Bab 35

1036 Kata
Melupakan haru-biru beberapa jam lalu, Ulva malah semakin yakin dia tidak dapat berhenti sekarang setelah mengetahuinya. Bukan karena dia tidak mencintai Tanya atau bahkan suaminya, melainkan meski semua orang mencegahnya, namun hatinya tak akan berpaling dengan mudah. Rasanya akan bersarang banyak perasaan bersalah yang menghantuinya seumur hidup. Ulva memiliki kecenderungan untuk menyelesaikan apapun yang dimulainya. Ketika dia memulainya pertama kali, dia tahu tak akan bisa berhenti sebelum menyelesaikan misi. Sugesti yang telah ditanam sejak dia menjadi seorang intel. Kendati dia telah berhenti, secara tak sadar, sisa-sisa doktrin dan anggapan yang diyakininya tertanam kuat di kepala. “Siapa sebenarnya anak-anak ini? Kurasa aku harus menemukannya. *** Ulva ingat ketika dia bertemu pria Jerman, pemilik restoran Italia tempatnya bekerja pertama kali. Pria itu namanya Albert Hanzor, dan punya kebiasaan aneh dengan memasukkan lima sendok gula di kopinya. Melihatnya saja membuat Ulva meringis karena pasti manis. Ulva hanya mengikuti Eddie yang lari dari rumah. Mereka berjelajah bersama selama sebulan di Jerman dengan paspor illegal dan tanpa uang. Usia mereka baru tujuh belas tahun di tengah negara asing tanpa persiapan. Mereka cukup beruntung bertemu Albert yang mengizinkan keduannya bekerja di restoran miliknya. Setiap pagi secara konstan selama tiga bulan, Eddie pergi ke hutan entah melakukan apa. Yang dirinya ingat pada hari terakhir mereka di sana, dia mengetahui bahwa selama ini Eddie belajar menembak. Mereka menghilang tanpa berpamitan kepada Albert. Eddie berkata ada seseorang yang dia cari. Ulva hanya mengikutinya karena dia memaksa. Walaupun dia selalu ingin meninggalkannya. Eddie juga mengatakan bahwa dia tidak peduli jika sesuatu yang buruk menimpa Ulva karena dia tidak akan berpaling dari tujuannya. Ulva tahu Eddie berbohong. Dan mungkin saja dia menjadi bebannya. Ulva hanya khawatir Eddie akan berlaku nekat atau melakukan hal yang tidak-tidak. Sore begitu indah hari itu, langit berwarna tembaga mengiringi langkah mereka. Takdir mereka tidak seindah warna langit. Mereka menjadi saksi dalam sebuah pembunuhan. Keduanya hampir tertangkap karena Eddie dituduh telah salah menembak seseorang hingga tewas. Albert Hanzor, membantu keduanya keluar dari situasi sulit. “Syukurlah kalian baik-baik saja. Aku sangat cemas karena kalian berdua anak-anak muda hanya meninggalkan secarik kertas.” “Maafkan kami.” Ulva yang mengatakannya. Eddie bungkam selama pria itu mengajak mereka makan. Dia memesan Bratwurst, Kartoffelsalat, dan Falscher Hase unutuk kami berdua. Sedangkan dia hanya memesan segelas kopi hitam. “Anda tidak makan, Pak Hanzor?” “Tidak. Aku lebih suka kopi.” Dia meminggirkan kotak tisu dan mulai menaruh gula di kopinya. “Anda tidak berubah, masih menggunakan lima sendok gula untuk kopi.” “Tidak ada yang lebih baik selain kopi yang manis.” Sembari menyesap sedikit demi sedikit kopinya, dan Eddie yang hanya diam menyantap makanannya, pria itu mulai bercerita. “Dulu aku banyak mencicipi makanan enak, tetapi sejujurnya aku tidak pernah merasakan rasanya. Semua makanan itu seolah tidak terasa di lidahku. Aku bahkan tak tahu rasanya gula.” “Eh? Benarkah?” Eddie mendadak berhenti mengunyah, lalu minum, dan mulai memusatkan perhatiannya pada Albert yang tersenyum kecil. Mungkin tertarik untuk mendengar lebih jauh. Jarang-jarang Ulva melihat Eddie tertarik akan sesuatu. “Kalian telah tahu tentang masa laluku.” “Hah? Kami? Tentang apa?” “Aku membicarakan anak ini.” Beliau mengacu pada Eddie yang tetap datar. “Aku sudah mencari tahu tentangmu. Kau Eddie Fish, satu-satunya anak yang selamat dari pembantaian keluargamu. Kau tahu siapa aku ‘kan?” Ulva merasakan rindingan di bawah kulitnya. Wajah yang semula ramah dan selalu tersenyum berubah bengis dan mengintimidasi. Adakah yang bisa menjelaskan situasi ini, Ulva menoleh ke arah Eddie, bertukar pikiran, namun Eddie malah mengabaikannya. “Ya. Saya tahu siapa Anda.” Melupakan haru-biru beberapa jam lalu, Ulva malah semakin yakin dia tidak dapat berhenti sekarang setelah mengetahuinya. Bukan karena dia tidak mencintai Tanya atau bahkan suaminya, melainkan meski semua orang mencegahnya, namun hatinya tak akan berpaling dengan mudah. Rasanya akan bersarang banyak perasaan bersalah yang menghantuinya seumur hidup. Ulva memiliki kecenderungan untuk menyelesaikan apapun yang dimulainya. Ketika dia memulainya pertama kali, dia tahu tak akan bisa berhenti sebelum menyelesaikan misi. Sugesti yang telah ditanam sejak dia menjadi seorang intel. Kendati dia telah berhenti, secara tak sadar, sisa-sisa doktrin dan anggapan yang diyakininya tertanam kuat di kepala. “Siapa sebenarnya anak-anak ini? Kurasa aku harus menemukannya. *** Ulva ingat ketika dia bertemu pria Jerman, pemilik restoran Italia tempatnya bekerja pertama kali. Pria itu namanya Albert Hanzor, dan punya kebiasaan aneh dengan memasukkan lima sendok gula di kopinya. Melihatnya saja membuat Ulva meringis karena pasti manis. Ulva hanya mengikuti Eddie yang lari dari rumah. Mereka berjelajah bersama selama sebulan di Jerman dengan paspor illegal dan tanpa uang. Usia mereka baru tujuh belas tahun di tengah negara asing tanpa persiapan. Mereka cukup beruntung bertemu Albert yang mengizinkan keduannya bekerja di restoran miliknya. Setiap pagi secara konstan selama tiga bulan, Eddie pergi ke hutan entah melakukan apa. Yang dirinya ingat pada hari terakhir mereka di sana, dia mengetahui bahwa selama ini Eddie belajar menembak. Mereka menghilang tanpa berpamitan kepada Albert. Eddie berkata ada seseorang yang dia cari. Ulva hanya mengikutinya karena dia memaksa. Walaupun dia selalu ingin meninggalkannya. Eddie juga mengatakan bahwa dia tidak peduli jika sesuatu yang buruk menimpa Ulva karena dia tidak akan berpaling dari tujuannya. Ulva tahu Eddie berbohong. Dan mungkin saja dia menjadi bebannya. Ulva hanya khawatir Eddie akan berlaku nekat atau melakukan hal yang tidak-tidak. Sore begitu indah hari itu, langit berwarna tembaga mengiringi langkah mereka. Takdir mereka tidak seindah warna langit. Mereka menjadi saksi dalam sebuah pembunuhan. Keduanya hampir tertangkap karena Eddie dituduh telah salah menembak seseorang hingga tewas. Albert Hanzor, membantu keduanya keluar dari situasi sulit. “Syukurlah kalian baik-baik saja. Aku sangat cemas karena kalian berdua anak-anak muda hanya meninggalkan secarik kertas.” “Maafkan kami.” Ulva yang mengatakannya. Eddie bungkam selama pria itu mengajak mereka makan. Dia memesan Bratwurst, Kartoffelsalat, dan Falscher Hase unutuk kami berdua. Sedangkan dia hanya memesan segelas kopi hitam. “Anda tidak makan, Pak Hanzor?” “Tidak. Aku lebih suka kopi.” Dia meminggirkan kotak tisu dan mulai menaruh gula di kopinya. “Anda tidak berubah, masih menggunakan lima sendok gula untuk kopi.” “Tidak ada yang lebih baik selain kopi yang manis.” Sembari menyesap sedikit demi sedikit kopinya, dan Eddie yang hanya diam menyantap makanannya, pria itu mulai bercerita. “Dulu aku banyak mencicipi makanan enak, tetapi sejujurnya aku tidak pernah merasakan rasanya. Semua makanan itu seolah tidak terasa di lidahku. Aku bahkan tak tahu rasanya gula.” “Eh? Benarkah?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN