Hyena mengambil ponselnya. Ia langsung menghubungi Yeol. “Oppa hiks ... hiks ...” “Kenapa, Sayang? Kenapa kau menangis?” tanya Yeol di seberang sana. Dari nada bicaranya sudah ketahuan jika ia Yeol saat ini khawatir. “Hiks ... hiks ... barusan ada yang memberikan paket teror lagi hiks ... hiks ... dia mengancam akan menyebarkan foto kita,” adu Hyena. “Tenang, Sayang. Oppa akan ke situ sekarang. Kau tunggu Oppa, ya. Jika ada seorang tamu yang tak dikenal, jangan berani membukakan pintu.” “Iya, Oppa.” Pip Sambungan telepon terputus, Hyena kembali duduk dengan gelisah. “Hiks ... hiks ... sebenarnya siapa kau dan apa maumu?” gumam Hyena sambil menatap surat ancaman itu. Hyena sudah lelah dengan semua kejadian yang menimpanya. Benar perkataan si peneror itu, bahwa satu persatu orang te

