BAB 5

2502 Kata
Hari telah berganti, sekarang tanggal merah. Pagi kembali menyelimuti rumah sederhana itu dengan udara yang masih sejuk. Embun belum sepenuhnya menghilang dari dedaunan ketika Nenek sudah berdiri di halaman rumah sambil memegang sapu lidi. Gerakannya memang tidak lagi sekuat dulu. Sesekali ia harus berhenti untuk mengatur napas sebelum kembali menyapu daun-daun kering yang berserakan di halaman. Pintu rumah kemudian terbuka. Sakaya keluar dengan rambut yang masih sedikit berantakan. Ia baru saja selesai berganti pakaian ketika melihat Nenek sedang menyapu sendirian. “Nek...” Nenek menoleh. “Biar aku aja.” kata Sakaya, “Ini kan tugasku buat nyapu halaman.” Sakaya segera berjalan mendekat dan mengambil sapu dari tangan Nenek. “Nggak usah, Nak. Kamu baru bangun.” tolak Nenek. “Justru itu. Daripada aku tidur lagi.” Sakaya tersenyum kecil sambil mulai menyapu halaman. Nenek hanya menghela napas sebelum berjalan menuju kursi kecil di teras. “Kalau capek, istirahat.” “Iya.” Belum sempat Sakaya menyelesaikan pekerjaannya, suara kendaraan terdengar berhenti di depan rumah. Ia menoleh dan melihat seorang perempuan turun dari sepeda motor sambil membawa sebuah karung beras berukuran sedang. “Nggak perlu disapu terus, Sakaya. Halamannya juga nggak akan ke mana-mana.” Sakaya tersenyum ketika mengenali suara tersebut, “Tante Dina...” Dina berjalan mendekat dan tersenyum kepada mereka. “Nah, ini berasnya Bu...” Nenek yang mendengar suara Dina langsung bangkit dari kursinya. “Ya ampun, Dina...” Dina menyerahkan karung beras itu kepada Nenek. “Berasnya sudah Dina lebihin sedikit, Bu.” kata Dina. Nenek menatap karung tersebut dengan wajah terharu. “Lho, kenapa? Ibu kan cuma minta lima kilo.” “Anggap saja buat tambahan. Nggak usah dikembalikan.” balas Dina. Nenek menggeleng pelan. “Jangan begitu, Nak. Nanti Ibu tetap bayar.” “Bayarnya kapan?” “Kalau sudah ada uang.” Dina terkekeh kecil. “Berarti nggak usah. Lagian sudah menjadi kewajiban anak memberi kepada orang tuanya.” Nenek terdiam beberapa saat. Matanya tampak berkaca-kaca sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. “Terima kasih, ya, Dina.” “Iya, Bu.” Nenek mengusap sudut matanya sebelum kembali memegang karung beras tersebut. “Ibu mau taruh dulu di dapur.” “Nggak usah, Bu. Biar Dina saja.” kata Dina, “Ibu duduk di sini saja, nontonin Sakaya nyapu.” Dina hendak mengambilnya, tetapi Nenek langsung menggeleng. “Nggak perlu. Ibu masih kuat.” tolak Nenek. “Tapi berat.” kata Dina. “Hanya beras, bukan batu. Lagipula Ibu masih sehat.” “Tapi...” Nenek menggeleng kecil sambil membawa karung tersebut masuk ke dalam rumah. Dina hanya bisa menggeleng melihatnya. “Ya sudah, pelan-pelan.” Setelah Nenek menghilang di balik pintu, halaman kembali terasa lebih tenang. Sakaya masih berdiri sambil memegang sapu di tangannya. Ia menatap pintu rumah beberapa saat sebelum kemudian menyandarkan sapu tersebut ke dinding. Sakaya sudah menyelesaikan tugasnya. Dina memperhatikan sejak tadi. “Sakaya.” Sakaya mengangkat wajah. “Iya, Tante?” “Kamu apa kabar?” Sakaya tersenyum tipis. “Baik, Tante.” Dina mengangguk, tetapi ekspresinya tidak ikut berubah. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya, hanya saja perempuan itu tampak masih ragu untuk memulainya. “Boleh ngobrol sebentar?” Sakaya terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk, “Boleh.” Ia kemudian berjalan mengikuti Dina menuju kursi di teras. Mereka duduk bersebelahan. Untuk beberapa saat, Dina hanya diam sambil menatap halaman. Seolah sedang menyusun kata-kata agar apa yang ingin disampaikannya tidak terdengar terlalu menyakitkan. “Sakaya...” akhirnya Dina membuka suara. “Tante sebenarnya nggak mau ikut campur terlalu jauh soal keluargamu. Tapi Tante sudah mengenal perangai Nenekmu, apalagi Tante anak bungsu. Tante tau bagaimana susahnya Nenekmu dulu karena masalah Ibumu.” Sakaya langsung terdiam. “Tante nggak mengharapkan warisan orang tua lagi, ketika dulu Mbak Mira terkena banyak masalah hutang sepeninggal Ayahmu,” kata Dina. “Tante... memilih mengalah. Tante pikir, yang penting masalah Mbak Mira bisa selesai dan Nenek nggak perlu ikut pusing.” Dina terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. “Waktu itu seharusnya Tante punya keluarga sendiri yang harus dipikirkan, apalagi Adit saat itu butuh uang untuk bayar SPP sekolah, Adiknya juga perlu s**u formula karena kebetulan habis juga saat itu. Suami Tante saat itu baru dipecat dari pekerjaan, hidup kami juga terpuruk saat itu.” Sakaya mendengarkan dengan sangat baik. “Tapi melihat Mbak Mira dikejar-kejar bank, Tante juga nggak tega kalau harus mengambil bagian yang seharusnya menjadi hak Tante. Apalagi Nenekmu terus membantu terus-terusan Mbak Mira.” Dina menundukkan wajahnya. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. “Jadi waktu itu Tante pikir, biarlah. Tante masih bisa berusaha sendiri. Tante masih punya suami, masih punya pekerjaan meskipun keadaan sedang sulit. Sedangkan Mbak Mira...” Dina menghela napas. “Tante pikir dia benar-benar nggak punya siapa-siapa lagi dan punya anak kembar.” Sakaya menatap perempuan di sampingnya. “Tapi ternyata Tante salah.” Dina tersenyum tipis, tetapi tidak ada kebahagiaan di wajahnya. “Tante kira Mbak Mira akan sadar dan mulai memperbaiki hidupnya, meski masalahnya belum sepenuhnya selesai,” Dina menggeleng pelan. “Ternyata Mbak Mira semakin jauh dengan menitipkan kamu di sini.” Sakaya menundukkan wajah. “Dari yang Tante katakan, Tante cuma mau berpesan satu hal...” ujar Dina selanjutnya, “Semoga kamu segera berubah ya.” Sakaya perlahan mengangkat wajahnya. “Berubah?” “Iya.” Dina tersenyum tipis. “Jadi anak yang berprestasi lagi. Punya tujuan. Punya sesuatu yang ingin kamu kejar.” Sakaya tidak menjawab. “Suatu hari nanti, Tante berharap kamu bisa membahagiakan Nenekmu.” Dina kemudian menarik napas panjang. “Uang pensiun Nenekmu itu nggak seberapa, Sakaya. Sebagian besar habis untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolahmu.” Tatapan Sakaya kembali turun. “Dulu, waktu memasukkan kamu ke sekolah favorit itu, Nenekmu sebenarnya punya harapan besar sama kamu. Dia berpikir kamu akan menjadi Sakaya yang lebih hebat lagi.” kata Dina menambahkan, “Dia berharap suatu hari nanti kamu bisa mendapatkan beasiswa di sana, supaya kamu bisa melanjutkan pendidikan tanpa membuatnya terlalu terbebani.” Sakaya menggenggam kedua tangannya sendiri. “Tapi ternyata...” Dina berhenti sejenak, seolah merasa berat untuk mengatakannya. “Kamu justru kehilangan arah. Tapi Tante akhirnya tau kalau kamu berubah sejauh ini karena ulah Ibumu, Tante juga nggak habis pikir kenapa kamu harus disakiti berkali-kali oleh wanita itu.” Sakaya tidak menjawab. Ia hanya menatap kedua tangannya sendiri yang sejak tadi saling menggenggam erat. Entah kenapa, setiap perkataan Dina terasa semakin berat. Bukan karena Dina sedang menyalahkannya, justru karena Sakaya tahu, tidak ada satu pun dari perkataannya yang sepenuhnya salah. Dulu Nenek memang punya harapan kepadanya. Dulu ia memang punya banyak mimpi. Dan sekarang, semua itu seolah menghilang begitu saja. “Tante...” suara Sakaya terdengar pelan. “Hm?” “Kalau waktu itu aku nggak berubah...” Sakaya berhenti sebentar. “Mungkin sekarang keadaan Nenek nggak akan seperti ini, ya?” Dina langsung menoleh. “Sakaya...” “Aku tau Tante nggak bermaksud menyalahkan aku.” Sakaya tersenyum tipis, “Tapi aku sendiri yang merasa bersalah sekarang.” Dina terdiam. “Aku sekolah di tempat yang mahal, Nenek bayar semuanya. Tapi setelah itu...” Sakaya menundukkan wajahnya. “Aku malah berhenti mengejar apa pun.” Jarinya kembali mengepal. “Beasiswa yang dulu Nenek harapkan juga nggak pernah aku dapatkan.” “Sakaya, itu bukan berarti—” “Kalau aku tetap berprestasi, mungkin semuanya akan berbeda.” Suara Sakaya bergetar. “Mungkin Nenek nggak perlu terlalu khawatir soal biaya sekolah, mungkin aku bisa mendapatkan beasiswa. Dan mungkin Nenek bisa hidup lebih tenang.” Sakaya mengusap sudut matanya, Dina menarik napas panjang. “Kamu masih punya kesempatan, Sakaya.” Sakaya tidak menjawab. “Tante cerita semua ini bukan supaya kamu merasa bersalah.” Dina menggenggam tangan Sakaya. “Tante cuma ingin kamu tau kalau Nenekmu benar-benar percaya sama kamu.” Sakaya menatapnya. “Bahkan ketika kamu sudah kehilangan kepercayaan kepada dirimu sendiri, Nenekmu masih percaya.” Kalimat itu membuat mata Sakaya kembali berkaca-kaca. “Tante cuma nggak ingin kamu salah mengartikan semua pengorbanan Nenekmu.” Dina tersenyum lembut, “Jangan menganggap dirimu sebagai utang yang harus dibayar.” Sakaya terdiam. “Kalau kamu ingin membahagiakan Nenek, jangan habiskan hidupmu dengan terus merasa bersalah.” Dina menepuk punggung tangannya pelan. “Bangun lagi.” Sakaya menundukkan kepala. “Kalau memang dulu kamu punya mimpi, kejar lagi. Kalau kamu ingin sekolah lebih tinggi seperti yang dulu pernah kamu ceritakan, mulai cari caranya. Kalau kamu ingin bekerja, persiapkan dirimu dari sekarang.” Dina menghela napas. “Dan kalau nanti kamu gagal, ya gagal. Coba lagi.” Sakaya tersenyum tipis di tengah matanya yang mulai basah. “Sesederhana itu?” “Memangnya harus bagaimana?” Dina terkekeh kecil, “Kamu dulu ketika gagal, selalu coba lagi sampai dapat kan? Tante ingin kamu punya ambisi lagi, biar nanti kamu dan Adit sama-sama sukses dan membuat Tante bangga.” Dina menatap Sakaya cukup lama sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Dan satu lagi, Sakaya.” Sakaya mengangkat wajahnya. “Kalau kamu nggak punya Ibu, bukan berarti kamu nggak punya siapa-siapa.” Suara Dina terdengar lembut. “Kamu masih punya Nenek. Kamu masih punya Tante dan keluarga Tante. Kamu nggak sendirian.” Sakaya terdiam. “Jadi kalau suatu hari nanti Ibumu datang lagi dan mengancam kamu untuk jangan maju seperti dulu...” Dina mengangkat dagunya sedikit. “Kamu jangan takut lagi.” Sakaya mengerutkan kening. “Kenapa?” “Ya Tante akan labrak.” Sakaya menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya terkekeh. “Tante mau labrak dia?” “Kenapa nggak?” Dina menjawab santai. “Dulu Tante terlalu banyak diam. Sekarang kalau dia berani macam-macam lagi sama kamu, Tante yang maju duluan.” Sakaya tertawa kecil. Entah kenapa, perkataan sederhana itu membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan. “Kalau begitu...” Sakaya kembali bersandar di kursi. “Menurut Tante, kalau aku dikasih tawaran sepuluh miliar buat gantiin Sakara yang lagi koma, bakalan diterima nggak?” Senyum Dina seketika menghilang. “Kembaranmu koma?” Sakaya mengangguk, Dina menatapnya dengan wajah tidak percaya. “Kemarin...” Sakaya menghela napas. “Dia datang bersama suaminya. Mereka nawarin sepuluh miliar kalau aku mau gantiin Sakara sementara sampai dia bangun.” “Sepuluh miliar?” “Iya.” Dina terdiam cukup lama. “Nenek bilang nggak usah dipikirin,” lanjut Sakaya. “Katanya Nenek masih bisa mengurus aku. Dia nggak ingin aku dalam bahaya atau mendapat masalah baru dengan menerima tawaran itu.” Dina tampak berpikir sejenak, sementara Sakaya kembali terdiam. Pikirannya kembali kepada percakapan yang tidak sengaja didengarnya kemarin. Suara Nenek yang meminta beras lima kilo. Suara yang berusaha terdengar biasa meskipun sebenarnya begitu sungkan. Tangannya perlahan mengepal. “Tapi kemarin...” Sakaya berhenti sejenak. “Waktu Nenek bilang pinjam beras lima kilo ke Tante di telepon...” Sakaya menelan ludah. “Aku jadi kepikiran buat ambil tawaran itu.” Dina tidak langsung menjawab. “Sebenarnya bukan cuma karena sepuluh miliar itu.” Sakaya menatap halaman di depannya. “Aku juga mau minta sesuatu dari wanita itu. Beberapa syarat yang harus mereka setujui sebelum aku ambil tawaran itu. ” “Apa?” Dina mengerutkan kening. “Biaya hidupku selama ini.” balas Sakaya, “Aku ingin perhitungan dari awal.” Sakaya tersenyum tipis, tetapi matanya tidak menunjukkan kebahagiaan. “Kalau emang mereka ingin aku gantiin Sakara, aku ingin mereka bayar semua hal yang selama ini nggak pernah mereka pikirkan.” Dina masih diam. “Biaya sekolahku, biaya hidupku, biaya kuliahku di masa depan nanti juga harus dihitung.” Sakaya menarik napas perlahan, “Pokoknya semua yang seharusnya menjadi tanggung jawab dia sebagai Ibu, akan aku hitung semua.” Ia menoleh kepada Dina, “Menurut Tante gimana?” Dina menatap Sakaya cukup lama. Untuk pertama kalinya sejak percakapan mereka dimulai, perempuan itu tidak langsung memberikan nasihat. Ia hanya memperhatikan wajah keponakannya, seolah sedang mencoba memahami keputusan besar yang mulai tumbuh di dalam kepala gadis itu. “Kamu serius mau mengambil tawaran itu?” Sakaya mengangguk pelan, “Aku belum tau.” Ia kembali menatap halaman. “Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama...” Sakaya tersenyum tipis. “Aku merasa punya alasan untuk melakukan sesuatu.” Dina terdiam. “Kalau aku memang harus kembali ke kehidupan mereka,” lanjut Sakaya, “seenggaknya kali ini aku nggak mau kembali sebagai anak yang hanya bisa menerima apa pun yang mereka kasih.” Sakaya terdiam sejenak. Tatapannya masih tertuju pada halaman rumah yang mulai dipenuhi cahaya matahari. “Lagipula...” gumamnya pelan, “sakit harus dibalas dengan sakit, kan?” Dina perlahan menoleh. Untuk beberapa detik, ia tidak mengatakan apa-apa. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Sakaya kali ini. Bukan lagi tatapan gadis yang pasrah dan kehilangan arah seperti yang selama ini Dina kenal. Di balik mata itu, ada sesuatu yang jauh lebih dalam. Ada luka yang belum sembuh. Ada kemarahan yang selama ini dipendam. Dan mungkin... ada dendam. Sakaya menyadari tatapan Dina, lalu tersenyum kecil. “Tante cuma perlu bujuk Nenek supaya mau membiarkan aku pergi.” Dina masih menatapnya. “Aku juga bakal titip Nenek ke Tante.” Sakaya menarik napas perlahan. “Tenang aja. Kalau aku menerima tawaran itu, aku bakal dapat uang banyak.” “Tapi, Sakaya...” “Aku serius.” Sakaya menoleh kepadanya, “Selama ini Nenek terus mengkhawatirkan biaya sekolahku. Setelah ini, aku nggak mau dia mikirin itu lagi.” Dina terdiam. “Dan kalau aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu...” Sakaya tersenyum tipis. “Aku juga bisa memastikan Nenek nggak perlu lagi meminjam beras kepada siapa pun. Uang pensiunnya bisa Nenek pegang untuk tabungan, hidupnya sejahtera.” Dina menatapnya cukup lama sebelum akhirnya bertanya, “Kalau begitu, sekolahmu bagaimana?” Sakaya mengerutkan kening. “Maksud Tante?” “Kamu kan sekarang kelas dua belas.” Dina mengingatkan. “Kalau kamu benar-benar menggantikan Sakara, sekolahmu akan berantakan, kan?” Sakaya terdiam sejenak. “Belum tentu Sakara koma sampai berbulan-bulan, kan?” Dina tidak menjawab. “Bisa aja Sakara bangun lebih cepat.” Sakaya mengangkat bahu. “Kalau ternyata baru beberapa hari langsung sadar, ya aku tinggal balik lagi ke sini sambil bawa uang 10 miliar.” “Kalau nggak?” “Kalau parahnya sampai lama...” Sakaya berpikir sebentar. “Nggak masalah kalau aku harus mengulang lagi di kelas dua belas.” Dina langsung menatapnya. “Kamu serius?” Sakaya mengangguk. “Selagi uang kuliahku nanti terjamin, biaya hidupku juga terjamin, dan aku nggak perlu terus ngerepotin Nenek...” Sakaya menghela napas pelan. “Kayaknya bakal aku ambil.” Dina masih diam. Sakaya kembali menatap halaman. “Lagipula, mungkin ini kesempatan yang nggak akan datang dua kali.” Jarinya perlahan mengepal di atas pangkuan. “Selama ini mereka yang menentukan hidupku.” kata Sakaya menambahkan, “Sekarang biar aku yang menentukan harga diriku sendiri, dan buat mereka menyesal.” Dina menatap Sakaya tanpa mengatakan apa-apa. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa gadis yang duduk di sampingnya bukan lagi Sakaya yang selalu menunduk setiap kali membicarakan masa lalu. Ada sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam diri gadis itu. Sesuatu yang selama bertahun-tahun terkubur bersama mimpi-mimpinya. Dan kali ini, Dina tidak yakin apakah yang sedang bangkit adalah ambisi Sakaya yang dulu... atau luka yang belum pernah benar-benar sembuh. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN