Untuk ke sekian kalinya, sepasang anak manusia itu memalingkan wajah. Rona kemerahan merambat di sepanjang pipi dan telinga, hal itu tak luput dari pandangan Alexa yang mendengkus melihatnya. Aroma sedap makanan yang masih menguarkan uap panas, seolah tak menarik bagi Chloe dan Sean. Mereka sama-sama canggung, terlebih lagi ketika harus duduk berhadapan di meja makan yang sama. Bunyi nyaring terdengar ketika Alexa menjatuhkan sendok di tangannya sampai menyentuh piring dengan keras, dia menatap malas pada dua sosok insan yang sama sekali tidak terpengaruh oleh bising tadi. “Jika orang lain yang melihatnya, mereka akan berpikir kalian seperti remaja yang baru di mabuk cinta.” Alexa akhirnya mengeluarkan suara setelah tiga puluh menit memilih diam, dia sebenarnya tidak masalah dengan tin

