*Happy reading* Sudahlah. Aku lelah rasanya memikirkan kisah percintaanku. Gagal maning, gagal maning terus, gaes. Entah kenapa nasib percintaan njelimet banget. Gak kayak Intan ataupun Nurbaeti? Benar kata readerku tersayang. Sepertinya si Amih memang punya dendam kesumat sama aku. Atau ... jangan-jangan aku malah hanya anak pungut saja. Ah, teganya kau thor. Akhirnya, karena sudah malas memikirkan soal cinta. Aku pun memilih fokus pada diriku sendiri, keluarga dan karier saja. Karena apa? Karena galau berkepanjangan itu gak ngasilin cuan, gaes. Sementara hidup ini butuh makan dan gaya demi gengsi. Dan semua itu gak bisa dibeli dengan rasa baper. Jadi ... yuk kerja lagi. "Nur, sarapan dulu." Suara Bunda terdengar dari balik pintu kamar, setelah mengetuk sebelumnya. "Iya, Bun. Ini j

