Anak lelaki itu mengerjapkan mata berkali-kali. Semua terlihat begitu terang, sangat menyilaukan. Ia melihat lelangit berwarna putih. Tak lama, seorang wanita tertangkap pandangannya. Matanya begitu sembab dan memerah. Wajahnya terlihat lesu dan pucat. Wajah yang sudah lama ia rindukan, terlebih di saat-saat sulit, seperti ketika Bitale menaruh Nettle di kolam air panasnya. “Kau sudah sadar, Hores?” Dengan susah payah, anak itu berusaha mengeluarkan suara. Berat sekali. Seperti seseorang menekan pita suaranya. “I-ibu?” Dengan suara yang lemah, akhirnya ia bisa mengucapkan satu kata yang sangat ingin ia keluarkan. Perempuan di hadapannya itu mendekatkan wajahnya. Mengelus rambut Hores pelan dan penuh kehangatan. “Iya, ini ibu. Ibu di sini, Nak. Ibu tidak pergi ke mana pun.” Perempu
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


