PROLOG 2

1851 Kata
“Mamah... jangan tinggalin Sakaya. Sakaya mau sama Mamah dan Sakara.” Sakaya memeluk kaki ibunya erat-erat sambil terisak. “Sakaya nggak mau di sini. Sakaya nggak mau sama Nenek.” Air mata terus mengalir di pipi kecilnya. Beberapa hari sebelumnya, Sakaya memang dibawa ke rumah Nenek yang terletak jauh dari Ibu kota. Awalnya ia tidak terlalu keberatan. Apalagi ini adalah pertama kalinya ia mengunjungi keluarga dari pihak ibunya. Lagipula, Mira sudah berjanji bahwa mereka tidak akan berpisah lama. Sakaya juga percaya saat ibunya mengatakan bahwa Sakara sudah lebih dulu pergi bersama Mahes dan sedang menunggu mereka di sana. Karena itulah ia menurut. Karena itulah ia tidak menangis saat perjalanan panjang menuju desa yang asing baginya. Ia pikir, sesampainya di sana, ia akan kembali bertemu dengan saudara kembarnya. Namun kenyataannya berbeda. Hari pertama berlalu. Lalu hari kedua. Kemudian hari ketiga. Sakara tidak pernah muncul. Yang ada hanya dirinya, Mira, dan Nenek. Tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. Dan sekarang, di tengah malam, Mamahnya diam-diam menarik koper dan pergi keluar tanpa dirinya! “Kenapa kamu nggak tidur? Ini sudah malam, Sakaya.” Mira berusaha melepaskan genggaman putrinya secara perlahan. Namun Sakaya justru memeluknya semakin erat. Alasan Sakaya tidak tidur, jelas anak itu entah kenapa memiliki firasat buruk. Apa yang dijanjikan Mira tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan, dan entah kenapa ia merasa seperti akan ditinggalkan. “Mamah mau ke mana?”tanya Sakaya langsung. “Nggak ke mana-mana.” balas Mira berusaha setenang mungkin. “Bohong.” suara kecil itu langsung pecah menjadi tangisan. “Kalau nggak ke mana-mana, kenapa Mamah bawa koper? Kenapa Mamah jalan berjinjit-jinjit seperti takut ketahuan dan petak umpet?” Mira langsung kehilangan kata-kata. Ia tahu putrinya cerdas meski malas belajar. Namun ia tidak menyangka Sakaya memperhatikan hal-hal sekecil itu. “Mamah cuma mau keluar sebentar. Nggak kemana-mana kok.” elak Mira berikutnya, “Soal koper, Mamah hanya memindahkan ke depan saja.” “Bohong.” tuduh Sakaya detik itu juga. Tangisan Sakaya semakin keras. Dan sepertinya, akan membangunkan Neneknya yang tidur di kamar sebelah. “Kata Mamah, kita cuma liburan di rumah Nenek.” “Iya.” “Kata Mamah, Sakara lagi nunggu kita.” “Iya.” “Kata Mamah, habis itu kita pulang lagi.” Setiap kalimat yang keluar dari mulut kecil itu membuat d**a Mira terasa semakin sesak. Sakaya mengusap air matanya kasar. “Tapi semuanya nggak ada yang bener.” Mira membeku. Hari pertama, Sakaya masih menunggu. Hari kedua, ia mulai bertanya. Hari ketiga, ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang disembunyikan darinya. “Mamah bohong sama Sakaya.” “Nggak.” “Kalau nggak bohong, mana Sakara?” Pertanyaan itu membuat Mira menundukkan kepala. Sakaya langsung menggenggam ujung baju ibunya. “Mamah...” Suaranya jauh lebih kecil sekarang, jauh lebih takut. “Sakaya janji bakal nurut.” Air matanya kembali jatuh. “Sakaya nggak bakal nakal.” Mira memejamkan matanya rapat. “Tapi jangan tinggalin Sakaya.” “Mamah kan sudah bilang... nggak ada yang ninggalin Sakaya.” “Ada!” tangisnya semakin keras. “Apa karena Sakaya beneran nggak berguna... Makanya Mamah berniat ninggalin Sakaya?” Tubuh Mira langsung membeku, seolah seluruh tenaga di tubuhnya menghilang dalam sekejap. “Sakaya...” Suaranya pecah. Anak perempuan itu menatapnya dengan mata sembab. “Paman itu bilang Sakaya nggak berguna.” “Nggak.” Mira langsung menggeleng kuat-kuat. “Jangan dengarkan omongan dia.” “Kalau Sakaya berguna...” suara kecil itu bergetar. “kenapa Mamah nggak ajak Sakaya?” Mira kehilangan kata-kata. Karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa tidak ada jawaban yang bisa dimengerti oleh anak berusia sembilan tahun. Apa yang harus ia katakan? Bahwa hidup mereka hancur karena utang? Bahwa ia lelah hidup dalam ketakutan? Bahwa ada seorang pria yang menawarkan jalan keluar dengan syarat meninggalkan salah satu anaknya? Tidak ada satu pun alasan yang terdengar masuk akal. Terutama bagi seorang anak yang hanya ingin tetap bersama ibunya. “Sakaya...” air mata akhirnya jatuh dari mata Mira, “Mamah sayang sama Sakaya.” “Kalau sayang, jangan pergi.” tangisan Sakaya kembali pecah. “Mamah, tolong...” Tangannya semakin erat memeluk kaki ibunya. Seolah jika ia melepaskan sedikit saja, orang yang paling dicintainya akan menghilang. “Mamah jangan tinggalin Sakaya, seperti Papah meninggalkan Sakaya selamanya.” Dada Mira terasa sesak. Sangat sesak. Karena setiap tangisan yang didengarnya malam itu membuat langkahnya semakin berat. Ia ingin berhenti. Ia ingin membatalkan semuanya. Ia ingin membawa kedua anaknya pergi dan melupakan Mahes selamanya. Namun kenyataan tidak semudah itu. Rumah mereka sudah akan dijual. Utang masih menumpuk. Dan ia sudah terlalu jauh melangkah untuk kembali. Mira berlutut perlahan di depan putrinya. Kedua tangannya menggenggam wajah kecil Sakaya. Dulu, saat Sakaya lahir, ia pernah berjanji akan melindungi anak ini apa pun yang terjadi. Namun malam ini, ia justru menjadi orang yang akan meninggalkannya. “Sakaya harus jadi anak yang kuat, ya?” ujar Mira. Sakaya langsung menggeleng keras, “Nggak mau.” “Sakaya...” “Nggak mau kuat.” Sakaya menggeleng keras. “Sakaya cuma mau Mamah.” Kalimat itu membuat pertahanan terakhir Mira runtuh. Ia langsung memeluk putrinya erat. Sangat erat. Seolah sedang berusaha mengingat perasaan ini untuk waktu yang sangat lama. Karena jauh di dalam hatinya, Mira tahu. Begitu ia melangkah keluar dari rumah malam ini... Ada kemungkinan Sakaya tidak akan pernah memanggilnya Mamah dengan cara yang sama lagi. “Ingat... Harus jadi anak baik, anak yang nurut, dan jangan pernah menyusahkan Nenek.” Mira menundukkan kepalanya, akhirnya ia jujur juga. Tapi ia tidak berani melihat wajah putrinya lagi. Karena jika ia melihatnya sekali saja, mungkin ia tidak akan sanggup melangkah pergi. Dan tepat pada saat itulah, Nenek Sakaya akhirnya datang. Sejak awal Sakaya menangis keras, Nenek Sakaya sudah menahan diri untuk tidak ikut campur di luar ruangan. Karena barangkali... Mira masih punya hati dan memilih menurunkan egonya demi bersama anaknya. Sayangnya, itu tidak terjadi. “Belum puas kah kamu membuat anakmu terluka seperti ini? Masih tetap ingin menikah dengan Maheswara, tanpa membawa Sakaya sama sekali di dalamnya?” meski sudah lanjut usia, Nenek itu masih bisa membela cucunya. Mira langsung memalingkan wajahnya. “Bu, ini bukan waktu yang tepat.” “Justru karena sudah terlambat, saya akhirnya keluar dari kamar.” Nenek melangkah mendekat. Tatapannya berpindah dari Mira kepada Sakaya yang masih menangis sambil memegangi ujung baju ibunya. Untuk sesaat, wanita tua itu memejamkan mata. Entah karena marah. Entah karena sedih. Atau mungkin keduanya. Sang Nenek juga memilih berkata formal, tidak menggunakan kata Ibu lagi setiap berbicara. Karena seolah... ia juga sudah gagal menjadi Ibu karena keputusan anaknya. “Dulu waktu kamu melahirkan anak ini...” suara Nenek terdengar pelan, “kamu menangis semalaman karena takut tidak bisa menjadi ibu yang baik.” Mira membeku. “Bu...” “Kamu bahkan tidak mau tidur. Sedikit-sedikit memeriksa napasnya karena takut terjadi sesuatu.” lanjut sang Nenek, “Saya masih mengingatnya, karena saya yang turut membantu kamu merawat si kembar saat itu” Air mata mulai memenuhi mata Mira, ia tidak berani menjawab sama sekali. “Sekarang lihat dirimu.” Nenek menggeleng perlahan, “Anak yang dulu kamu jaga siang malam, sekarang justru kamu tinggalkan dengan tanganmu sendiri.” “Bu, tolong mengerti posisi Mira.” “Saya mengerti.” jawaban itu datang begitu cepat, “Saya mengerti kamu capek.” Nenek menunjuk koper yang berada di dekat pintu. “Saya mengerti kamu takut pada utang.” Kemudian tatapannya jatuh pada wajah putrinya. “Saya juga mengerti kamu ingin hidup lebih baik.” Suasana mendadak sunyi. “Lalu kenapa Ibu terus menyalahkan Mira?” Karena untuk pertama kalinya malam itu, suara Mira terdengar lelah. Sangat lelah. Nenek menatapnya lama. “Karena semua alasan itu mungkin akan membuat hidupmu lebih mudah.” wanita tua itu berhenti sejenak. “Tapi tidak akan pernah membuat luka anakmu lebih ringan.” Mira langsung menundukkan kepala, tangannya mengepal kuat. “Dia masih kecil, Bu.” kata Mira. “Justru karena dia masih kecil.” Nenek menunjuk Sakaya yang masih menangis. “Anak seusianya tidak mengerti utang, dia tidak mengerti kesulitan hidupmu, dia juga tidak mengerti kenapa kamu memilih Mahes.” Suara Nenek mulai bergetar, “Yang dia tahu hanya satu.” Wanita tua itu berlutut perlahan di samping Sakaya lalu mengusap rambut cucunya. “Orang yang paling dia sayangi akan pergi meninggalkannya.” Ruangan kembali sunyi, hanya suara tangisan kecil Sakaya yang masih terdengar. “Mira...” Untuk pertama kalinya, suara Nenek terdengar sangat lembut. “Uang bisa dicari lagi, rumah bisa dibangun lagi, hidup juga bisa dimulai lagi.” air mata perlahan mengalir di wajah wanita tua itu. “Tapi masa kecil anakmu tidak akan pernah kembali. Apalagi belum lama ia telah kehilangan Ayahnya...” Mira menggigit bibirnya kuat-kuat. “Kalau malam ini kamu tetap pergi...” Nenek menatap putrinya lurus. “Jangan berharap Sakaya akan tetap menjadi anak kecil yang sama, jika suatu saat kamu kembali mencarinya nanti.” Kalimat itu membuat tubuh Mira menegang. Karena jauh di dalam hatinya ia tahu, Ibunya mungkin benar. “Bu...” suara Mira terdengar lirih. Namun Nenek hanya menggeleng pelan. “Jangan menjelaskan apa pun kepada saya. Bantuan saya selama ini... bagi kamu juga tidak ada gunanya kan?” Wanita tua itu akhirnya mengusap kepala Sakaya perlahan. “Saya sudah tua, dan bagi kamu... saya mungkin tidak mengerti dunia yang sedang kamu hadapi sekarang.” Nenek Tua itu akhirnya tertawa miris, “Bahkan mungkin saya tidak mengerti kenapa kamu tetap memilih pria itu setelah anakmu meraung keras seperti ini.” Nenek menarik napas panjang. “Tapi saya mengerti satu hal, Mira...” tatapannya perlahan kembali kepada Mira. “Saya akan menjaga anakmu dengan baik, dan akan saya pastikan dia tidak akan mengikuti jejak buruk kamu.” Mira langsung membeku. “Bu...” kata Mira hendak memotong. “Saya belum selesai.” suara wanita tua itu tetap tenang, “Tolong dengarkan baik-baik.” Nenek menatap putrinya lurus. “Saya tidak marah karena jatuh miskin. Saya bahkan tidak marah karena kamu memilih menikah lagi.” kata wanita tua itu selanjutnya, “Saya marah karena malam ini, kamu memilih meninggalkan anakmu.” Air mata perlahan mengalir di wajahnya, ruangan mendadak sunyi. “Saya tidak tahu apakah keputusanmu akan membuat hidupmu lebih baik atau tidak. Tapi saya tahu satu hal...” Tatapannya perlahan jatuh kepada Sakaya yang masih menangis. “Anak ini akan mengingat malam ini seumur hidupnya.” Mira langsung menundukkan kepala. “Percuma saya menasihati dan menghalangi kamu.” Nenek mengusap kepala cucunya perlahan, “Jadi pergilah kalau memang itu yang kamu inginkan. Karena mulai malam ini...” Suara wanita tua itu bergetar untuk pertama kalinya. “...kamu bukan satu-satunya orang yang kehilangan anak.” Keheningan langsung memenuhi ruangan. Mira membeku. Sedangkan Nenek hanya memeluk Sakaya lebih erat. Seolah sedang berusaha melindungi cucunya dari luka yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun. “Ne... Nenek...” Sakaya terbata-bata, “Apa Sakaya bener-bener ditinggalkan sekarang?” Karena Sakaya tidak memahami seluruh percakapan orang dewasa itu. Hanya satu hal yang ia pahami, Mamahnya tidak membantah. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sakaya benar-benar takut. Takut bahwa besok pagi, saat ia membuka mata... Mamahnya sudah tidak ada lagi dan tidak akan kembali. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN