BAB - 5

827 Kata
Aku mengeratkan jaket yang kukenakan entahlah hari ini cuaca nampak hangat namun tidak bersahabat dengan tubuhku. Aku menundukkan kepala, sakit sekali kepalaku, tenggorokanku pun rasanya teramat kering, mataku memerah namun mengapa rasa sesak itu masih tertinggal di dalam d**a? Mengapa sosoknya masih berada di sana dengan kokoh padahal ia tahu bahwa sudah tak ada lagi alasan untuk tinggal? Dan mengapa sosok itu harus Biru, mengapa? "Keadaan lo memburuk Sya, harus cepat-cepat di periksa. Gue izinin lo nanti." Nadin memegang bahuku, aku bisa merasakan tangannya menggetar. Aku menatapnya dalam. Nadin berdiam namun matanya seperti menamparku berkali-kali entahlah mungkin aku menyesal tak pernah mendengarkan ucapannya, sehingga akhirnya harus seperti ini. Tapi, toh siapa yang peduli. Biru masih aku cinta sepenuh hati. Bodoh. Aku tersenyum, bahkan diriku pun mengatakan aku bodoh tapi aku pun tak terlalu pintar untuk menampik apa yang ada di dalam hati, cinta yang sudah aku patri atas namanya tak pernah hilang walau sebanyak apapun luka yang menggores dan air mata yang berusaha menenggelamkannya. Dia tetap ada di sana. Menjadi pemilik utamanya, selalu. "Lo tahu apa yang paling gue butuhin sekarang, Nad. Lo tahu itu." Nadin paham dan aku pun paham bahwa aku tak butuh obat apapun, bahkan obat penawar rasa sakitpun tidak akan memberikan efek apapun padaku. Aku hanya mau satu, Biru Itu pun jika aku masih punya kesempatan. Huh. Aku menarik napas, air mata sudah jatuh dengan begitu bebas tanpa bisa aku halangi. "Lo butuh memeriksakan diri lo Sya. Lo kehujanan bahkan baju lo sampai kering di halte. Biru ngga kasih lo jas dokternya untuk lo pake, dia cuma nyuruh lo memeganginya. Biru ngga matiin AC di mobilnya. Untuk hal sekecil ini pun dia ngga peduli Sya. Bahkan dia ngga peduli sama rasa sakit yang lo alami." Nadin berkata penuh dengan penekanan rasanya seperti kepalaku terinjak-injak, sakit sekali dan wajah Biru semakin kenTara di ingatanku yang membuat sakitnya bertama berkali-kali lipat. "Iya." aku menjawab seadanya sambil berdiri mengambil tasku dan berjalan meninggalkan Nadin. ∞Garis Waktu∞ Rasa pusingku semakin menjadi-jadi ketika aku melangkahkan kaki memasuki lorong ini. Antreanku nomor 30 itu artinya aku membutuhkan waktu sekitar 20 menit lagi untuk memeriksakan diri ke dokter. Untuk itu akhirnya aku memutuskan untuk berjalan ke kantin, mungkin segelas kopi bisa meredakan sakit kepalaku. "Kamu sakit? Kenapa ngga bilang, hem?" Aku memutar mataku ke arah suara yang berada di sampingku. "Kamu pucat, pasti pusing sekali." dia menarik pinggangku, merangkulnya erat membuat jarak yang tercipta pun terhapus. Matanya menatap mataku lekat-lekat, tenang sekali. Karena kini Biru ada di sampingku. Namun dengan cepat dan sadar aku menarik diriku darinya. Baru beberapa langkah tubuhku sudah kehilangan keseimbangan namun dengan sigap ia menahannya lalu membawaku ke dalam dekapannya. Aku menolak! Sungguh aku menolak atas perlakuannya padaku namun mengapa aku tak kuasa menolaknya? Dalam pelukannya aku menangis tersesak tak peduli orang sekitar berkata apa, terserah aku sudah tak punya akal untuk memikirkannya. "Jangan menolak, kamu bukan pembangkang." katanya, aku bisa merasakan pelukan yang semakin hangat dan erat. Aku rindu. Boleh aku mengatakan itu? Dan apa masih bisa aku mengatakan 'aku mencintaimu' setelah itu? Akankah kita bersama? Kau meragu, akupun samanya Bi. Kita tak pernah tahu kapan semesta menggiring kita setelah perpisahan lalu pertemuan yang memilukan sekarang ini dan selanjutnya apa? Akhir apa yang menanti kita? ∞Garis Waktu∞ "Dia temanmu Biru?" kata Dokter Nunik yang baru saja memeriksaku. Biru mengangguk. "Kamu tahu dia sudah tidak makan beberapa hari ini?" Biru menggeleng lalu menatapku dengan heran. Iya, Biru. Otakku terlalu keras bekerja memikirkan kamu sampai lupa caranya makan. "Ya sudah saya buatkan resep obatnya. Pastikan dia makan dan jaga dia, nampaknya dia lebih dari seorang teman?" Dokter Nunik tersenyum menatap kami. "Terima kasih bu." Biru berpamitan dan melangkah keluar sambil menuntunku, memegang tanganku hangat sekali. Aku mengikutinya dengan patuh, dari menebus obat, ke ruangannya untuk mengambil jas dokter dan kunci mobilnya lalu sampai sekarang aku di dalam mobilnya. Aku ingin menolak segala perlakuan baiknya yang akhirnya akan menyakiti aku juga namun rasa sakit di kepalaku tak memedulikannya sehingga yang kulakukan hanya mengikutinya. "Kita ke rumah mamah ya, dia pasti khawatir banget kamu sakit." Aku tersenyum sinis padanya. Rasanya ingin berteriak berhentilah berpura-pura baik padaku Bi jika itu hanya akal-akalanmu. "Ngga usah, ngerepotin." "Yaudah kita ke apartemen aku aja." Aku menatapnya dengan tajam, "maksudnya apa?" "Syani, kalau kamu tinggal sendiri nanti jadwal makanmu berantakan dan sakit lagi. Aku harus memastikan kamu makan dan sehat Sya." "Memangya kamu siapa?" aku bertanya dengan memandang wajahnya geram, Biru yang sedang menatap fokus jalanan langsung memberi tatapan yang tak bisa k*****a. Pertanyaan lantang dan sok berani yang aku lontarkan tadi entah mengapa hanya dengan tatapan dari Biru mampu menciutkan nyali yang sudah aku gali-gali. "Teman akan tetap teman kan?" dia menjawab ragu lalu kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan. "Jawaban yang melegakan, Biru." Sakit. Hanya itu yang ku rasakan, hatiku belum merelakan segalanya namun dengan mudahnya ia berkata seperti itu. Harusnya Ya, memang harusnya sudah dari lama aku hentikan kegiatan sia-siaku. Menunggu tak pernah menguntungkan untuknya yang dilanda rindu menggebu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN