Sepanjang perjalanan menuju rumah Nayla, Miranda terus melontarkan berbagai macam kalimat yang tidak pantas didengar oleh anak di bawah umur. Andai ibunda Nayla mendengar langsung susunan kalimat milik Miranda, Nayla yakin wanita itu akan langsung menjewer telinga Miranda tak peduli ia teman Nayla atau bukan. “Gila!” seru Miranda. Ia duduk di dekat Nayla yang tengah mengemudikan mobil. Kedua matanya menatap kaca spion bagian tengah yang menampilkan sosok Toni yang terbujur lemah di jok belakang. “Kok kamu tolongin sih? Bagaimana kalau Pak Toni ngamuk? Nay, Pak Toni.” “Terus kamu maunya aku gimana?” balas Nayla, ketus. “Bohong itu dosa, Nda.” “Enggak,” Miranda menepis ucapan Nayla. “Kalau demi kebaikan.” “Aku kan nggak tahu alamatnya.” Miranda mengerucutkan bibir, jemarinya mengetuk da

