"Akhirnya kamu menelpon saya juga," sahut pria itu, pada dering kedua panggilan yang aku lakukan. Eh? Maksudnya apa, nih? Dia ... nungguin telpon aku, gitu? Berdehem sejenak, aku pun mencoba bersikap santai, dan menjawab sapaan Pak Aksa. "Jadi, Bapak nungguin telpon saya, ceritanya." Bukan mau sombong. Tapi dari sapaan jelas mengartikan hal itu, benar, kan? "Enggak juga." Eh? Kok? Salah, ya, aku? Berusaha tak ingin memikirkan jawaban Pak Aksa yang entah mengarah kemana sekarang, aku pun kembali bersikap santai, seraya meraih cangkir kopi yang mulai dingin. Sebenarnya dulu, aku lebih suka coklat hangat daripada kopi. Tetapi gara-gara sering dikirimin batangan sama Tita. Aku pun jadi gumoh dengan rasa coklat sekarang. Jangankan memakannya. Denger namanya aja auto sakit gigi aku. Se

