02 : Malam yang panas

1735 Kata
Serentak perhatian teman-temannya tertuju pada Bebi yang diantar keluarganya nan heboh. Terutama pada Mami alaynya yang nangis bombay ketika ditarik Zaidan masuk ke mobilnya. "Ck, drama queen banget!" desis salah satu temannya. "Baby boy gitu loh. Masa lo kagak ngerti?!" Yang lain menimpali sinis. "Gue dengar rumornya sih, sumpah gak tahu separah ini! Tuh anak cocoknya masih TK deh!" Dari kasak-kusuk penuh kemusrikan itu, timbullah niat jahat berjamaah. "Hei, bagaimana kalau kita bikin si baby boy dewasa instant?" "Gimana cara?" Mereka pun saling berbisik merencanakan sesuatu yang laknat. Sementara itu Chiqita dan Xena sedang berbincang dengan Pak Kades tak jauh dari kumpulan anak SMA yang unyu-unyu itu. "Jadi sebelum memulai proyek di desa ini, kami akan membenahi beberapa fasilitas yang ada demi kelancaran proses pengerjaan proyek kami. Pertama yang akan kami benahi adalah jalan. Kami akan membuat jalan beraspal di beberapa titik yang sering dilalui. Bagaimana menurut Bapak?" kata Chiqita lugas. Pak Kades mengangguk senang. "Kami menurut saja, Bu. Semua demi kemajuan bersama toh. Semoga desa kami semakin maju, ndak terbelakang seperti sekarang ini." "Maaf Pak. Yang kami dengar di desa ini tradisinya masih kuat sekali. Menurut saya, itu sesuatu yang sangat positip," timpal Xena. "Ya, Bu. Karena masyarakat kami percaya sesuatu yang buruk bisa berakibat buruk pada kehidupan kami. Contohnya, desa kami tak mengenal istilah pacaran karena proses pacaran itu sering mengundang fitnah dan kejadian mesum." "Lah trus, kalau kawin apa gak pakai pacaran dulu?" tanya Chiqita heran. "Nikah, Chi. Bukan kawin," ralat Xena. Chiqita sudah berusaha, tapi terkadang lupa hingga berbicara agak vulgar. Cewek itu nyengir kuda. "Kami menikah gak pakai pacaran, Bu. Langsung dijodohkan oleh orang tua atau tetua desa." "Apa kerjaan Tetua desa mencari jodoh untuk penduduknya?" "Bukan begitu, sebenarnya tetua desa hanya menikahkan pemuda pemudi yang tertangkap berbuat m***m. Daripada mereka mengundang bencana bagi desa kami, terpaksa kami menikahkan mereka. Dan mereka tak boleh menolaknya." Chiqita manggut-manggut, tapi dalam hati ia mencemooh kekolotan desa ini. Pantasan gak bisa maju! Tiba-tiba perhatian mereka terarah pada sekelompok anak SMA yang sedang bersendau gurau. "Brondong, Chi. Lo gak tertarik modusin?" goda Xena berbisik pada Chiqita. "Gak minat. Lo tahu selera gue. Gue anti brondong, apalagi yang masih polos dan perjaka. Apa serunya main sama mereka? Yang ada ribet mesti momong dan membiayai mereka. Mending ML sama yang b***t. Udah pasti enak dan gak ada beban!" cengir Chiqita. "Dasar jalang!" ledek Xena lirih. Tentu saja Pak Kades tak mendengar percakapan laknat itu, dengan sopan ia berkata, "kebetulan kami sedang kedatangan tamu. Ada beberapa adik SMA yang ingin mengamati kehidupan di perdesaan. Semoga kehadiran mereka tak menganggu ibu-ibu sekalian." "Ah tidak, Pak. Sama sekali tidak! Justru kami senang, semoga kehadiran mereka bisa menyemarakkan desa Bapak dan menimbulkan kesan yang mendalam," ucap Chiqita sok diplomatis. Dia tak menyangka salah satu dari anak-anak SMA itu bakal membuatnya terkesan luarrrr binasahhhhh! *** Bebi melotot menyaksikan adegan plus-plus di laptop temannya. Dia ingin menyingkir, tapi temannya menahannya dan memaksanya menonton adegan menjijikkan itu. "An-anto. kita tak boleh melihat film orang dewasa gini. Kita masih belum cukup umur!" protes Bebi dengan suara pelan. "Paansi, lo?! Kolot banget jadi cowok! Dasar anak mama!" Anto menarik tangan Bebi yang dipakai buat menutup matanya. "Awas lo kalau berani merem. Dasar cemen lo, ngelihat adegan gini aja gak berani!" "Takut dosa. Itu zinah, Anto!" "Zinah itu kalau lo melakukannya. Kalau cuma ngelihat itu wajar lagi!" jelas Anto. "Tuh, dengerin ceramah ustadz Aa Anto!" timpal temannya yang lain. Bebi terdiam. Masa iya begitu? Tapi kata Mami, meski ngelihat juga dosa karena bisa membuat kita kepengin. Sungguh, Bebi jadi takut kalau dijebloskan masuk neraka. Masalahnya, memang awalnya dia terpaksa nonton. Sekarang diluar kehendaknya, dia menikmatinya. Jantungnya berdebar kencang, hatinya berdesir, bulu kuduknya merinding disko, matanya membulat besar dengan mulut ternganga lebar. Bukan berarti dia melihat bangsa lelembut, tapi Bebi terpaku karena menyaksikan penampakan di layar laptop Anto. Sekarang layar video menunjukkan, mereka sudah telanjang bulat dan saling grepe-grepe. Wajah Bebi tampak lucu saat melongo bengong. Rupanya dia baru tahu belalai gajah yang menempel di selangkangannya bukan cuma buat pipis. Belalai itu bisa membesar, memanjang dan... bisa menusuk. Bebi merasa heran, mengapa mendadak ia merasa panas. Dia pikir dia haus, segera disambarnya botol mineral di sampingnya. Dia meminum air di botol itu dalam sekali tegukan disaat teman-temannya asik ngeces ngelihat adegan hot di layar hape. "s**t! Gue pengin c**i nih," gerutu Bram. "c**i aja, sesama cowok juga. Apa mau gue bantuin?" sahut Didi cengengesan. Plak. Bram menoyor kepala Didi menggunakan majalah yang dipegangnya. "Apa serunya di c**i elo? Coba ada cewek diantara kita," keluh Bram. Anto tersenyum misterius. Dia sudah berjanji bertemu dengan Rita, cewek sok jual mahal yang ditaksirnya dari jaman masih SMA kelas satu. Awas lo Rita, gue bakal kerjain lo malam ini. Batin Anto sambil melirik kesamping. "Anjrit!! Siapa yang minum botol mineral gue?!" teriak Anto panik. Dia memandang curiga pada Bram dan Didi. "Gue lihat tadi si baby boy yang ngabisin," sahut Didi nyantai. "What?! Gawat! kemana dia sekarang?" "Tauk. Kencing, kali. Aish, kenapa sih lo kepo amat?! Air mineral doang, noh masih ada yang lain." Bram menunjuk beberapa botol mineral yang bergeletakan di meja. Hati Anto mencelos. Itu bukan sekedar air mineral. Didalamnya sudah ia cekokin obat perangsang yang sebenarnya akan dipakainya untuk mengerjai Rita. Apapun yang terjadi itu bukan salah gue, itu takdir. Moga-moga lo gak kenapa-napa Bebi. Kata Anto dalam hati. *** Chiqita tak menyangka udara di desa gunung kidul bakal begini dinginnya. Dia telah memakai sweater rangkap jaket, tapi tulangnya masih gemeretak menggigil kedinginan. "Gue butuh kehangatan," desah Chiqita dengan suara seksinya. Xena jadi merinding dilihat dengan tatapan penuh damba milik sohib jalangnya. "Gue masih normal. Minta sama yang punya rudal, gih!" Chiqita manyun seketika. "Lo sudah memperingatkan gue supaya jangan m***m di desa kolot ini. Sekarang lo juga yang memancing birahi gue. Tadinya gue cuma pengin minum yang hangat-hangat, sekarang pengin ngulum batang panas!" Xena tertawa terbahak-bahak. Mereka memang sudah biasa ngomong vulgar dan kasar, tapi persahabatan mereka justru terjalin karena sikap yang apa adanya itu. "Kulum tuh gedebok pisang disono!" "Apa serunya? Cuma diem pasrah gitu! Ayo lo tanggungjawab, cariin gue makhluk berbatang!" "Bagaimana kalau anak SMA tadi? Gue lihat ada satu yang sangat imut, menggemaskan seperti bayi," goda Xena. Pluk. Chiqita melemparkan bantal yang dipegangnya ke wajah Xena. "Mending gue self service. Ogah main sama bayi! Mungkin dia saja gak sadar kalau tititnya itu bisa dipakai nusuk!" Mereka berdua sontak tertawa cekikikan. "Serius, gue kedinginan. Apa disini ada penjual bajigur yang buka malam?" tanya Chiqita. "Mana mungkin? Jam 6 saja disini sudah sepi lempeng. Semua duduk manis di dalam rumah." Kecuali mereka, dua cewek yang asik mengobrol di joglo depan rumah Pak Kades. "Membosankan," keluh Chiqita. "Gue bisa memperkirakan hal ini. So.." "So what...?" Chiqita menatap penuh harap pada temannya. Xena mengeluarkan dua botol whisky yang dari tadi ia sembunyikan. Mata Chiqita berpijar senang. "You're great, My love!" Chiqita segera menyambar botol whisky itu dan meminum langsung dari botolnya. Calm down, Chi. Ini bukan seperti wine yang biasa lo minum. Kadar alkoholnya jauh lebih tinggi. Jangan sampai lo mabuk!" "Lo tahu kan gue kuat minum? Dan gue tau batas! So.. shut up girl!" Xena menghela napas. Kekhawatirannya terbukti kemudian, Chiqita mabuk. Sialnya dia juga ikutan nge-fly. "Chi, gue pusing. Balik kamar dulu ya. Lo enggak mau balik?" "Enggak.. hik.. gue mau... hik... lihat bintang," sahut Chiqita, dia lebih mabuk dari Xena. Andai pikiran Xena saat itu masih jernih pasti dia akan memaksa Chiqita kembali ke kamar mereka. Tapi dia membiarkan sohibnya yang tengah mabuk meneruskan minumnya. "Lihat bintang. Yuk.. ayuk... meraih bintang.." senandung Chiqita sambil berjalan sempoyongan mengikuti bintang. Lalu samar-samar dia melihat satu rumah yang agak jauh dari rumah penduduk yang lain. "Rumah gue," cengir Chiqita. Ia masuk ke rumah itu dan membuka pintu kamar paling depan yang disangka Chiqita adalah kamarnya. Bruk. Dia langsung melempar tubuhnya ke ranjang. Apa ini? Chiqita meraba sesuatu dibawahnya yang telah ditindihnya. Meski mabuk, naluri jalangnya masih bekerja. Dia tahu yang dipegangnya adalah milik seorang pria. Dengan ukuran jumbo! Wow, Chiqita jadi ngiler ingin mencicipinya. Tanpa berpikir panjang, si jumbo itu dikulumnya seperti ia sedang menikmati lolipop. Terdengar lenguhan manja seorang pria. "Yes, Beb. Let's play, we have a s*x!" gumam Chiqita dengan suara serak-serak basahnya. "Bo-boleh?" "Tentu! Lo mesti melakukan itu kalau gak mau gue perkosa batang perkasa lo." Terdengar napas tercekat seseorang. Chiqita tertawa cekikikan. Tawanya berhenti saat mulutnya dibungkam oleh ciuman seseorang. Cih, ciuman amatir. Jelas orang ini pemula. Ciumannya kaku. Tapi bibirnya lezat. Kenyal dan lembut. Chiqita jadi tak sabar, dia segera mengambil kendali. Chiqita memagut bibir seksi pria itu, mengulumnya. Menggigitnya gemas. Lidahnya dengan lincah memasuki mulut pria itu dan menggoda didalam sana. Sesaat pria itu gelagapan, tapi dia belajar dengan cepat. Dia balas mencium dengan penuh gairah, kali ini ciumannya terasa lebih luwes dan lincah menggoyang birahi Chiqita. "Not bad," guman Chiqita sensual. Dia melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya, sedang si pria telah telanjang sedari tadi. "Kita mulai ke menu utama, Beb." Dan jujur, Chiqita tak pernah merasakan percintaan yang luar biasa seperti malam ini. Mereka berdua mengayuh bersama mengarungi lautan birahi. Begitu liar, begitu dashyat, sangat menggetarkan! Chiqita sudah o*****e berkali-kali tapi pria yang bersamanya masih belum juga mencapai puncaknya. Siapa sih pria ini? Dia jadi penasaran. Tapi pandangannya kabur, dia tak bisa memperhatikan dengan jelas siapa pasangan seksnya. Apalagi pria itu terus memborbadirnya dengan serangan yang menguncang birahinya. Chiqita meremas rambut pria yang kini bibirnya sedang bermain-main di dadanya. Oh, holy s**t! Lidah cowok ini begitu hangat dan enak. Chiqita tergila-gila dibuatnya. Jangan lupakan perkakas jumbo pria ini, Chiqita dibuat kecanduan olehnya. Sudah ukurannya istimewa, ternyata perkakas ini juga memiliki stamina dan ketahanan yang luar biasa! Misal saat ini mati pun Chiqita tak akan menyesal. Paling tidak ia sudah merasakan percintaan yang begitu dashyat dan menggetarkan jiwa! Astaga, dia kembali mencapai puncak. Chiqita melenguh nikmat. Bersamaan dengan itu, si pria menyemburkan benihnya masuk ke rahim Chiqita. Cairan cintanya sangat banyak dan memancar deras hingga menimbulkan sensasi menggetarkan di dinding rahim Chiqita. Dia sudah lupa konsep seks aman. Chiqita belum pernah merasakan kepuasan sehebat ini dalam bercinta. Tak terasa mereka telah bercinta hingga menjelang subuh. Akhirnya dua insan berlainan jenis itu tertidur sambil berpelukan. Telanjang bulat. Mereka tak tahu akan kehebohan yang harus mereka hadapi di pagi harinya. Kenikmatan yang mereka rasakan harus diganjar dengan sesuatu yang akan merubah hidup mereka selamanya. Hidup Chiqita dan hidup si pria yang tak lain adalah... Bebi, si baby boy, si anak mama! Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN