"Tidak ... Tidak! Chloe! Chloe! Aku mohon buka matamu!!" Samar-samar teriakan yang memanggil namanya itu, terdengar di antara kegelapan. Sekalipun kepalanya menoleh ke sana kemari, Chloe bahkan tidak dapat melihat tubuhnya sendiri. Dingin dan gelap. Suara itu terus memanggil namanya, sesuatu yang hangat terasa menyentuh wajahnya. Chloe sudah lelah berteriak, bibirnya seolah membeku oleh dinginnya udara. Entah sudah berapa lama, ia bertahan di sini. Di tempat sunyi dan gelap seorang diri, tubuhnya hampir membeku sampai satu jari pun terasa sulit digerakkan. Chloe masih menunggu Sean, andai saja lengan dan kakinya tidak terikat, ia akan berusaha melarikan diri. Tanpa perlu melibatkan Sean, Chloe tidak mau lelaki itu terluka. Satu-satunya harapannya bertahan adalah kenangan manis yang ber

