BAB 14

1000 Kata
"Sekalipun dia ada di hadapan kamu?" Aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang sekarang ada di kepala Biru. Pertanyaannya sangat amat tidak wajar untuk ia utarakan terlebih lagi untuk aku jawab. "Kamu kenapa sih? Aneh." Saat aku bertanya itu Biru hanya tersenyum seolah-olah memang tidak terjadi apa-apa. "Aku hanya ingin tahu saja." Selanjutnya aku mendengar kekehan dari Biru, "Ekspresi kamu Sya." Katanya sambil mengangkat tangannya lalu menyelipkan rambut yang menghalangi pandanganku ke belakang telinga. "Asal kamu tahu, hari ini aku udah dapat dua pertanyaan yang sama. Dari kamu dan Om Hamdi." Aku menatap Biru sebal, memajukan bibir bawahku ke depan tapi Biru yang melihat itu langsung melaksanakan aksinya, yaitu, menarik bibir bawahku dengan tangannya. "Biru! Pedes ih, ngga sadar tangan kamu tadi abis ngobok-ngobok sambel?" aku langsung meminum es jeruk di hadapanku buru-buru ya walaupun sebenernya aku bohong sih, tangannya emang tidak pedas apalagi ngobok-ngobok sambel tapi bukannya marah Biru malah tertawa yang mau tidak mau membuatku juga ikut tertawa. "Om Hamdi nanya yang sama juga?" katanya saat menghentikan tertawaan itu. "Ya." Aku mengangguk, memainkan sendok pada mangkuk sotoku yang isinya sudah tandas masuk dengan lancar ke perutku. Aku melirik Biru, dia hanya mengangguk-ngangguk. "Bagus-bagus." "Apanya yang bagus?" kataku penuh tanya. Biru terkekeh lagi, "Itu artinya aku udah cocok jadi mantunya." Satu detik, Dua, Tiga, "Garing ya?" tanyanya dengan ekspresi datar dan juga dengan intonasi datar. Maka dengan cepat, aku langsung terkekeh. Lalu aku mengambil kerupuk yang berada di kaleng sebelahku. Mematahkan kerupuk itu dengan tanganku dan menimbulkan bunyi yang khas, "Nih, garing." Kataku sambil tertawa. Biru juga langsung tertawa kencang sampai membuat alis tebalnya berkerut dan mata bulatnya menyipit. Dalam hati, aku tiada henti bersyukur pada yang Maha Kuasa, senang. Hanya itu yang aku rasakan sekarang, sambil beberapa kali aku bergumam dalam hati dengan deburan ombak hati yang begitu keras. Biruku telah kembali. Biruku telah kembali. Biruku milikku. Dan selamanya, akan seperti itu. Aamiin. Garis Waktu Hari ini, aku sudah beberapakali bercemin. Memperhatikan wajahku yang sudah dirias dengan begitu sempurna berkat tangan mahir Nadin yang mendadaniku dan juga balutan kebaya sederhana yang tampak indah menempel di tubuhku. Sebentar lagi, kalau aku tidak salah—tiga puluh menit lagi—acara lamaranku dengan Biru akan dilangsungkan di kediaman Om Hamdi. Aku tak menutupi rasa bahagiaku tapi aku pun tak bisa menampik perasaan gugup yang aku rasakan, rasanya seperti baru kemarin aku bertemu dengan Biru, jatuh cinta padanya dalam pandangan pertama dan terlepas dari yang selama tiga tahun belakangan yang terjadi. Aku masih tak percaya akan tiba di tahap ini, aku tahu aku memang berlebihan tapi aku rasa dalam mencintai tidak ada yang berlebiihan. "Santai, Sya. Lo baru mau dilamar belum dinikahin." Nadin menginterupsi lamunanku, aku sedikit terkekeh dan melupakan sementara gugup di hatiku. "Jadi, gini ya rasanya dilamar." "Biasa aja dong, jangan bikin gue jadi ke pengin deh." Nadin menampakkan wajah sebalnya dan aku yang melihat itu hanya bisa tertawa. "Kak Syani~" Denya, keponakanku membuka pintu kamarku lalu men "Ya?" "Acaranya sudah dimulai. Papah nyuruh kakak buat siap-siap." Aku mengacungkan jempolku, meskipun begitu rasa gugup di hatiku semakin bertambah. Aku bahkan sampai meremas tangan Nadin dan membuat wanita itu kesakitan. "Ayo kak." Ajak Denya, aku berjalan perlahan menuruni anak tangga dengan diapit Nadin dan Denya. Tatapanku pertama kali langsung mencari sosok Biru. Dan ketika aku menemukannya, napasku seperti tercekat. Kini, dia sedang duduk di antara Tante Melli dan Om Irwan. Senyum di bibirnya mengembang begitu sempurna dan membuatku melakukan hal yang sama. Kemeja batik sebagai teman akrab Biru itu kini sangat terlihat pas, cocok dan membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat. "Terima kasih." Aku tersenyum pada Nadin dan Denya, kini aku sudah berada di antara Om Hamdi dan Tante Veny. Kemudian, salah satu dari om Biru berdiri. "Jadi, maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk meminang Syaninda Nitisamasta untuk anak kami, Brahmanta Putra Biru." Aku menarik napasku, lega saat keluarga Biru mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke sini. Tante Veny menyenggol lenganku, memberi tanda padaku untuk segera menjawabnya. Maka dengan segera aku berdiri, dengan pandangan lurus menatap Biru yang berada tepat di hadapanku. "Bismillahirahmanirahim. Brahmanta Putra Biru, saya terima lamaran kamu." Garis Waktu Acara lamaranku yang dilangsungkan di rumah Om Hamdi berjalan dengan lancar, tanggal, tempat untuk pernikannya telah disepakati bersama dan kami menjatuhkannya pada tanggal dua belas bulan Februari yang artinya kurang dari dua puluh hari lagi dari sekarang pernikahan aku dan Biru akan terlaksana. Aku yang masih dihinggapi rasa haru dan tidak percaya masih berdiam di kursi, di taman belakang Om Hamdi sementara para tamu masih menikmati hidangan yang disediakan. Aku memainkan cincin yang beberapa menit lalu baru dipasangkan Biru di jari manisku dengan senyuman yang mengembang di bibirku. Jika ada kata selain bahagia, mungkin akan aku utarakan untuk menyatakan perasaanku saat ini. "Syani?" Aku menoleh mendapati Biru yang sedang berdiri di belakangku lalu perlahan dia berjalan mendekatiku. "Gabung ya?" katanya sambil duduk di sebelahku, aku menatapnya, ada sedikit peluh yang menetes dari dahinya meski pun gitu aku masih tidak bisa menampik jika wajah tampannya tetap terlihat di sana. "Kamu gimana?" tanyanya yang membuat guratan-guratan heran di wajahku terlihat. "Apanya?" "Perasaannya. Senang ngga?" Aku berbalik tak menatapnya sebab pertanyaan yang dia utarakan membuat pipiku mulai bersemu merah. "Aku seburuk itu? Sampai kamu ngga mau natap aku?" dia bertanya lagi dan lagi. Aku menatapnya sekarang sedangkan Biru hanya tersenyum. "Pertanyaan kamu aneh tahu. Ngga perlu aku jawab harusnya kamu tahu." kataku padanya. Biru terkekeh pelan, "aku simpulin kalau kamu bahagia." "Aku ngga tahu." Sekarang justru dia yang menampakan guratan-guratan heran di dahinya. "Ya, mungkin sekarang iya tapi nanti siapa yang tahu?" Biru tersenyum, dia menarik tanganku ke telapak tangannya yang terbuka. "Mana satu lagi." katanya, aku hanya menurutinya maka aku meletakan kedua tanganku menumpuk di atas telapak tangannya lalu Biru meletakan tangannya yang satu, mengenggamnya erat. "Mulai sekarang, tangan kita ini akan menjadi penyeka air mata yang paling banyak atau akan menjadi penggenggam yang paling erat dan penguat yang paling hebat di antara kita, just you and me againts the world, Sya." Biru mengangkat tanganku, mencium punggung tangannya perlahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN