Kepergian CEO

1060 Kata
Angin duka menyelimuti raga Anna, saat sebuah panggilan masuk ke gawainya. Putri semata wayang Pak Adam Alfred itu akan hidup sebatang kara. Mengingat tak ada lagi keluarganya. Dunia satu-satunya telah hilang, meninggalkannya sendiri. Kakinya melemas. Tubuhnya tersungkur ke dinding dan jatuh pelan-pelan. Bagaimana tidak? Ayahnya terlalu mendadak pergi untuk selamanya. “Ada apa, Anna? Bagaimana bisa seorang Brianna Calista menjadi lemah begini?” canda Carel seraya mendekati Anna yang sudah tak berdaya. “Anna ... maafkan aku. Ada apa sebenarnya?” Pimpinan sekolah tinju itu berubah menjadi iba, setelah menyadari air mata murid kesayangannya luruh. Dia menyentuh pelan bahu Anna. Sangkaannya terhadap wanita itu tak sepenuhnya benar. Sebab, seorang perempuan yang dikenalnya tomboi dan berjiwa kuat, kini berubah lemah. Haru. Keadaannya semakin nanap, karena Anna semakin terisak. Isakan itu juga membuat sesak d**a Carel. “Tenang, Anna. Aku akan ada untukmu. Aku belum tahu apa yang terjadi. Namun, menangislah jika itu membuatmu lega,” lirih lelaki yang saat ini telah memeluk Anna. Sejak tadi Anna belum mampu membuka mulutnya. Dia hanya menangis dan menangis. Hatinya hancur. Untung ada Carel di samping sebagai sandaran atas kesedihannya. Bukan takdir yang salah. Manusia dituntut untuk selalu siap. Siap berpisah tanpa pamit dengan orang yang kita sayangi. Sebab, sejatinya hidup ini bukanlah milik manusia, melainkan milik Tuhan. Kapan pun Tuhan akan mengambil, itu hak prerogatif-Nya. “Ayah ... ayahku kecelakaan, Rel. Meninggal.” Akhirnya sedikit kata bisa keluar dari bibir kecil milik Anna. Carel tertegun. Dia berusaha mencerna kata-kata muridnya itu. Tangan lelaki itu melepaskan dekapan. “Turut berduka cita atas kepergian Om Adam, ya. Aku yakin kamu pasti kuat. Anna yang kukenal dia seorang wanita sekuat baja, baik jiwa maupun raganya. Semangat, ya.” Carel menyemangati Anna. “Ayok, biar aku antar kamu pulang. Tak mungkin dengan keadaan seperti ini kamu pulang sendiri, ‘kan?” Lelaki tanggung itu menawarkan diri. Sebab, selama ini Anna tak pernah mau diantar atau dijemput orang lain. Wanita itu sudah terbiasa mandiri sejak kecil. “Baik. Terima kasih, Carel. Kamu sahabat terbaikku,” ucapnya. “Tepatnya kekasih yang hanya dianggap sahabat,” lirih Carel. “Apa?” Anna yang mendengar samar-samar perkataan Carel penasaran. “Enggak ada. Ya, sudah buruan kita pulang.” Anna yang sesekali masih terguguk mengangguk pelan. Kemudian, membereskan semua barangnya. Segera wanita itu menuju mobil Carel, menyusul guru sekaligus pemilik sekolah tinju itu yang sudah di depan. *** “Ayah!” teriak Anna saat melihat jenazah ayahnya di ruang tamu yang sudah dikafani. “Sabar, Anna! Sabar!” Carel yang berada di samping Anna berusaha meredakan jerit dan tangis Anna. Semenjak kenal dengan Anna, baru kali ini Carel melihat Anna begitu tak berdaya. Lemah. Wanita itu bisa layuh. Tiba-tiba Anna tersungkur jatuh. Dia pingsan. Beberapa pelayat dan Carel membopong wanita itu ke kamarnya. Beberapa menit sudah berlalu, Anna yang ditemani Carel tak kunjung sadar. Sementara jenazah Pak Adam akan segera dimakamkan. Akhirnya, pemakaman ayah Anna dilangsungkan tanpa putri semata wayang. Carel memegang tangan Anna, seraya merapalkan beberapa doa supaya wanita itu segera sadar. “Anna, kenapa kamu tak menghiraukan rasa cintaku? Kenapa? Aku akan berjanji akan membahagiakanmu.” Lelaki itu bermonolog. Anna mulai sadar, bahkan dia sempat mendengar kata-kata Carel barusan. Namun, Anna hanya menyimpannya. Dia pura-pura tak mendengar apa pun. Sebab, hatinya masih tertutup rapat. Cinta menurutnya hanya akan membuat sengsara, bukan bahagia. Dia lebih bahagia hidup bebas. Tanpa cinta bisa makan. Tanpa cinta juga tak akan membuat jatuh miskin. Perempuan itu sangat tak percaya cinta. “Hemmm ... kenapa aku bisa di kamar?” tanya Anna seraya mengerjap-ngerjapkan mata. “Kamu pingsan saat ayahmu mau dimakamkan. Sekarang Om Adam sudah tenang di sana. Kamu yang kuat, ya.” Wanita itu hanya diam. Air matanya sudah terkuras habis. Sebenarnya sangat pantang bagi seorang Anna untuk menumpahkan air mata. Begitu dijaga supaya butiran bening itu tak berhasil keluar. Namun, hari ini pertahanannya roboh. “Terima kasih, Carel. Sudah menemaniku selama ini.” “Baiklah. Apakah perlu malam ini aku temani tidur?” goda Carel seraya menutup mulutnya, karena tertawa. “Dasar kamu ini. Di luar sana masih banyak wanita baik yang bersedia denganmu. Kenapa kamu masih saja mengharapkanku.” “Iya. Iya. Sudah bosan aku berdebat denganmu soal cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku malas membahasnya. Aku izin pulang saja kalau begitu,” ujarnya sambil berlalu menyisakan Anna sendiri. *** “Bik, ada makanan apa kita malam ini?” Anna sedikit lari menuju dapur. Area dapur adalah area favorit di rumahnya. Di sana wanita itu bisa dengan bebas mengisap rokok. Sebab, lokasi dapur yang semi outdor. Berbeda dengan di dalam rumah atau ruangan lainnya. Sekali dia mengembuskan asap rokok akan menempel dan bau. Ayahnya sangat tak suka itu. Jadi, untuk menghindari omelan Pak Adam, Anna terpaksa melakukan kesenangannya itu di dapur. Sampai sekarang hal itu masih melekat pada Anna. Rokok adalah hal yang sulit sekali dijauhi. Pernah suatu ketika Anna mencoba sehari tak memegang batang rokok demi ayahnya. Rasanya hidup ini seperti ada yang kurang. Sejak pertama kali Pak Adam mengetahui kalau Anna merokok, beberapa kali dia menasihati Anna supaya berhenti merokok. Hasilnya, nihil. Justru semakin ketagihan. Setiap embusan itu memberikan suasana tenang dan mendamaikan. “Ada ayam goreng dan cah kangkung, Non. Mau saya siapain?” tanya wanita paruh baya itu. “Enggak usah, Bik. Nanti aku ambil sendiri aja. Bibi lanjutkan saja bersih-bersihnya,” jawab Anna seraya menyalakan rokoknya. Asap rokok mulai mengepul dari mulutnya. Matanya mengarah ke atas langit. Ada banyak hal yang harus dia kerjakan selepas meninggalnya ayahnya. Sanggupkah Anna menanggung sendiri? Tak ada saudara atau pun kerabat dekat yang bisa membantunya. Dia hanya mengandalkan karyawan-karyawan ayahnya yang masih setia. “Baik kalau begitu saya tinggal dulu, ya, Non. Di sini sudah selesai.” “Iya, Bik. Terima kasih.” Dalam lamunannya yang tak jelas arah. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Anna. Nomor tak diketahui tampak di layar ponsel hitam itu. [Halo, Nyonya Anna. Ini dari pengurus perusahaan Pak Adam Alfred. Diharapkan kedatangan Nyonya Anna besok pagi di kantor jam 09.00. Terima kasih] Anna membaca pelan pesan tersebut. Dia tak tahu harus berbuat apa. Selama ini ayahnya tidak pernah sekali pun melibatkan anak gadisnya itu di perusahaan yang dipimpin. Kali inilah kesempatan dia untuk mengetahui dunia ayahnya. Rokok di tangannya disesap kembali. “Baiklah. Semoga besok hariku yang menguntungkan. Bagaimana pun itu aku harus terjun dalam perusahaan yang ayah pimpin selama ini.” Wanita itu bermonolog dengan santai. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN