Dia menebak-nebak ke mana bocah itu pergi. Darimana dia mendapat uang untuk membayar taksi, melupakan bahwa setelah menginjak remaja Fitra diberikan fasilitas uang bulanan, meskipun tinggal serumah. Pemikirannya mengacu pada satu konklusi, jika dia memblokir akun bank anak itu, maka dia akan kembali ke rumah.
Ini terjadi sejak lama, tetapi Gatot masih mengingat dengan jelas. Setiap kali anak itu menyendiri, dia selalu saja mengunjungi Eddie, Dia sudah tak tahu sejak Fitra menginjak usia remaja, apakah kebiasaan itu tetap melekat padanya.
Nyatanya, Fitra tidak pergi kemana pun. Bahkan tidak takut akan ancaman kemarahannya. Apakah dia sepayah itu di depan anaknya? Sehingga Fitra seolah bebas bertindak semaunya, membuat kepalanya hampir gila. Ataukah dia berpikir bisa lolos hanya dengan mengandalkan perlindungan ibunya?
“Kemana saja kamu?!”
“Bukan urusan Papa.”
“Tetap diam di tempat kamu selama Papa masih bicara! Ini perintah!”
Fitra yang bermaksud ngeloyor pergi menghentikan langkahnya, bahkan tanpa berbalik dengan dingin dia mengatakan apa yang di kepalanya. “Maaf saja Pak Inspektur, Anda juga harus tahu. Ini rumah, bukan kantor, dan saya bukan bawahan Anda, jadi jangan memerintahku seenaknya!”
Tidak ada mediator di antara perseteruan mereka, bahkan Ulva yang senantiasa menenangkan keduanya baru datang dari berbelanja saat pemandangan menyakitkan itu menyambut penglihatannya.
Plak! Satu tamparan mendarat di pipi Fitra.
“Lancang!”
“Papa! Apa yang terjadi? Kenapa kamu memukul anak kita!” Ulva datang di tengah-tengah mereka. Gatot masih menatap tajam dengan napas naik-turun. Fitra masih tetap pasa posisi saat tamparan dilayangkan. “Fitra, Sayang, kamu enggak apa-apa, Nak?”
Fitra menepis uluran tangan Ulva dan berlari keluar rumah.
“Fitra tunggu!” Ulva tak bisa mencegah yang telah terjadi. Gatot menghela napas panjang. Menyesal tentu saja, dia belum pernah sekeras itu pada siapapun.
“Kamu keterlaluan, Pa! Apa sih masalah kamu sampai-sampai kamu lampiaskan pada anak kita?!”
“Ma, ini tidak seperti yang terlihat. Kamu sudah salah paham.”
“Salah paham? Alasan apa yang mendasari kamu melakukan tindak kekerasan. Apa karena pekerjaan kamu yang selalu melibatkan tindak kekerasan? Aku tidak pernah mempermasalahkannya selama ini, tetapi jika itu menyakiti keluargaku, aku tidak tahu lagi.”
Gatot menyadari betapa kecewanya Ulva dan betapa buruknya dia dalam pandangannya. Dia bersalah. Semua ini kesalahannya.
***
Gatot memiliki keyakinan setelah beberapa saat mengamati. Sejauh apapun Fitra pergi, dia akan kembali ke rumah.
Bagaimanapun dia tidak menyangkal anaknya sangat rajin ke sekolah, keseriusannya, tidak mengaburkan tujuan yang hendak dicapai bahkan dengan gangguan sedemikian dari luar, semua itu diturunkan dari sifatnya. Dia menyadari ada suatu hal yang dikejarnya, tetapi kemungkinan yang hadir di kepalanya begitu sempit untuk mendefinisikannya sebagai suatu tindak positif.
Tepat tiga hari sebelum pertemuannya dengan Eddie. Lagi-lagi dia menggunakan cara konvensional yang sama. Ponsel Fitra telah disadapnya menggunakan bantuan Tito yang mengajarkannya. Penyadapan itu mmeudahkannya mendapatkan akses langsung ke pesan dan telepon pribadinya. Setiap percakapan pesan yang keluar masuk, juga panggilan telepon akan masuk ke telepon genggam miliknya.
Pagi itu Fitra mendapat telepon biasa dari temannya yang mengajak hang out bersama, tetapi anak itu mengatakan akan memikirkannya nanti saja. Telepon kedua sedikit mencurigakan menurut Gatt karena anak yang ditebaknya perempuan hanya menanyakan makanan kesukaannya.
“Kamu suka cokelat atau Vanilla?”
“Cokelat.”
“Oke, bye. Sampai jumpa di sekolah.”
“Bye.”
Tidak banyak pesan yang masuk. Pada aplikasi hijau miliknya, yang banyak mengisi chat hanya berasal dari grup kelas atau teman-temannya. Tidak ada yang mencurigakan.
Lokasi Fitra berpindah dari arah sekolah di tengah hari. Belum waktunya pulang, tetapi mengapa Fitra meninggalkan sekolah?
Gatot semakin yakin bahwa mereka tidak berhubungan via telepon karena terlalu riskan diketahui atau diintervensi seperti saat ini.
Dia mengikuti Fitra yang mengayuh sepeda melewati sebagian tempat yang rasanya belum pernah dia datangi sebelumnya. Gatot tak mengingat pernah membelikannya sepeda, yang pasti sepeda itu bukan miliknya. Sebelum sampai di sebuah gedung tua yang telah lama ditinggalkan, dilihat dari kumuh dan kotornya tempat itu, Fitra meninggalkan sepedanya di semak-semak beberapa ratus meter.
Gedung tua itu mengingatkan Gatot, persis seperti yang ada dalam mimpi anehnya. Mengapa Fitra mengunjungi tempat mengerikan ini?
Sebagai polisi selama bertahun-tahun, menyamar atau berkamuflas tidak menjadikannya mudah. Gatot mmeindai sekeliling, memastikan tak ada piranti kamera dan sebagainya. Fitra memasuki gedung itu, terlihat seperti sebuah rumah sakit lama karena banyaknya pintu, besi-besi karat terlihat hampir di setiap sudut.
Gatot nyaris tak mendengar suara langkah kaki Fitra yang berada sekitar 500 meter di depannya. Di sebuah ruangan tampak pintu yang sedikit terbuka, Fitra mengintip sesuatu di dalamnya, lalu terdengar suara tembakan beruntun dari sana. Secepat kilat dia berlari ke arah luar bahkan tanpa sadar melewatinya. Lebih mengejutkan, sebuah pistol ada dalam genggamannya.
Apa ini? Apa yang terjadi?
Gatot memutuskan memeriksa keadaan di dalam. Dia telah bersiaga mengeluarkan revolver miliknya. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah jasad yang tergeletak di atas genangan darah, yang paling aneh adaah kenyataan bahwa tidak ada jejak yang terlihat maupun kehadiran orang lain di dalam. Agar tak merusak TKP, Gatot tidak akan mendekati korban yang sudah tak bergerak. Sebuah ruangan besar, sepenuhnya kosong, tali menggantung di langit, ada meja kecil di bawahnya, tempat itu dipenuhi debu dan sarang laba-laba, sehingga siapapun yang memasuki ruangan itu akan meninggalkan jejak petunjuk siapa dan dari mana, hanya ada beberapa lubang ventilasi, Gatot tak tahu lebih detail apakah ada tembok atau pintu rahasia. Dia segera meninggalkan pesan agar kepolisian segera datang, sedangkan dia akan mengejar tersangka utama.
***
Jika sebelumnya Gatot memiliki keraguan yang banyak akibat kurangnya bukti. Kini dia begitu yakin atas apa yang telah dilihatnya. Mengencangkan sabuk dan tali sepatu, berjalan keluar mendenting baju zirah yang dia kenakan. Inspektur Gatot menaiki kuda besi miliknya, bersiap perang melawan keegoisan dirinya. Hal ini sudah keluar dari batas toleransinya.
Tak terlalu jauh, Dia masih bisa melihat anak laki-laki mengenakan kaus hitam yang tampak tergesa-gesa mengayuh sepedanya. Deretan kafe, restauran, dan butik memudar, berganti bangunan-bangunan beton menjulang.
Entah kemana lagi anak itu akan membawanya, dia sudah terjebak ke dalam perangkapnya. Fitra berhenti di sebuah gedung lain. Itu adalah tempat korban pertama ditemukan.
Meninggalkan sepedanya di sana. Gatot bermaksud menyelidik lebih jauh. Sepersekian detik ledakan terdengar, Fitra berlari tunggang langgang.
Beruntung tempat itu tak lagi ditempati, sehingga tidak meninggalkan korban jiwa, hanya kemudian menghentikkan aktivitas lalu lintas sejenak. Yang lebih membuat Gatot marah adalah dia kembali kehilangan jejak anak itu.