicara baik nggak akan membunuh, kok.” Rei tidak menjawab. Menghela napas, Nayla segera menyimpan artikelnya ke folder bertuliskan kuliner. Nayla mengecek ponsel dan mendapati pesan WA, yang tentu saja, berasal dari Miranda. Miranda: Aku nggak bisa nemenin kamu makan siang. Sibuk. Mengernyit, Nayla kecewa. Padahal ia ingin menghabiskan waktu istirahatnya bersama Miranda, namun mau bagaimana lagi, tidak bisa.  “Nay,” panggil Rei. Menoleh, Nayla menjawab, “Apa?” “Tiara,” kata Rei, “masak rendang. Katanya suruh ngasih ke kamu untuk permintaan maaf kemarin.” Kedua mata Nayla berbinar. Makanan gratis, oh yes.  Tampaknya untuk saat ini Nayla bersedia berdamai dengan Rei demi masakan istrinya. *** Beruntung, Toni tidak memberondong Nayla dengan segala macam aturan baku EYD dan EBI. Nayla bisa pulang tepat waktu, andai jam sembilan malam bisa disebut sebagai waktu pulang yang oke. Jalanan Jakarta ramai seperti biasanya. Kota seribu cahaya, Nayla bisa melihat lampu-lampu kendaraan dan neon yang berpendar menyaingi gemintang di langit sana. Sembari menyetir, Nayla menyenandungkan lagu Super Junior. “This is love, this is love…,” dendangnya riang. Salah satu hal yang membangkitkan semangat juang Nayla ialah menyanyikan lagu Korea dengan nada sumbang nan tidak indah. Masa bodoh, asal hati riang, bising sedikit tak jadi masalah. Biasanya Miranda ataupun Mia mengeluhkan ketenangan dalam berkendara ketika Nayla mulai bernyanyi. Pasalnya di antara mereka bertiga, hanya Nayla seorang yang maniak Korea. Lagu, film, novel, apa pun asalkan mencantumkan label Korea, Nayla pastilah bahagia dan langsung menyerbu barang tersebut. Sampai di pertigaan, Nayla membelokkan mobil. Tak sampai beberapa menit Nayla menepikan mobil ke sebuah toko bakery. Antoni’s Bakery, salah satu toko kue yang direkomendasikan oleh Rei. Antoni … Toni. Haruskah Nayla menaruh kecurigaan?  Menepis pikiran buruk, Nayla memarkirkan mobil di depan toko. Bagian depan bakery tampak lengang, hanya ada satu dua pembeli. Nayla keluar dari mobil dan masuk ke dalam toko. Aroma manis cokelat dan gula segera menyerbu indra penciuman Nayla. Deretan kue dan roti membuai pengelihatan Nayla. Mengambil nampan, Nayla segera memilih beberapa roti dan bergegas menuju kasir. Seorang wanita paruh baya tersenyum pada Nayla. “Cokelat,” kata si wanita. “Ya?” “Semuanya cokelat,” tunjuk si wanita pada pilihan Nayla. Aha, pahamlah Nayla. “Kegemaran,” jawabnya.  Wanita itu mengangguk. “Sama seperti anak saya.” “Benarkah?” “Iya,” balas si wanita. Ia memasukkan kotak yang berisi pesanan Nayla dan mulai menghitung. Setelah Nayla mengangsurkan beberapa lembar uang, wanita itu melanjutkan, “Tapi anak saya sedikit judes.” “Biasa,” sahut Nayla. Ia meraih bungkusan plastik yang berisi kotak kuenya. “Bos di kantorku lebih galak, Bu.” “Benarkah?” “Galak dan judes.” Wanita itu mengelus d**a. “Kamu yang sabar, ya?” Nayla hanya terkekeh mendapati empati si perempuan. “Sudah biasa, Bu.” Sudah biasa teraniaya, lanjut Nayla dalam hati. *** Catur mulai merapikan rak berisi roti tawar dan aneka biskuit. Senyum masih tak lekang dari wajahnya. Ia terbayang wajah wanita yang mengaku memiliki bos galak. Sungguh malang nian nasibnya. Semuda itu harus menghadapi manusia berwatak keras. Suara derik pintu mengalihkan perhatian Catur. Di mulut pintu, Toni menatap masam. “Ma,” katanya, “ayo pulang.” “Sebentar,” jawab Catur seraya menunjuk beberapa kue. “Mama ingin ngeberesin ini dulu.” Tanpa diminta, Toni segera mengambil alih pekerjaan Catur. Toni tak banyak bicara. Lucu rasanya melihat pria berjas merapikan kue dan memasukkannya ke dalam kulkas. Hal yang jarang dilihat Catur pada pria zaman sekarang. Tentu saja, toko ini pun hadiah dari Toni untuk menyenangkan Catur. Toni tahu, Catur senang memasak. Setidaknya Toni bisa memberikan kegiatan yang membuat Catur lupa pada pria yang tak bertanggung jawab tersebut. “Toni, kamu tahu nggak?” “Ya?” sahutnya sembari mematikan lampu dapur. “Tadi ada cewek, lucu.” Toni sudah bisa menebak, akhir pembicaraan ini pasti akan menuju ke sebuah muara: pernikahan. Tak ingin mendengar lebih jauh senandung Catur mengenai pernikahan, Toni berinisiatif menggiring Catur keluar dari toko. Mengunci pintu, Toni berkata, “Ma, semua cewek menurut Mama itu lucu. Apa bedanya dengan yang ini?” “Dia punya bos galak.” Beku. Toni mendapatkan firasat buruk. “Kayak kamu.” Nah, dua kata terakhir itu benar-benar terasa…. Pedih. *** Di depan laptop, Nayla tak bisa menghentikan derai air matanya saat melihat drama Korea mempertontonkan adegan seorang wanita yang mulai kehilangan daya pengelihatannya. Di atas ranjang, Nayla mulai membersit dan melempar tisu secara serampangan. “Tidak,” raungnya, “padahal baru aja ketemu dan bersatu. Takdir cinta memang kejam.” Dering ponsel mengalihkan perhatian Nayla. “Ya,” jawab Nayla setelah memencet tombol terima. “Kamu nangis?” seru suara di seberang telepon. “Nda, udah deh, apaan?” “Nay, jangan bilang kamu ditolak cowok,” tekan Miranda, “lagi.” Mendengus, Nayla berdecak, “Nda, hidupku nggak setragis itu.” Terjemahan, hidupku lebih tragis dari drama Korea. “Kamu masih punya artikel restoran Korea yang ditanganin Edi, nggak?” Mengelap ingus, Nayla menjawab, “Ya, aku punya. Kalau kamu butuh akan aku kirimin langsung via surel. Oke?” “Uwwww, kamu yang terbaik deh.” “Nggak usah muji kalau ujung-ujungnya njatuhin.” “Nay, makanya cari pacar.” Segera, Nayla memutus sambungan.   V
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN