BAB 22

2204 Kata

Sakaya terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Napasnya sudah tidak beraturan. Dadanya terasa sesak, sementara tenggorokannya mulai terasa gatal akibat debu yang sejak tadi terhirup. Berkali-kali Sakaya berhasil dipaksa masuk ke dalam ruangan pengap itu, tetapi berkali-kali pula ia berhasil melawan dan keluar. Tubuhnya mulai terasa sakit. Tangannya memerah karena berkali-kali menangkis cengkeraman para bodyguard, sementara beberapa bagian kakinya mulai terasa nyeri akibat benturan. Namun, Sakaya tidak punya waktu untuk memedulikannya. Sebelum mereka benar-benar mengerahkan semua orang di kediaman itu, Sakaya memilih berlari. Ia tidak boleh tertangkap. Tidak kali ini. Ia terus mencari jalan keluar hingga akhirnya melihat tembok tinggi yang mengelilingi kediaman Maheswara. Sakaya be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN