10. Teman hidup

1657 Kata
Kamalea tengah duduk di teras sendiri sembari menatap bintang yang jarang sekali terlihat di atas langit. Bibir wanita itu tersenyum, matanya tampak menunjukkan binar bahagia yang begitu nyata. Bahkan dalam remang, Revka yang kini tengah melangkah mendekat bisa melihat betapa Kamalea tengah merasakan kebahagiaan.   “Kayaknya lagi seneng banget,” ujar laki-laki itu setelah duduk di samping Kamalea. Wanita di sampingnya pun segera menghentikan kegiatannya, lalu menoleh ke arah Revka dengan senyum mengembang.   “Memang keliatan banget?” tanya Kamalea yang dibalas anggukan oleh Revka. Laki-laki itu memilih menatap langit yang cerah ketimbang memperhatikan bibir sahabatnya yang terus tertarik. Bukan apa-apa, Revka takut saja bibir itu tidak bisa kembali ke posisi semula jika terus ditarik seperti itu.   “Memang gue lagi seneeeng, banget,” ujar Kamalea sembari menghela napas yang terasa sesak karena kebahagiaan yang terlalu besar. Padahal, Deon baru memberikan kode-kode yang belum jelas apa maksudnya. Bagaimana kalau nanti laki-laki itu benar-benar memintanya menjadi kekasih, atau, yang lebih parah langsung memintanya sebagai istri? Apa Kamalea tidak akan langsung pingsan dibuatnya?   Ketukan di pelipis membuat bayangan Deon yang tengah tersenyum buyar begitu saja. Kamalea berdecap kesal, sementara pelakunya malah tertawa geli.   “Lagian cengar-cengir terus, kesambet entar baru tahu rasa.” Revka kembali tertawa geli saat Kamalea memberikan delikan kesal.   “Lo tuh yang resek. Kayak yang susah banget kalau ngeliat gue seneng,” gerutu Kamalea sembari melempar pandang ke depan. Namun, segala rasa kesal itu menghilang dalam sekejab, terganti dengan senyum simpul yang membuat Revka hanya bisa menggelengkan kepalanya.   “Kali ini udah?” tanya Revka tidak jelas. Kamalea yang tidak mengerti maksud dari pertanyaan Revka hanya mengerutkan kening.   “Udah ada kata serius sama dia?” Revka menunjukkan wajah serius, dan Kamalea langsung mengerti dengan ‘dia’ yang sahabatnya ini maksud.   “Belum,” jawab Kamalea dengan sebuah ringisan. Revka yang mendengar itu mendesah pelan, dan menatap Kamalea dengan pandangan serius.   “Dan lo masih yakin?” tanya laki-laki itu dengan wajah seperti tidak percaya. Apalagi saat Kamalea menjawab dengan anggukan yakin.   “Kalian udah deket berapa lama?” tanya Revka lagi. Dan Kamalea segera menghitung dalam kepalanya.   “Belum ada dua bulan,” jawab wanita itu yakin.   “Yah memang belum lama, tapi seenggaknya, harusnya dia udah nyatain perasaan kalau memang itu ada.”   Kamalea mengerutkan kening mendengar kalimat itu. “Maksudnya?”   “Ya kalau dia memang tertarik sama lo, seharusnya dia udah nyatain sesuatu.” Revka memang bukan laki-laki berpengalaman soal percintaan. Terakhir kali ia pacaran, sepertinya waktu masih SMA. Sejauh ini belum ada wanita yang bisa menggetarkan hatinya. Dia normal, tentu saja, tetapi Revka tidak pernah berniat untuk bermain-main. Memiliki seorang kekasih itu merepotkan baginya. Dan jika memang nanti ada seorang wanita yang cocok, ia akan  langsung menjadikannya seorang istri.   “Misalkan belum, seenggaknya dia berani datang ke rumah buat jemput lo, Lea,” ujar Revka lagi sebelum bibir Kamalea membantahnya.   “Gitu, ya?” Kamalea yang mulai berpikir jika kalimat Revka ada benarnya, tidak berani membantah. Maka ia mulai menyusun rencana agar Deon mau mampir ke rumahnya walaupun hanya sebentar.   *   ‘Sori Mas, kayaknya aku naik taksi aja, deh.’   Pesan yang Kamalea kirim saat Deon mengatakan sudah berada di gerbang komplek perumahannya.  Tidak akan seperti biasa karena Kamalea sedang menyusun rencana yang sudah terpikir dari  semalam. Ia akan membuktikan pada Revka, jika Deon tidak sedang bermain-main dengannya.   Bukan balasan pesan yang masuk, melainkan teleponnya yang berdering dan memunculkan nama Deon di sana.   “Memangnya kenapa?” Pertanyaan itu langsung menyapa telinga Kamalea bahkan sebelum wanita itu menyapa dengan kata ‘halo’.   “Kakiku sakit, Mas. Kayaknya nggak bisa buat jalan sampai ke gerbang.” Kamalea menggigit bibir, semoga saja ini tidak akan menjadi boomerang. Sebenarnya Kamalea tidak sepenuhnya berbohong karena memang tadi kakinya terantuk meja. Hal yang mendatangkan ide konyol ini agar Deon mau menjemputnya ke rumah.   “Rumah kamu yang sebelah mana?” Pertanyaan itu bersamaan dengan samar suara mobil yang dinyalakan. Kamalea tersenyum di tempatnya, dan segera mengatakan ciri-ciri rumah miliknya.   “Aku udah di depan, kamu bisa jalan ke luar?” Kamalea segera melongok ke arah pintu gerbang rumahnya saat mendengar itu.   “Bisa kok, Mas Deon tunggu, ya!” Kamalea segera mematikan sambungan, dan di saat bersamaan mamanya dan Kino tampak berjalan ke luar.   “Mobil siapa?” Pertanyaan yang keluar dari bibir mamanya, bertepatan dengan sosok Deon yang kini turun dari mobil.   “Gebetannya Kakak, ya?” tanya Kino dengan senyuman miring, lalu selanjutnya pemuda itu ke luar. Bukan untuk menyambut kedatangan laki-laki yang berpenampilan seperti bos besar itu, tetapi memang ia ingin berangkat kuliah.   Deon tampak mengangguk sopan pada Kino yang dibalas seringai menyebalkan oleh pemuda itu. Kamalea yang melihat itu dari tempatnya hanya bisa menggeram kesal.   “Temannya Lea, ya?” sambut Soraya sembari melangkah ke luar. Wajah wanita berusia lima puluh tahunan itu sungguh terlihat bahagia. Dalam hati menyayangkan keberadaan suaminya yang sudah lebih dulu pergi untuk membuka toko.   “Pagi, Tante. Iya, saya Deon.” Laki-laki itu tampak mendekat, lalu mencium punggung tangan Soraya dengan sopan.   “Mau jemput Lea?” tanya Soraya sembari meilirik anak gadisnya yang terlihat menujukkan senyum malu-malu. Ia tahu, jika Kamalea menyukai laki-laki ini.   “Iya, katanya, kakinya sakit.” Semua mata sontak mengarah ke kaki Kamalea yang tampak baik.   “Tadi kepentok meja, Mas,” ujar Kamalea cepat sebelum Deon curiga jika dia sedang berbohong. Soraya yang sudah mengerti tabiat konyol putrinya hanya bisa menahan senyum.   “Nak Deon mau masuk dulu?” tawar Soraya basa-basi karena ia yakin pasti keduanya akan langsung berangkat ke kantor.   “Terima kasih tawarannya, Tante. Tapi mungkin lain kali. Sekarang udah kesiangan,” jawab Deon sopan sembari melirik arlojinya.   Kamalea yang sadar jika sedikit lagi mereka bisa saja terlambat segera memilih untuk pamit. Tidak lupa sedikit membuat kakinya terlihat pincang saat berjalan ke arah mobil Deon terparkir. Soraya yang melihat akting mahir putrinya hanya bisa menggelengkan kepala. Dalam hati ia bersyukur karena laki-laki yang dekat dengan Kamalea tipe laki-laki sopan yang memiliki attitude baik. Setidaknya kesan pertama yang Deon berikan, adalah laki-laki itu orang baik dengan pekerjaan yang jelas.   *   “Maaf, ya, Mas, jadi harus ke rumah,” ujar Kamalea tidak enak hati. Padahal sejak tadi Deon tidak menunjukkan reaksi buruk.   Laki-laki yang sedang fokus pada kemudi itu menoleh ke arah samping sejenak, sebelum kembali fokus ke depan. Ada seulas senyum yang terukir di bibir itu. “Nggak masalah, kalau kamu dari kemarin nggak keberatan juga, udah aku jemput di rumah.”   Kamalea meringis, memang sebenarnya yang sejak kemarin meminta dijemput dan diantar sampai pintu gerbang itu dirinya, bukan Deon.   “Sekarang udah nggak takut jadi gosip?” Deon kembali menoleh ke arah Kamalea saat mobilnya terjebak macet.   Kamalea yang bingung harus menjawab apa, hanya meringis dengan wajah tidak enak.   “Kenapa harus terlalu mikirin pendapat orang?” Fokus Deon kembali ke depan saat kemacetan mulai terurai sedikit demi sedikit.   “Cuman jaga-jaga aja, si, Mas. Kan nggak enak jadi bahan gosip.” Kamalea pernah mengalami itu. Dan rasanya tidak nyaman karena semua mata seolah mengarah kepadanya di mana pun dia berada.   Deon mengangguk, tidak akan membantah karena memang yang Kamalea ucapkan bukanlah hal yang salah. “Tapi capek juga loh, kalau kita terlalu mikirin apa kata orang. Jadi nggak bebas mau gerak juga, kan?”   Kamalea tersenyum kecut, “Iya, si,” jawabnya sembari mengamati wajah Deon dari samping.   “Selama yang kita lakuin itu bukan hal salah, nggak perlu takut. Orang ngomongin kita nggak selalu di saat kita memang benar-benar salah. Makanya aku jarang mikirin apa kata orang.” Deon melempar senyum ke arah Kamalea yang masih memandangnya dari samping.   “Mas Deon kok bisa bijak gitu, si?” Padahal yang Deon katakana itu adalah hal lumrah. Namun, mungkin karena Kamalea sedang tergila-gila dengan laki-laki ini, maka apa pun yang Deon ucapkan seolah menjadi hal yang menakjubkan.   “Dan kamu pintar sekali melambungkan perasaan orang.” Deon terkekeh sembari menyentil pelan dahi Kamalea.   Mencoba meredakan jantungnya yang tiba-tiba bertalu, padahal yang disentil dahinya, Kamalea pura-pura mengerucutkan bibir. “Bukannya Mas Deon yang gampamg banget bikin baper?” bisik wanita itu sembari melempar pandang ke luar jendela mobil.   Deon yang mendengar bisikan itu hanya bisa tersenyum, lalu menghentikan mobilnya di parkiran gedung kantor.   “Eh?” Kamalea baru sadar tempat mereka berada sontak menoleh ke arah Deon.   “Kaki kamu sakit, kan? Nggak mungkin aku biarin jalan jauh.” Deon segera melepaskan sabuk pengamannya. Sementara Kamalea malah terlihat panik seraya mengedar pandang ke area parkir dari tempatnya duduk.   “Kenapa?” tanya Deon bingung, malah ikut mengedar pandang ke area parkir yang tampak sepi.   “Ini, nggak papa aku turun di sini?” ringis wanita itu sembari menatap wajah Deon yang kebingungan.   “Memangnya kenapa?”   “Takut diliat yang lain, Mas.” Jantung Kamalea makin bertalu bukan lagi karena baper terhadap perlakuan Deon.   Deon yang mengerti kekhawatiran Kamalea lantas tersenyum. “Kan tadi aku udah bilang, nggak usah terlalu mikirin kata orang.”   Kamalea berdecap, untuk Deon bisa sesantai itu. Namun, dirinya mana bisa? Kamalea akan merasa percaya diri kalau Deon sudah meresmikan hubungan tidak jelas mereka ini. Kalau sekarang? Mana bisa dia menyombongkan diri hanya karena satu mobil dengan seorang Deon?   “Ayo! Kamu nggak mau turun?”   Kamalea tampak enggan, mencoba memikirkan cara terbaik untuk lolos dari sebuah gosip murahan yang bisa saja tersebar. Lalu, ia menjentikkan jari saat satu ide muncul. “Mas Deon jangan keluar mobil dulu, ya!”   Deon mengernyit, tetapi tetap mengangguk meski sebenarnya bingung.   “Nanti kalau aku udah naik lift, baru Mas Deon keluar. Oke?” Deon malah tertawa kecil, tetapi ia tetap mengangguk.   “Bener loh!” Lagi, Deon mengangguk masih dengan raut geli di wajahnya.   Kamalea pun tampak celingukan sebelum ia turun dari mobil. Deon yang memperhatikan gerak-gerik Kamalea hanya bisa tertawa geli di tempatnya. Apalagi saat menyadari jika kaki Kamalea baik-baik saja, Deon tidak bisa terhenti tertawa. Hidupnya pasti akan penuh dengan kebahagiaan andai wanita ini yang bisa ia pilih untuk menjadi teman hidup. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN