Clarice tak lagi berdiri. Dalam keterlanjangannya, gadis itu kini terbaring di lantai yang dingin ditemani Narto yang juga sama-sama tak berkain sehelaipun. Sebuah posisi misionari yang sempurna tengah terbentuk.
Air mata Clarice berderai karena tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia akan memasuki fase menjadi seorang wanita dewasa dan ia bahagia karena akan menapaki momen itu bersama orang yang ia cintai.
“Make love to me,” desisnya.
Narto tersenyum sembari mengangguk dan memberi ciuman kecil di kening dan sedikt kata-kata rayuan. Ia berharap hal itu bisa menenangkan Clarice dari rasa gugup dan takutnya.
Posisi tubuh Narto kini persis berada di antara s**********n Clarice. Dalam posisi berlutut Narto melebarkan pahanya sendiri demi bisa menempatkan pennis super keras miliknya tepat di lubang vaginna kekasihnya. Akibat Narto melebarkan paha, Clarice pun harus melebarkan pula kedua kaki jenjangnya sebisa mungkin demi memudahkan akses bagi pria itu.
Sebuah rencana sudah terpateri di benak Narto. Sebuah rencana agar Clarice tidak berhenti di tengah jalan dan membatalkan persenggamaan yang liar namun indah ini. Ia tak mau Clarice berubah pikiran, takut, atau ragu. Narto bertekad menuntaskan hasrat yang sudah begitu lama terkandung.
Merenggut kegadisan Clarice.
Itu sebabnya ia sibuk menenangkan hati dan pikiran Clarice.
“Pertama-tama saat make love kamu akan sakit, tapi itu hanya sebentar,” kata Narto berbahasa Inggris patah-patah dan yang jika bahasanya menjadi terlalu sulit ia kembali berbahasa Indonesia. “Habis itu, enak koq.”
Dengan wajah yang juga berkeringat, Clarice mengangguk.
“Katakan selamat tinggal untuk keperawananmu.”
… Bisikan Narto di telinganya terasa menenangkan. Clarice kemudian menurut.
“Goodbye… my… virginity...”
Belum sedetik Clarice berucap, Narto langsung melancarkan aksi yang sudah dirancangnya.
Jlebbb!!!
Sebuah serangan sangat cepat, super kuat, dan amat mendadak dilakukan ketika ia dengan sekuat tenaga dan dengan sekali hentakan menancamkan panggulnya. Narto sekaligus mendorong otot p****t dengan bertelekan pada kedua lutut yang ikut merangsek maju. Sebuah gerakan gemas namun sebetulnya brutal membuat tubuh Clarice sampai terdorong 30an cm. Gerakan sekali pukul ini menghunjam pennisnya sedalam mungkin dengan kecepatan dan kekuatan luar biasa. Monster coklat kehitaman, berurat dan bermata satu itu dengan ganas menembus tanpa ampun si liang s******a dan merobek selaput dara pemiliknya.
“Ouch, fuuucckkk!”
Clarice menjerit dengan mata terbeliak menahan nyeri yang mendera tiba-tiba. Mulutnya terbuka lebar. Menyiratkan betapa perih rasa yang ia harus lalui. Saat ia memekik jerit itu begitu kencang, nyaring, sehingga mengalahkan suara-suara alam di luar sana. Menembus hingga ke tembok sebelah dimana orangtuanya berada. Dan Narto membiarkan jeritan itu membahana karena baginya itu suatu deklarasi pada dunia apa yang ia lakukan pada Clarice.
Amanda mendengarnya. Begitu juga Jahn. Keduanya kini menatap bersamaan. Mereka tak merasa perlu memeriksa keadaan. Clarice baik-baik saja dan tak perlu dikhawatirkan. Mereka berdua sangat tahu apa yang terjadi di kamar sebelah. Puteri mereka baru saja kehilangan kegadisannya.
*
Sudah agak lama Gisel tertarik dengan pria bule itu. Jahn Van Der Buijk. Pria berdarah Belanda ini sebetulnya dari ekonomi biasa. Sebuah keberuntungan menyertai ketika ia mewarisi satu lukisan lama yang ternyata begitu berharga sampai harus dilelang di pelelangan Sotherby, Inggris. Hasilnya, sekian belas miliar rupiah mengalir ke rekeningnya.
Tapi ketertarikan Gisel bukanlah karena kekayaannya. Jahn ternyata pendengar yang baik yang bisa memberikan advis-advis keren yang mengubah pandangan.
Gisel sebetulnya memiliki masa lalu menyedihkan. Setelah ditinggal cerai suaminya ketika putera mereka baru saja berusia empat tahun, ia berjuang sekuat tenaga menghidupi diri dan puteranya. Hidup di kontrakan kecil, ia lantas bekerja keras membanting tulang yang kemudian membuatnya harus menitipkan bocah kecilnya kepada tetangganya.
Awalnya ini terlihat bijaksana. Tapi di bulan keempat terjadi musibah yang tidak bisa disangka siapapun. Puteranya terlepas dari pengawasan tetangganya, bermain ke luar rumah, dan sebuah mobil menabraknya. Kehilangan dalam dirinya sangat besar. Sejak saat itu Gisel tumbuh menjadi pribadi pemurung dan selalu menyesali masa lalu.
Pertemuannya dengan Kenji hanyalah semata untuk mencari nafkah. Sifat ramah dan tawa riang, sebetulnya hanya kamuflase. Banyak orang mengira ia hidup bersama dengan Kenji. Namun yang sebenarnya terjadi adalah ia memang menjadi asisten Kenji tapi hanya dalam menjalankan bisnis. Bisnis apapun mulai dari yang normal sampai abnormal, yang halal sampai haram, yang kriminal sampai sosial.
Di AA, ia mengenal Jahn dan pandangannya tentang orang itu berubah cepat sekali. Ini akibat perkenalan dan pertemuan-pertemuan singkat setelah itu yang sangat sering terjadi karena mereka satu tempat tingal. Sampai suatu saat Jahn melihat sorot mata yang menyimpan duka pada diri Gisel. Dengan merangkai peristiwa apa saja yang Gisel lakukan yang ia ketahui, Jahn jadi seperi seorang cenayang ketika menyampaikan pandangan dan gagasannya. Menurutnya Gisel memiliki masa lalu kelam. Ia hidup dalam kesedihan yang tersamar dengan sikap riangnya yang sebetulnya hanya kamuflase. Ini menimbulkan aneka sakit fisik dan psikologis seperti migrain, gugup, mudah cemas. Jahn menyarankan untuk dirinya berdamai dengan masa lalu, lepas rasa bersalah yang tak perlu, dan pada saat bersamaan menyiapkan langkah ke masa depan.
“Let gone be by gone,” tutup Jahn pada kesempatan bersamanya.
Dan tangis Gisel pun tumpah. Ia tak menduga bahwa Jahn bisa tahu sedetil itu. Tak tahan menyimpan sakit yang mendera, ia pun mulai bercerita tentang kehilangan atas kepergian puteranya.
“Dalam hidup, terkadang kita harus menerima peristiwa begitu saja tanpa kita bisa hindari. Bukan karena kita salah, alpa, lalai, ceroboh, atau apapun. It just happened. Terjadi begitu saja. Tidak ada yang ingin puteramu mengalami musibah. Jadi jangan sesali.”
Gisel makin luluh. Apa yang diutarkan benar-benar membuka wawasan. Saat itu ia bebas dari rasa bersalahnya dan mau menatap masa depan kembali. Dan wanita tetaplah wanita. Ketika ada seorang pria yang telak menjamah inti hatinya, menyembuhkan dari luka yang mendalam, ia pun ‘klepek-klepek.’
Jahn bukan tipe predator wanita. Namun yang jelas, tak lama setelah itu keduanya menjadi sangat dekat sampai kemudian persetubuhan terjadi.
*
Mata Rokib melotot. Tak percaya pada kisah yang disampaikan Narto.
Pada malam dimana Rokib merasa begitu hebat karena bisa mengobok-obok d**a tante Shirley, Narto malah mendapat yang jauh lebih mantap lagi. ia berhasil meniduri Clarice dan sekaligus merenggut kegadisannya!
Awal mula ia bersikeras tak percaya setitikpun. Penjelasan Narto seperti apapun tak ada yang ia percayai. Kebetulan sekali Clarice tiba-tiba datang. Ia menumpang ojek online dan berhenti serta turun di depan gerbang rumah dimana Rokib dan Narto sudah nongkrong di sana. Di depan gerobak mie tektek Rokib.
Saat Clarice beranjak masuk, Narto membisiki Rokib.
“Nih liatin ya.”
Narto meneriaki Clarice. “Tunggu!”
Gadis itu menunggui Narto sampai akhirnya keduanya berjalan ke pintu masuk rumah utama. Narto dengan akrab memeluk bahu Clarice. Rokib menatap cemburu ketika melihat bahwa Clarice mendiamkan saja aksi itu. Mereka terus mengobrol dan berjalan beriringan ketika kemudian tangan berpindah dari bahu ke belakang rok yang dipakai Clarice. Terlihat jelas ketika tangan Narto menangkup dan mencubit p****t montoknya. Tak ada reaksi marah pada diri Clarice. Ia hanya tertawa dan hanya balik membalas dengan memberi cubitan kecil di pinggang Narto.
Barulah Rokib percaya apa yang Narto katakan tadi ternyata benar adanya.
“Kamu dari mana?”
“Alfamart.”
“O.” Narto menanggapi singkat. “Mmm, gimana perasaanmu soal yang semalam?”
Clarice tersenyum manis. Lagi-lagi ia mencubit Narto. “Kamu jahat. Aku ditanchap keras-keras.”
“Gemas sih. Tapi kamu nggak nyesal kan?”
“Aku malah nyesal kenapa chidak dari dulu.”
Keduanya tertawa berbarengan. Sadar bahwa Rokib pasti masih mengintai dirinya, Narto menggamit tangan gadis itu dan mengajak duduk di teras. “Eh, kamu masih ngerasain sakit?”
Clarice menggeleng. Wajah Narto jadi merona bahagia.
“Bisa ML lagi dong?”
Ada bermenit-menit Narto menunggu sebelum melihat Clarice menjawab bahwa ia masih butuh waktu sebelum perih di vaginnanya benar-benar hilang.
“ML ichu enak, chapi nanti dulu ya.”
Narto tak mau memaksa dan menyetujui permintaan itu. Baginya hanya soal waktu sebelum ia mulai kembali bisa menikmati gadis itu.
*