Helaan napas kasar lolos begitu saja dari mulut Fasya. Tangannya terangkat untuk merasakan rintik air yang mulai turun dari langit. Dia mulai menengadahkan wajahnya sehingga wajahnya mulai basah, berharap jika air itu juga akan menghapus ingatannya. Rasa pusing kembali menyerang Fasya. Dia masih tidak tahu harus berkata dan berbuat apa saat ini. Ingatannya terus berutar akan rekaman ucapan Adnan. Pria itu menyukainya? Tidak, pria itu berkata mencintainya. Fasya sudah cukup dibuat bingung dengan perubahan tingkah Adnan akhir-akhir ini. Ternyata perubahan pria itu memiliki maksud. Perasaan istimewa itu yang membuat semua sikapnya berubah. Setelah Adnan dan Saka pergi dari restoran, Fasya masih duduk di sana selama beberapa menit. Merenungi semuanya dan berusaha meyakinkan diri jika ucap

