Kamalea merasa tidak enak karena celetukannya tadi. Diamnya Deon dan tidak adanya senyum yang laki-laki itu berikan, membuat Kamalea merasa bersalah. Mungkin ia terlalu cepat, dan juga takut jika ucapannya akan menjadi beban untuk laki-laki di sampingnya ini. Ia takut Deon malah akan menjauh dan tidak mau mengenalnya lagi. “Emm, Mas Deon, maaf, ya,” lirih Kamalea dengan ringisan tidak enak. Ia bahkan hanya berani melirik sekilas Deon yang sedang fokus pada kemudinya. “Maaf untuk apa?” tanya Deon dengan nada seperti biasa. Tidak terdengar kesal atau pun marah. Dan saat Kamalea memutuskan untuk menggerakkan kepala ke arah samping, senyum Deon menyambutnya. “Untuk yang tadi,” ujar Kamalea. Meski Deon tidak menunjukkan sikap lain, tetapi Kamalea harus tetap waspada. Ia takut, jika

