Haruskah Aku Terima Tawarannya?

1223 Kata
Pov Alya “Al, Lu beneran mas Herman ngajak ke Luar Negeri?” tanya Della Della adalah sahabat dekatku yang sedikit bawel. Dia yang selama ini sering menjadi tempat curhatku, bahkan ketika Aku berkenalan dan sering chat dengan A-Herman, hanya Della yang Aku kasih tau. Sebab antara Aku dan Della sama-sama saling terbuka, sehingga apapun ceritaku, Della pasti tau. “Beneran tau, Dell. Lagipula kapan sih gue pernah bohongin lu,hehehe”.ujarku, sambil kurapikan semua berkas-berkas kerjaan yang masih menumpuk. Saking menumpuknya, terkadang hal tersebut sering membuatku untuk kerja ekstra alias lembur. “Terus mau ngajak traveling kemana,dia?, berapa hari katanya,Al,?” tanya Della, sambil menggeserkan posisi duduknya mendekati mejaku. Sepertinya Della sangat penasaran dengan cerita yang ingin kusampaikan padanya. “Sabar dong ,cin…, ini gue masih beres-beres berkas dulu, ya. Lu pulang tango juga atau lembur jadinya?” tanyaku, sambil membalikan badanku ke arah Della. “Enggak ah, gue pulang tango juga deh sepertinya. Mumet juga gue habis rekap laporan. Lu mau gak Al, kita ngopi dulu habis pulang kantor? sekalian lu ceritain sambungan cerita mas Herman, gue masih penasaran nih,hehehhe” Jawab Della, sambil mengenggam tanganku, menandakan bahwa dia minta aku mengiakan ajakannya. Aku hanya tertawa kecil, padahal sebenarnya Aku yang ingin mengajaknya untuk menemaniku agar mau menjadi pendengar setiaku nanti. Aku ingin diapun etika Aku menceritakan ajakan A-Herman untuk berlibur ke Luar Negeri. Tapi Ternyata Dellapun sama ingin mengajakku minum kopi, sekedar menghilangkan mumet seharian di kantor. “Ok, Della. Selesai solat magrib kita langsung cus,ya”jawabku sambil kutekan tombol power off komputerku. *** Café Batavia Kota Tua Jakarta Barat “Al, ayo dong, lanjutin ceritanya, kok gue jadi penasaran gini,ya.”rengek Della, sambil menggoyang-goyangkan lengan tanganku. Padahal Baru saja Aku duduk, setelah menunggu pengunjung yang selesai,si Della sudah bawel aja. Café ini setiap week end, selalu di padati oleh pengunjung yang hanya sekedar untuk mengobrol ataupun menghabiskan waktu malamnya, karena lokasinya yang sangat strategis. Café ini juga berada di Kawasan Wisata Kota Tua, sehingga banyak para pengunjung dari dalam dan luar kota yang berwisata di tempat ini. Entah hanya sekedar nongkrong dan ngopi, atau berfoto ria di Kawasan sambil menikmati bangunan peninggalan zaman kolonial. “Ih…!,Lu mah gak sabaran amat sih, kita kan baru saja dapat tempat duduk, lu udah ngajak ngobrol serius aja. Ini aja tas masih gue pegang,hahaha” jawabku, sambil merapikan tas yang akan kusimpan di kursi kosong sampingku. “lagian lu mah kelamaan Cuma naro tas doang.”ketus Della “Mending lu order menu dulu sana, baru gue ceritain lengkap. Gue mau nasi goreng seafood nya,minumnya air mineral saja” Aku pun langsung menyuruh Della untuk memesan makanannya terlebih dahulu. Setelah semua makanan sudah lengkap di meja, Akupun memenuhi janji untuk menceritakan tentang tawaran A-Herman yang akan mengajakku travel ke tiga negara tetangga. “Jadi begini Dell, Dia itu mendapatkan reward tahunan dari perusahaan tempatnya bekerja. Nah, dia cerita sama gue, katanya berhubung vouchernya hanya dua, sementara anggota keluarganya ada empat, jadi dia gak ngasih tau istrinya, kalau dia dapat voucher wisata,”tuturku, sambil mengunyah nasi goreng yang masih ada di mulut. “Terus dia bisa nawarin lu, bagaiamana ceritanya?, sedangkan lu sendiri baru kenal dia, masa dia sudah mau ngasih-ngasih begitu saja sih.?’tanya Della, sambil menyeruput kopi hitam ala Café . “Iya,terus dia bilang ama gue ‘Al, Aku dapat voucher dua tiket wisata ke 3 Negara Asia, karena hanya dapat dua tiket Aku gak bisa ngaja istri dan kedua anakku, sebab kalau hanya istriku saja, bagaimana dengan kedua anakku. Jadi daripada ini voucher terbuang sia-sia, jadi aku tawarin sama kamu saja’ begitu kata dia kemarin sore” Aku mencoba jelaskan ke Della, kenapa A-Herman ngajakin Aku travel ke Luar Negeri. Sebenarnya Aku sendiri dan Della, bukan pertama kali untuk ngelancong ke negara tetangga, sebab setiap ada promo tiket dari maskapai penerbangan, Della langsung gerak cepat kasih info tiket promo padaku. Hanya saja, karena tawaran ini datangnya dari A-Herman, orang yang sat ini Aku kagumi, bahkan benih-benih cinta pun sudah mulai menampakannya. Siapa sih yang enggak senang, ketika orang yang disukai dan di kagumi tiba-tiba mengajak untuk jalan, apalagi jalannya ke Luar Negeri. “Tapi, Al, gue masih ragu deh sama Doi, jangan-jangan itu hanya akal-akalan dia saja, supaya bisa ngajak jalan lu, iya gak sih, Al? itu sih menurut gue, tapi terseah lu deh.” ujar Della “Iya juga, gue juga sempat kepikiran sampai kesana. Tapi gue pikir-pikir lagi, ada benarnya juga Dell, jika memang dia punya vouchernya hanya dua, sementara anggota keluarganya ada empat, terus kedua anaknya gimana?”Aku berkilah pada Della, dan sedikit memihak pada perkataan A-Herman. “Padahal, jika memang mas Herman itu niat untuk mengajak keluarganya pergi wisata, kenapa enggak nambah dua tiket saja untuk kedua anaknya, supaya mereka bisa berangkat berempat. Masa iya, berkorban untuk anak-anaknya saja tidak mau, itu kan untuk menyenangkan anak dan istrinya juga”ucap Della. Dia sepertinya tetap keukeuh, kalau apa yang dilakukan A-herman itu kurang tepat jika alasannya hanya karena vouchernya hanya dapat dua. Menurut si Della, jika mereka berempat berangkat, berarti Dia nantinya hanya mengeluarkan uang untuk beli tiket kedua anaknya saja, sebab dia dan istrinya kan sudah dapat secara gratis. “Tapi menurut lu,gimana Dell, apa nanti gue tanya lagi ke dia,ya?, atau gue saranain saja ke dia, seperti yang lu bilang tadi ke gue,?” AKu minta pendapatnya Della. “Nah, itu maksud gue, Al. Kalau bisa lu minta aja fotoin reward yang dari kantornya, kan lu jadi tahu, dia beneran dapat dua tiket doang atau hanya karena dia ingin ngajak jalan lu, terus bilangnya sama lu hanya dua tiket deh,hahaha” Della tertawa lebar. Kali ini idenya memang masuk akal dan bisa diterima. Tapi masa iya sih, gue sampai segitunya nanya-nanya ke A-Herman, hehe. “Ok,ok. Gue tampung dulu ide lu. Besok gue tanya kedia deh, soalnya gue pun janji sama dia, mau kasih kabarnya besok siang. Della, kita cabut yuk, gue sudah pengen istirahat nih, soalnya besok gue janji sama Ibu gue mau balik lagi ke rumah” Aku mengajaknya Della untuk segera pulang, karena hari mulai malam. Kalau di lihat dari raut wajahnya sih, dia sepertinya masih betah untuk nongkrong di tempat ini, tapi ya gimana lagi, mataku sudah tidak bersahabat. “Baiklah kalau begitu, gue juga ada cucian dan setrikaan nih numpuk , besok mau gue eksekusi, mumpung libur, hehe.Iya sudah kalau begitu, makasih ya Al, sudah mau nemenin gue ngopi. Next kita ngopi lagi di sini lagi, ya” ucapnya “Gue yang terimakasih sama lu, Del. Awas jangan ada yang ketinggalan barang-barang lu” pesanku sama Della, sebab dia salah satu temanku yang pelupa dan selalu ketinggalan barang-barangnya kalau jalan kemanapun. Jadi harus ada yang mengingatkan lagi. Tepat pukul 22.00 WIB , Aku dan Della meninggalkan wisata kota Tua Jakarta. Della dan Aku sama-sama memesan Taxi, sebab Aku pulang ke kost-kostan, sedangkan Della langsung pulang ke rumahnya di daerah Tangerang. *** ‘Aku sebenarnya tertarik atas ajakan A-Herman, sebab sudah hamper enam bulan enggak pernah travel lagi ke negara tetangga, lagipula jika memang Aku mengiakan tawarannya, toh itu tiket gratis yang A-Herman tawarkan kepadaku.' 'Tapi Saran dari si Della juga masuk akal juga. Apakah aku harus terima ajakannya A-Herman?atau Aku ikuti sarannya si Della, ya?’batinku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN