Sakaya berdiri di depan pintu sebuah ruangan khusus di rumah sakit itu. Tangannya masih menggenggam gagang pintu, tetapi ia belum juga masuk. Sejujurnya, ia cukup bersyukur Sakara ditempatkan di rumah sakit sebesar ini. Setidaknya, selama satu bulan terakhir, ia tidak perlu terus-menerus memikirkan apakah saudara kembarnya mendapatkan perawatan yang layak atau tidak. Alden berdiri di sampingnya. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menunggu Sakaya siap untuk masuk. Sakaya akhirnya menarik napas panjang sebelum membuka pintu. Alden ikut masuk bersamanya. Ruangan itu terasa tenang. Hanya suara alat-alat medis yang sesekali terdengar, menemani sosok laki-laki yang terbaring di atas ranjang. Sakaya berhenti beberapa langkah dari tempat tidur. Tatapannya langsung tertuju pada Sakara. Untu

