Chap 4

1143 Kata
Saat ini Anaya sedang berada di pusat perbelanjaan. Ia hanya membeli sepatu saja. Anaya tampak sedang menelpon seseorang. Dengan tangan sebelah kanan setia mencari sepatu yang ia beli. "Iya ma nanti Naya usahain." "Naya jangan usaha mulu, kamu aja gak pergi ke markas kan?" "Naya gak ada waktu ke markas ma." "Naya setidaknya kunjungi markas sebentar karna kamu pemimpin selanjutnya." "Kenapa harus Naya sih ma, kenapa gak yang lain aja " "Itu sudah ada panduannya." "Ck, mama sama kakek sama aja." Anaya masih setia memilih sepatu. Ia menelpon mamanya menggunakan headset. Yah yang sedang berbicara bersama Anaya adalah Salsa. Brukk "Eh maaf," ucap wanita yang menabrak Naya sehingga sepatu yang di pegang Anaya terlepas dari tangan Anaya. "Oh gak papa," kata Anaya. Dan melihat sekilas wanita itu dan mengambil sepatunya yang terjatuh. "Udah dapat sayang?" tanya pria yang berpakaian setelan kantor. Ia mendekati ke arah wanita yang menabrak Anaya dan memeluk pinggang wanita itu. "Yang aku cari gak ada." wanita itu menggelengkan kepalanya. "Kita cari si tempat lain yah." pria itu mencium kening wanita tersebut dengan manja dan pergi meninggalkan Anaya. Anaya masih saja terus menatap pria yang sepertinya ia kenal dan wajah pria itu tidak asing bagi Naya. Tapi siapa "Anaya are you okay." Anaya tersadar dari lamunannya akibat dari suara mamanya. "Im okay." "Jangan lupa pesan mama." "Iya ma." "Bye sayang nanti mama kesana." "Secepatnya naya kangen." "Iya." Sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Salsa. Anaya membayar sepatu yang ia beli. Dan saat akan keluar dari toko sepatu ia menabrak seorang laki laki. Brukk "Awww," ringis Anaya saat tangannya terbentue keras dengan tangan laki laki yang menabraknya. "Eh maaf gue gak sengaja." Anaya mendongakkan kepalanya dan terkejut dengan apa yang ia lihat. Gak gak mungkin, ini mimpi sadar Anaya sadar batin Anaya. "Naya," gumam laki laki itu. "Naya kan ini abang Nay." laki laki itu adalah Iqbal ephraim whitelaw abang kandung Anaya. "Maaf saya tidak kenal anda." "Naya maaf." "Simpan kata maaf itu." "Kita bisa kan omongin ini baik baik." "Ngomongin baik baik maaf gak bisa!" Iqbal menahan tangan Anaya saat Anaya akan pergi. Tetapi Anaya melepas tangannya kasar. "Jangan pernah mengganggu kehidupan saya lagi atas apa yang keluarga anda perbuat kepada saya!" ucap Anaya penuh penekanan dan pergi meninggalkan Iqbal. "Maaf aku tau mereka salah atas tindakannya tapi mereka menyesal dengan perbuatannya terhadap kamu anaya, mereka mencari kamu untuk minta maaf," gumam Iqbal melihat kepergian Anaya. Anaya menghapus air matanya yang keluar begitu saja. Bagaimana pun ia sangat rindu dengan kembarannya itu terutama ia rindu kepada mamanya. Karna perbuatan keluarganya sendiri yang membuat Anaya membenci keluarganya. Yang selalu saja menganggap dirinya pembunuh yang jelas jelas bukan Anaya yang melakukannya. * * * * Mark dari tadi memandangi cucunya sejak pulang dari mall Anaya tampak berdiam diri saja dan saat masuk ke dalam mansion pun Anaya tak mengucapkan sepatah kata pun. Stevan pun bingung dengan Anaya yang tiba tiba menjadi pendiam seperti ini. "Naya ada apa?" tanya Mark lembut. Anaya menggelengkan kepalanya. "Cerita sayang." Anaya menggelengkan kepalanya. "Masalah kalo kamu pendam gak akan selesai, cerita saja apa salahnya." lagi lagi Anaya menggeleng. Anaya meninggalkan Mark dan Stevan di ruang tamu. Mark dan Stevan menatap punggung Anaya yang menaiki tangga. Pandangan Anaya lurus kedepan. Anaya duduk di balkon kamarnya memandangi langit yang begitu cerah. JANGAN PERNAH MENGANGGAP KAMI KELUARGAMU ANAK GAK TAU DIRI PEMBUNUH SEPERTIMU TIDAK PANTAS ADA DISINI KECIL KECIL JADI PEMBUNUH Perkataan itu seperti kaset rusak bagi Anaya. Ia sudah menghilangkan ingatan itu tapi kenapa sekarang kembali lagi. Perkataan itu yang membuat hatinya sakit. Sangat sakit sekali Anaya menutup kupingnya dan menggeleng kuat saat suara suara itu berputar di otaknya. "Bukan Naya, naya bukan pembunuh,Naya bukan pembunuh itu bukan Naya!" gumam Anaya dan masih saja terus menggelengkan kepalanya dan menutup rapat kupingnya. "NAYA BUKAN PEMBUNUH!" "NAYA GAK BUNUH MAMA!" "NAYA GAK TAU!" "NAYA BUKAN PEMBUNUH NAYA BUKAN PEMBUNUH!" "Naya hey sadar Naya!" Mark menepuk pipi Anaya mencoba menenangkan pikiran Anaya. Anaya terus saja menggelengkan kepalanya "bukan Anaya, Naya bukan pembunuh kek." isakan tangis Naya. "Kamu bukan pembunuh sayang." Stevan menenangkan Anaya. "Itu bukan naya Boo, naya bukan pembunuh Boo." "Boo percaya sayang please stop!" Stevan mencoba menenangkan Anaya yang terus saja menutup kupingnya. "Naya gak bunuh siapa siapa." Mark memeluk Anaya. "Mereka hiks bilang Naya pembunuh hiks." "Gak Naya gak pembunuh." "Mereka bilang kek hiks mereka." "Dengerin kakek sayang kamu tadi ketemu siapa?" "Abang." "Tenang yah gak usah panik." "Mereka jahat, Naya mau ketemu mama hiks." "Nanti ketemu mama." "NAYA MAU SEKARANG!" Anaya memberontak di pelukan Mark. "Mereka jahat sama Anaya." Anaya mengamuk di kamarnya. "Stevan obat penenang!" teriak Mark yang mencoba menenangkan Anaya. "Naya bukan pembunuh!" "Mereka bilang Naya pembunuh!" "Mereka jahat Anaya gak bunuh mama!" "Pembunuh Anaya pembunuh!" Mark kewalahan menenangkan Anaya yang terus saja menjerit dengan cepat Stevan menyuntikkan obat penenang yang di campur obat tidur. Agar anaya bisa lebih rileks. Mark membaringkan Anaya di kasur queen size. Anaya terlelap. Mark mengelus kepala Anaya dengan sayang dan mengecup dahi Anaya. "Cucuku depresi," gumam Mark. "Dia depresi saat melihat bayangan masa lalu." "Baru kali ini dia seperti ini sebelumnya tidak begini." "Stevan telpon Salsa," pinta Mark. Stevan pun menelepon Salsa setelah tersambung ke Salsa, Stevan menyerahkan telepon ke Mark. "Halo ada apa dad?" "Anaya mengamuk." "Hah! Kenapa bisa?" "Dia depresi saat melihat bayangan masa lalunya." "Bagaimana bisa dia mengingat masa lalunya daddy? sebelum salsa angkat menjadi anak ,naya baik baik saja dad dan selama ini dia tidak pernah depresi." "Dia pergi ke mall dan bertemu abangnya." "Abangnya?" "Pulanglah Salsa, Anaya butuh kamu." "Salsa akan cek penerbangan dan kesana bersama Arka." "Baiklah hati hati." "Iya daddy." Mark memutuskan sambungan telepon sepihak. Mark melihat Anaya dengan perasaan kasihan. Ia heran kenapa Anaya tiba tiba depresi seperti ini biasanya  dia selalu ceria saja. Sedangkan dilain tempat. Arka sudah pulang kerja dan bertepatan dengan Salsa yang selesai menelpon Mark. Salsa menyambut Arka dengan senyuman dan menyalami punggung tangan Arka dan Arka menciumi kening Salsa. "Kita harus pulang ke indo Arka," ucap Salsa saat Arka sudah duduk di sofa. Arka mengernyitkan dahinya bingung. "Kenapa? Bukannya sebulan lagi kita ke indo?" "Kita harus pulang demi Anaya." "Anaya baik baik saja kan?" "Dia mengamuk dan Anaya depresi." "Depresi bagaimana selama kita merawarnya dia baik baik saja." "Dia pergi ke mall dan bertemu dengan abang kandungnya dan dia keingat dengan masa lalunya sehingga membuat beban di otaknya berpikir terlalu keras dan membuat dirinya mengamuk." "Aku akan cek penerbangan kita terbang malam ini juga." Arka tampak khawatir saat mendengar Anaya depresi. Sebelumnya anaknya itu tidak pernah depresi apapun dan tampak sehat saja. Tapi kenapa sekarang Anaya depresi. Jika tidak diatasi dengan cepat maka akan mengganggu jiwanya sendiri. Arka dan Salsa tampak sedang berkemas karna Arka memutuskan untuk pergi menggunakan jet pribadinya saja. "Udah siap?" tanya Arka. Salsa menganggukkan kepalanya. "Pekerjaan kamu bagaimana?" "Sudahlah ada ajudan aku yang ngurusin sekarang anak aku lebih penting dari pekerjaan." Salsa salut dengan Arka biarpun bukan anak kandung tetapi Arka menyayangi Anaya layakanya anak sendiri. Memang saat ini Arka dan Salsa belum di kasih kepercayaan untuk menjadi orangtua kandung sesungguhnya. Mungkin tuhan memiliki jalan lain untuk Arka dan Salsa mendaptkan momongan. Dan tuhan belum menyuruh Salsa untuk memberi kepercayaan kepada Salsa. Tetapi itu tidak membuat Salsa dan Arka menjadi patah semangat karna kehadiran Anaya saja sudah cukup untuk mereka berdua. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN