Fasya menatap beberapa kantong belanjaan di tangannya dengan perasaan senang. Lupakan fakta jika dia pernah berjanji untuk menghargai uang. Dia akan menghargai uang, tetapi tidak untuk saat ini. Fasya sedang terlena dan membeli barang yang sudah ia inginkan sejak dulu.
Tidak, Fasya bukan termasuk orang yang kurang mampu. Kakeknya selalu mencukupi kebutuhannya. Hanya saja, Fasya lebih sadar diri sehingga tidak mau merepotkan kakek dan neneknya. Dia tidak mau kakek dan neneknya bekerja lebih keras hanya untuk memenuhi keinginannya.
Sebenarnya Fasya cukup bijak, tetapi jika berhadapan dengan Adnan adalah pengecualian. Pria itu tidak memberikan uangnya dengan cuma-cuma. Adnan sudah menjual namanya di depan Kakek Faris dan tentu Fasya harus mendapatkan keuntungan dan memanfaatkannya.
"Java Chip Frappucino satu ya, Kak. Yang grande."
Setelah berkeliling memanjakan dirinya akhirnya Fasya memilih untuk beristirahat dan membeli minuman. Dia sudah lelah berjalan ke sana-ke mari tetapi anehnya uang pemberian Adnan masih ada.
Apa dia kurang boros?
"Fasya?" panggil seseorang di belakangnya.
Fasya menoleh dan terkejut mendapati Damar, salah satu karyawan kantor yang membantu kegiatan magangnya.
"Loh, Mas Damar di sini?" tanya Fasya tersenyum lebar.
"Iya, lagi sama anak-anak juga. Tuh." tujuk Damar pada salah satu meja di mana Fasya mengenal beberapa dari orang itu.
"Lagi kerja, Mas?"
"Enggak, kok. Lagi bahas project sambil santai. Biar kehitung lembur," ucapnya berbisik di kalimat akhir. "Gabung, yuk?"
Fasya terlihat berpikir sampai akhirnya dia mengangguk. "Boleh deh, semoga aku nggak ngang ngong ngang ngong denger pembahasan kalian."
Damar berdecak, "Enggak lah, Shanon malah curhat habis putus sama pacarnya."
Apa yang dikatakan Damar benar. Para karyawan yang terdiri dari beberapa departemen itu bukan hanya membahas tentang perkerjaan, tetapi juga membahas hal-hal yang tak penting. Seperti kenapa kepala burung hantu bisa berbutar hampir 360 derajat sedangkan kelelawar tidak? Kenapa juga kelelawar bisa tidur menggantung tetapi burung hantu tidak? Terdengar konyol memang, tetapi hal-hal kecil inilah yang membuat para karyawan tetap waras di tengah banyaknya pekerjaan.
"Kalau ada Dinar pasti lengkap deh formasi," ucap Damar tiba-tiba.
Mata Fasya menyipit mendengar itu. Dia mengangguk dan tersenyum penuh arti. "Mau aku suruh ke sini, Mas?"
"Boleh, Sya. Biar kerjanya Damar jadi semangat," celetuk Hanum.
Seketika siulan serta godaan mulai terdengar. Wajah Damar memerah dengan kesal. Kesal karena dia harus menahan malu dari godaan teman-temannya. Oh ayolah, dia hanya sekedar bertanya tadi.
"Semua nunduk!" tiba-tiba Shanon berucap keras sambil mendorong kepala Fasya yang duduk di sampingnya agar segera menunduk.
"Kenapa?" bisik Hanum penasaran. Anehnya semua karyawan yang terdiri dari delapan orang itu kompak menunduk.
"Gue liat Bu Kinan."
"Hah, mana?" Saka, salah satu karyawan dari departemen keuangan dengan santainya kembali mengangkat kepalanya dan melihat ke sekitar.
"Wih, sama cowok!" celetuknya.
Mendengar itu, semua orang kompak menegakkan kepalanya dan melihat ke arah di mana Kinan berada. Begitu juga Fasya. Sekilas dia melihat Kinan yang berjalan menjauh sambil menggandeng seorang pria.
"Mana? Kagak ada." Damar melihat sekitarnya dengan bingung.
"Udah pergi," ucap Shanon. "Tapi beneran tadi sama cowok. Iya kan, Ka?"
"Siapa cowoknya?" Hanum bertanya dengan penasaran.
"Nggak keliatan, gue cuma liat punggungnya tadi," jelas Saka.
Shanon terlihat berpikir, "Dari belakang sih kayanya orang ganteng."
"Ya kali Bu Kinan sembarangan pilih cowok. Yang ada minder kalau nggak satu level," celetuk Hanum.
Ucapan para karyawan tidak begitu Fasya perhatikan. Dia terdiam dengan melamun. Otaknya tengah berpikir keras saat ini. Meskipun hanya sekilas tetapi dia merasa tidak asing dengan pria yang bersama Kinan. Apalagi dengan pakaian polo yang dikenakan pria itu. Itu baju yang sama dengan apa yang Adnan kenakan tadi.
"Nggak mungkin!" Fasya tiba-tiba berucap dan menutup mulutnya terkejut.
"Apanya yang nggak mungkin, Sya?" tanya Saka bingung.
Fasya tersadar dan menggeleng, "Itu— maksudnya iya bener nggak mungkin kalau Bu Kinan sembarangan pilih pacar."
Perasaan Fasya langsung berubah. Dia tidak lagi memiliki semangat untuk memgikuti pembicaraan ini. Entah kenapa apa yang ia lihat tadi sedikit mengusik hatinya. Bagaimana jika benar Adnan dan Kinan adalah sepasang kekasih? Mengetahui fakta jika pria itu menjalin sebuah hubungan sudah cukup membuatnya terkejut, dan sekarang ditambah dengan Kinan.
Ada sedikit rasa tidak suka di hati Fasya. Bukan cemburu, dia hanya tidak percaya jika Adnan berani berbuat nekat dengan mengencani wanita lain di saat pada kenyataannya dia sudah menikah. Fasya tahu jika pernikahan ini bukanlah pernikahan yang sebenarnya, tetapi tetap saja banyak hal yang mengganggu kepalanya saat ini. Bagaimana jika kakek mereka mengetahui ini semua?
"Kok ngelamun, Sya?" Saka melambaikan tangannya.
Fasya menggeleng dan menunduk, "Nggak kok, Mas. Cuma tiba-tiba agak pusing aja. Aku izin pulang duluan boleh?"
"Kamu sakit?" Shanon terlihat khawatir.
"Biar aku antar." Saka beranjak untuk berdiri.
"Nggak usah, Mas. Aku bisa sendiri kok."
"Udah, anterin aja, Ka. Kasian Fasya kalau pulang sendiri," ucap Hanum.
Fasya tidak bisa menolak. Dia bergumam terima kasih pada semua orang dan beranjak untuk pergi. Semua terjadi begitu mendadak dan membuat Fasya seketika linglung. Perlahan teka-teki seolah terjawab. Adnan mengajaknya keluar agar bisa bertemu dengan seseorang yaitu Kinan. Tak heran jika dia harus berbohong pada Kakek Faris.
Dasar otak licik!
***
Fasya turun dari ojol pesananya sambil melepas helm yang ia pakai. Dia melirik rumahnya dengan penasaran. Apa mobil Adnan sudah ada? Itu yang ada di pikirannya saat ini.
"Makasih ya, Pak. Hati-hati."
"Iya, Neng."
Fasya berjalan pelan menuju pagar. Belum sempat membukanya, pagar besar itu sudah dibuka lebih dulu dari dalam. Muncul Pak Yanto yang tersenyum padanya.
"Udah pulang, Mbak?"
"Iya, Pak."
Fasya masuk dan melihat lagi ke arah garasi. Dia bisa melihat mobil Adnan di sana. Ternyata pria itu sudah kembali. Tentu saja! Langit sudah gelap, jika Adnan tidak pulang maka Fasya semakin berpikiran yang tidak-tidak.
"Bapak udah pulang ya, Pak?" tanya Fasya pada Pak Yanto.
"Sudah, Mbak. Sekitar jam 7 malam tadi."
Fasya mengangguk, "Kalau gitu saya masuk dulu ya, Pak."
Fasya berjalan masuk dengan santai. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam tetapi dia baru sampai di rumah. Saka memang mengantarnya tadi, tetapi bukan ke rumahnya melainkan rumah Dinar. Fasya ingin menenangkan diri dan menghindari semua hal yang mengingatkannya tentang pernikahan konyol ini. Sekarang dia sudah harus kembali ke realita.
Dengan bersenandung pelan, Fasya berusaha membuka pintu kamarnya. Dia terlihat kesusahan dengan kantong belanjaan yang ia bawa. Dia masih berusaha sampai akhirnya mendengar suara pintu terbuka di belakangnya.
Fasya menoleh dan melihat Adnan yang menatapnya datar, seperti biasa.
"Kenapa pulang?" tanya Adnan tiba-tiba.
"Hah?" Fasya tampak bingung.
"Nggak kurang malem?"
Fasya menutup mulutnya saat sadar jika Adnan tengah menyindirnya saat ini. Oh ayolah, apa mereka harus berdebat lagi?
"Oh, harusnya pulang nanti jam 12 aja ya?" gumam Fasya sengaja agar Adnan mendengarnya.
"Sekalian nggak usah pulang kalau gitu."
Fasya tersenyum sumringah, "Aku boleh pulang ke rumah Kakek?"
Terdengar Adnan menarik napas dalam dan menghembuskannya. "Mulai sekarang kamu ada jam malam. Jam 7 sudah harus ada di rumah."
"Kok gitu? Nggak mau!"
"Ini masih rumah saya kalau kamu lupa."
Dengan cepat Fasya meletakkan belanjaannya kesal. "Seharusnya Mas Adnan juga nggak lupa perjanjian kita. Jangan pernah ikut campur urusan masing-masing!"
Adnan melipat tangannya di d**a. "Saya nggak peduli kamu ngapain aja di luar sana. Yang saya mau kamu sudah ada di rumah jam 7 malam. Saya nggak mau ambil resiko karena di mata kakek, saya yang bertanggung jawab atas kamu."
Mata Fasya menyipit, "Mas Adnan khawatir?" godanya.
"Jangan harap. Seharusnya kamu berterima kasih karena kalau sampai kakek tau kamu pulang malam dan marah, saya nggak akan bantu kamu."
Fasya mencibir, "Marah cuma karena pulang malem? Nggak mungkin. Yang ada kakek marah pas tau kalau Mas Adnan punya pa—" ucapan Fasya terhenti saat hampir saya dia kelepasan.
"Punya apa?"
"Nggak papa." Dengan cepat Fasya berbalik akan masuk ke dalam kamarnya, tetapi tiba-tiba pintu kembali tertutup saat Adnan menariknya. Pria itu sudah berada di belakangnya saat ini.
"Jauh-jauh!" teriak Fasya panik.
"Punya apa?"
"Apa?" tanya Fasya pura-pura polos.
"Fasya...,"
Fasya berdecak dengan kesal, "Mulai sekarang Mas Adnan jangan pernah ganggu aku atau ikut campur urusan aku kalau nggak mau Kakek Faris tau Mas Adnan punya pacar."
Adnan terdiam mendengar itu. Ada ekspresi terkejut dan kesal di wajahnya. Belum sempat dia membalas, Fasya sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
"Fasya!" teriak Adnan.
"Nggak denger!" balas Fasya dari dalam.
Adnan menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. Setelah itu dia kembali masuk ke kamarnya. Adnan masih bingung bagaimana bisa Fasya mengetahuinya? Dia sudah sangat berhati-hati selama ini dan sialnya kenapa harus Fasya yang mengetahuinya?
Adnan yakin jika dengan otak liciknya, Fasya akan memanfaatkan fakta itu.
"Dasar bocah, bikin repot aja."
***
TBC