Sesuatu yang Mereka Temukan

1825 Kata
Tikus-tikus nakal. Ini pasti kerjaan mereka.   Begitulah yang ada di benak Hores, anak lelaki terkecil dalam keluarga tersebut. Belum sempurna matanya terbuka, ia berjalan gontai. Akhir-akhir ini, anak lelaki itu tak bisa tidur dengan tenang, sama seperti malam ini. Sering kali terdengar gaduh dari belakang lemari.    'Siapa lagi kalau bukan mereka?’    Lagi-lagi anak lelaki itu menggumam. Ia tahu, ini pasti ulah mereka.  Tikus-tikus itu tidak hanya membuat gaduh dan kekacauan sepanjang malam. Mereka mungkin akan berpesta di tumpukan barang tak terpakai yang diletakan di ruang penyimpanan, di celah-celah pintu, maupun di bawah kasur dan berdecit ria, begitu mengganggu telinga. Seringkali mereka mencuri makanan di meja maupun dapur begitu Hores dan Halum lengah. Bahkan, tanpa permisi masuk dan bersembunyi di kolong tempat tidur anak lelaki itu, meskipun yang ini jarang terjadi karena jebakan-jebakan tikus sudah ia pasang di beberapa tempat dan lumayan membuahkan hasil.  Mereka terus bercicit, berisik sekali. Mengganggu tidur dua anak lelaki itu. Namun Halum, Sang kakak terlihat lebih tenang dibanding Hores yang sejak tadi bergerutu dan merutuki mereka dalam hati. Mungkin telinganya mulai terbiasa dengan celotehan dan keriuhan tikus-tikus nakal yang mengganggu malam panjangnya. Buktinya, saat Hores mengeluh dan membanting tubuhnya di sofa, Halum malah terlihat santai-santai saja. Anak lelaki itu dengan asyiknya meneguk segelas jus jeruk yang begitu dingin tanpa menyisakan setetes pun untuk si bungsu yang sudah mencondongkan bibirnya itu melihat kelakuan Halum. ‘Halum sungguh menyebalkan,’batin Hores.   Anak lelaki itu tak habis pikir, kenapa sang kakak terlihat santai-santai saja dan bisa-bisanya menikmati segelas jus jeruk tanpa menawarinya. "Apa?" Tiba-tiba Halum menoleh ke anak lelaki itu dan bertanya, seolah tahu jikalau ia tengah menggerutuinya dalam hati. Hores menggeleng pelan, sebagai anak lelaki yang paling kecil, ia selalu kalah dari Halum. Bukan tidak ingin melawan sang kakak karena sudah menemui kekalahan berkali-kali, ia hanya merasa lelah untuk berkelahi dengan Halum karena ia sudah cukup lelah hanya dengan mendengar kegaduhan dari tikus-tikus yang mengganggu ketenangannya.  "Kau kesal tak kutawari jus jeruk ini?" Tiba-tiba Halum bersuara, membuat Hores seketika memalingkan wajah, menatapnya dengan ekspresi tak percaya. 's**l! Rupanya ia tahu apa yang aku batinkan.’ Lagi-lagi anak lelaki itu menggerutu dalam hati. Bagaimana mungkin apa yang ada di pikiran anak lelaki itu bisa sampai di kepala Halum? 'Ia selalu pandai menebak pikiranku. Apa ia punya kemampuan khusus?’ Batinnya lagi.   Anak lelaki itu masih memandangi sang kakak yang tak melirik nya sama sekali. Anak lelaki itu terlihat santai, menyenderkan tubuhnya ke sofa dan sedikit mendongakkan kepala. Membiarkan kepalanya itu bersandar menatap langit-langit ruang tersebut. "Kau pasti sedang berpikir, mengapa aku tahu kalau kau ingin jus jeruk, kan?" Anak kecil itu menelan ludah mendengar hal yang baru saja keluar dari mulut Halum. 'Bagaimana mungkin semua tebakannya benar? Anak lelaki itu berpikir, jika begini caranya, lebih baik ia diam dan tidak membenak apapun, alih-alih semua rutukannya dalam hati dapat di dengar oleh Halum. "Kalau kau mau, ambil saja di lemari pendingin!" Dengan sigap, Hores mengangguk mendengar instruksi dari sang kakak. Meski Halum terlihat menyebalkan, rupanya ia masih punya rasa peduli pada Hores sebagai adiknya. Anak lelaki itu tersenyum, terlihat senang sambil membayangkan jus jeruk yang begitu segar akan mengalir ke tenggorokannya yang kering. 'Ah, membayangkannya saja sudah nikmat sekali.’ Tangannya langsung menyambar pegangan lemari pendingin dua pintu begitu ia tiba di dapur. Ada sekotak jus jeruk kemasan yang sudah dibuka oleh Halum. Anak lelaki itu berlari menuju rak, mengambil secangkir gelas dan mulai menuangkan jus jeruk kotakkan yang ia ambil dari lemari pendingin. Muka cerah itu berubah seketika, melihat cairan berwarna oranye itu berhenti mengalir. Setegukan, Halum hanya menyisakan untuknya setegukan. 'Benar-benar menyebalkan. Awas kau, Halum. Akan kubalas perbuatanmu!’ Bibir anak kecil itu kembali mengerucut, sedang Halum yang sudah tahu akan hal itu tertawa terpingkal-pingkal di ruang tamu. "Awas kau, Halum!" Anak lelaki itu berteriak dari dapur. Ia benar-benar jengkel dengan kelakuan sang kakak yang sejak dulu selalu menyebalkan. Anak lelaki itu kembali dengan wajah masam, memegang kotak jus jeruk yang kosong. "Cukup, Hores! Haha ... Lihat bibir itu! Kau jelek sekali!" Halum mulai mengejek adiknya yang terlihat kesal. Melihatnya memasang wajah yang suram selalu menyenangkan bagi Halum. Hores sudah seperti mainannya di rumah itu. "Kau kakak paling menyebalkan!" ucap Hores setengah berteriak. Ia lalu membanting kan tubuhnya di sofa. "Kau juga anak kecil yang menyebalkan, Hores!" Halum masih saja meledek anak lelaki yang terlihat sebal itu. Bibir Hores semakin mengerucut. Lagipula, apa yang bisa ia lakukan? Ia tidak bisa melawan kakaknya itu, kan? Lagi-lagi ia hanya bisa menggerutu. "Aku bukan anak kecil!" Anak lelaki itu membantah dengan ketus, sementara Halum kembali tertawa. Terpingkal-pingkal. "Lihat saja kalau Ibu kembali! Aku akan membeli sepuluh kotak jus jeruk dan aku tidak akan memberimu sedikitpun!" Mendengar ancaman yang keluar dari bibir anak lelaki itu, Halum tertawa makin geli. Di matanya Hores tetaplah anak kecil yang pantas ia goda, meskipun anak lelaki itu memang bukan anak kecil lagi. Tingginya kini hampir sama dengan Halum yang terpaut 3 tahun lebih tua darinya. "Terserah kau saja, Anak Kecil!" Tiba-tiba anak lelaki itu terdiam. Ia melempar tatapan nakal ke arah Halum. Sesuatu telah muncul di kepalanya. Ia mulai berpikir usil. Setelahnya, anak lelaki itu berlari menubruk tubuh Halum yang sedang bersender di sofa hangat. Tangannya mulai nakal mengelitiki pinggang Halum, hingga anak lelaki itu menggeliat-geliat tertawa kegelian. "Cukup, Anak Kecil! Haha. Geli!" Hores malah makin bersemangat, ini ajang balas dendam yang tepat. Halum ingin tertawa, bukan? Hores akan membuatnya tertawa sampai puas! "Cukup! Hahaha... atau kau haha akan-" Belum habis ucapan Halum, Hores sudah memotongnya tanpa permisi. "Atau apa?" Dug!   Tiba-tiba, pergerakan keduanya terhenti. Dengan kompak mereka menengok ke arah suara tersebut. "Suara apa itu?" ujar Halum dan Hores bersamaan. Mereka berdua diam. Hores menghentikan gerakan jemarinya, juga Halum yang menghentikan ledakan tawanya. Mereka berdua saling tatap, 'ada apa?' Keduanya mengangkat bahu. Tidak tahu. Suara itu terdengar lagi dengan tempo berjarak panjang. Semakin keras. Halum berjalan mencari asal suara dengan tongkat baseball yang ia ambil di sudut ruangan. Dan Hores membuntutinya dari belakang dengan sangat hati-hati. Ia juga memegangi kaus Halum, mencoba bersembunyi di balik tubuh anak lelaki itu. "Jangan tarik-tarik kausku, Anak Kecil! Kau takut, hah?" Tiba-tiba suara Halum menghentikan tubuh Hores yang hampir saja menabraknya karena sang kakak yang tiba-tiba mengenhentikan langkahnya. "Aku tidak takut! Sudah kubilang, aku bukan anak kecil!" Anak lelaki itu membantah. Ia tak Terima terus menerus dipanggil demikian oleh sang kakak. Namun, Halum yang ia ajak bicara tidak menghiraukan segala bantahan yang keluar dari mulut anak lelaki itu. Ia terus berjalan hati-hati, sambil mempertajam telinganya. Sekarang, menemukan apa membuat mereka penasaran, jauh lebih penting dibanding ocehan anak lelaki itu. Suara yang membuat mereka bertanya-tanya itu semakin terdengar gaduh saat Halum membuka pintu ruang penyimpanan yang letaknya di paling ujung. Itu adalah sebuah ruangan yang sengaja Winessa gunakan untuk menyimpan barang-barang yang sudah tak terpakai lagi. "Kau mau ikut masuk atau tidak, Hores?" Tanpa menoleh sedikit pun ke arah adiknya, Halum bertanya. Tangannya masih memegang erat tongkat baseball  dan matanya masih mengedar ke sekeliling  Hores menelan ludah, membayangkan ruangan gelap dan berdebu yang dipenuhi dengan barang-barang yang kotor karena lama tak dikunjungi. Sebenarnya ia paling malas masuk ruang penyimpanan. Membayangkannya saja sudah membuatnya kembali mencondongkan bibir. Akan tetapi, jika ia tidak ikut masuk Halum  akan mengejeknya lebih parah dan Hores tidak ingin itu terjadi. Akhirnya anak lelaki itu menganggukan kepalanya yang terasa berat. “Iya. Aku akan ikut masuk bersamamu, Halum.” Ia melangkah mengikuti  Halum yang terlihat lebih berani dibanding dirinya. "Bagus!" Anak lelaki itu tersenyum kecut. Keterpaksaan membuatnya harus memberanikan diri untuk masuk ke ruangan ini. Halum mulai mencari-cari di mana biang keributan itu berasal. Ia menelusuri semua sudut, hingga telinganya menangkap sinyal yang kuat pada sebuah jam tua yang tingginya sama dengan Halum. Hanya saja, jam tua itu lebih besar, seperti lemari. Dug! Dug!   “Sepertinya suara itu berasal dari sini, Hores.”   Tempo suara itu makin cepat dan semakin cepat. Hingga gaduhnya tak karuan lagi.    'Tikus-tikus itu pasti sedang berpesta!'    Halum membenak. Ia yakin bahwa di balik jam tua itu, ada lubang tempat para tikus itu bersarang. "Ayo, bantu aku memindahkan jam tua ini!" Hores hanya memandangi Halum dengan tatapan aneh. Raut wajahnya seakan bertanya,'Haruskah aku?' "Iya, Kau! Mana mungkin aku memindahkannya sendiri?" Glek. Anak lelaki itu menelan ludah. Lagi-lagi Hores menganggukan kepalanya dan mulai mendorong jam tua tersebut daripada harus kena marah Halum yang wajahnya mulai terlihat serius. "Begitu kita berhasil mendorong jam tua ini, akan kupukuli tikus-tikus menyebalkan itu!" Hores mengangguk sambil terus mendorong jam tersebut. Ia tiba-tiba saja menjadi seorang penurut dan mengikuti semua omongan Halum. “Ini... berat sekali, Halum.” Setelah mendorong sedikit demi sedikit karena jam tua itu cukup besar, Hores mengelap keringat dengan lengannya dan berhenti sejenak untuk beristirahat. “Bisakah kita tinggalkan saja ini, Halum?” Anak lelaki itu berharap kalau Halum akan mengasihaninya. Namun, tebakannya salah. Halum menatap Hores dengan tatapan yang menusuk. “Lalu? Kau mau tidurmu terus terganggu?” Anak lelaki itu menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak suka tidurnya selalu terganggu, tapi jam tua ini benar-benar berat dan membuatnya lelah karena banyak mengeluarkan tenaga. “Ayo, dorong lebih kuat!” Hores menarik napas panjang dan mulai mendorong dengan sekuat tenaga. Begitu pun Halum yang juga membantu menarik jam tersebut dari sisi yang berseberangan. Akhirnya, jam berhasil dipindahkan beberapa kotak lantai keramik. Namun, tidak ada satupun tikus yang muncul di sana. Jangankan muncul atau berdiam, yang mengintip pun tak ada. Hanya ada sebuah lubang kecil seukuran tutup botol dan keduanya kembali mengangkat bahu dan menyimpan pertanyaan-pertanyaan di kepala mereka. “Tidak ada apapun di sini, Halum.” Hores menarik kaus Halum pelan, “Ayo pergi dari sini. Tempat ini kotor sekali, sepertinya suara itu bukan dari sini, Halum.” Halum bergeming. Ia yakin betul suara itu berasal dari balik jam tua ini. Ia tidak menghiraukan Hores sedikit pun. “Bisakah kau bantu aku? Bawakan aku senter. Aku rasa mereka bersembunyi di dalam lubang ini.” Dengan sigap ia berlari ke tempat perkakas yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri, lalu kembali dengan sebuah senter kecil ditangannya. Halum mengarahkan senter ke lubang. Ia rasa, ia melihat sesuatu. Masih diselimuti rasa penasaran yang kuat, akhirnya ia memasukkan jari telunjuknya ke dalam lubang. “Auch, s**l!" Ia meringis, tikus nakal itu menggigit jemarinya. Rupanya, tebakannya benar. Bahwa para tikus itu bersembunyi di dalam lubang tersebut. "Tikus nakal! Lihat pembalasanku! Hores, bawakan aku palu!” Lagi-lagi, Hores berlari ke tempat perkakas. Menuruti perintah Halum layaknya prajurit yang menuruti komando. Ia menyodorkan palu dan Halum mulai merusak tembok tanpa ampun. Ia sudah geram dengan tikus-tikus yang terus mengganggunya. Ia bahkan tak peduli lagi jika nanti Winessa marah setelah melihat apa yang ia lakukan pada tembok di ruang penyimpanan tersebut. ‘Kalau sampai kena, aku akan menghukummu tanpa ampun, teman kecil!' gerutunya. Halum kembali memasukan tangan ke lubang yang sudah melebar. Mencoba menggapai tikus-tikus yang bercicit dengan penuh kemenangan. Seketika, ia mengerenyitkan dahi. Tangannya mengenai sesuatu. Ia rasa itu tidak seperti badan seekor tikus. “Tunggu, apa ini?”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN