Menarik napas dalam-dalam lalu embuskan, kedua tangannya terangkat perlahan lalu bertemu menjadi satu, kakinya naik sebatas dengkul, dadanya naik turun mempraktekkan respirasi untuk merilekskan diri.
Ulva membutuhkan pengalihan. Jadi. dia mulai mempelajari yoga, mengikuti kursus memasak atau pun berkumpul dengan teman-teman. Semua upaya yang dilakukannya semata untuk mengenyahkan rasa kesepian dan kehilangan yang mendera.
Peluh bergilir ke dagu, butir yang lain mengalir menembus sudut matanya yang terkatup membasahi pipinya. Dia belum bisa merelakan Fitra. Putranya, Putra satu-satu miliknya.
Ulva menyudahi latihan yoga, jatuh tertuduk, dan air mata mengalir deras.
Sakit sekali.
Dulu saat dia ditinggalkan orangtuanya, dia tidak sesedih ini. Bahkan orang-orang bilang dirinya tak bisa menangis terlalu lama. Ulva mulai memahami pepatah kasih sayang orangtua sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah. Bukan maksudnya membanding harga sebuah nyawa, tetapi mungkin karena mereka telah tua dan cukup lama hidup di dunia. Sedangkan anaknya masih enam belas tahun, waktu yang singkat dan masih terlalu muda untuk meninggalkan dunia.
Ulva menyumpal mulutnya dengan handuk, agar suara tangisannya tak terdengar Tanya. Tersengal-sengal, riak di mata tak ingin berhenti.
Dari balik pintu, yang tidak diketahui Ulva bahwa anaknya selalu memperhatikannya diam-diam. Kehilangan seorang yang dicintai memang tidak akan pernah mudah bagi siapapun. Hidupnya yang semula terasa sempurna berubah pedih dan kurang. Dia sangat tahu rasa sakit yang diderita Ulva juga dirasakannya. Dan segala upaya telah dilakukan untuk membuat ibunya kembali ceria.
Tanya, masih berusia dua belas tahun, tetapi selalu menjadi penceria suasana, penyejuk yang mendinginkan suasana panas di antara mereka, pelita yang menerangi keluarga. Ulva menyadari perubahan Tanya yang sering membantunya, menghabiskan waktu bersamanya bahkan berniat cuti sekolah hanya untuk menemaninya.
“Sebenarnya ada apa, Sayang?”
“Tidak apa-apa, Bunda. Aku hanya ingin belajar banyak hal secepatnya.”
“Memangnya kenapa, Nak? Kita masih punya banyak waktu untuk mempelajari semua hal.”
“Supaya aku bisa siap jika suatu ketika Bunda menghilang juga seperti Kak Fitra.”
Pernyataan Tanya seketika membuatnya bungkam.
“Tanya, jangan berkata begitu, Sayang. Bunda akan selalu ada di sisi Tanya. Bunda janji.”
“Tapi Tanya enggak mau Bunda terus bersedih. Bunda pasti ingin melakukan sesuatu untuk membantu Papa, ya ‘kan?”
Ulva terdiam. Benar bahwa dia menginginkan untuk mencari sendiri siapa dalang di balik kematian anaknya, tetapi putrinya akan terbengkalai jika dia tetap memaksakan kehendak. Terlebih, pembunuh itu jelas seseorang yang berbahaya, dan bisa merenggut nyawanya sewaktu-waktu. Jika itu terjadi maka kelak yang paling menderita adalah putrinya.
“Tidak perlu dibahas lagi. Mama tidak akan kemana-mana,” ujar Ulva yakin.
Namun, perkataan tegasnya tak ditanggapi oleh Tanya yang masih tetap merecokinya dan tak mau beranjak dari sisinya.
Jum’at sore, Gatot pulang dengan wajah lelah, tertidur langsung bahkan tanpa membersihkan diri.
“Papa, paling tidak sikat gigi dulu sebelum tidur.” Tidak ada tanggapan. Gatot benar-benar tertidur pulas. “Aduh, Papa.”
Kalau sudah terlampau lelah memang begini kelakuan suaminya. Dan menjadi rutinitasnya untuk melepas sepatu, mencucikan kaki, melepas jaket dan sabuknya. Dia juga tahu bahwa sampai hari ini suaminya tak berhenti mencari tahu tentang kematian Fitra. Rasa sesal karena dulu dia amat marah kepada Gatot yang tidak memberitahukan apapun telah memberinya pelajaran berharga. Tidak peduli salah siapa, dia harus menghadapi realita kehilangan puteranya.
Dua buah buku catatan polisi jatuh dari kantung jaket Gatot. Ulva menatap kedua benda itu lama. Pikirannya bergumul, keingintahuannya membuatnya nekat membaca isi di dalamnya.
Hasilnya, semalaman Ulva tak dapat tidur, kepalanya pening sekali karena otot-ototnya menegang.
Apa yang harus kulakukan? Hatinya diliputi kebimbangan. Kakinya berjalan mengarah ke kamar Tanya. Anak itu tertidur memeluk boneka beruang pemberian kakaknya. Wajah imut dan damai yang tak terusik mulai menegrutkan dahi, Tanya memanggil kakak dalam tidur. Rasanya seperti dipukul di d**a.
Apa yang harus kulakukan? Ulva merebah di sebelah gadis kecilnya. Dielusnya surai kecokelatan dengan sayang. “Maafkan Mama, Sayang, karena sempat berpikir untuk meninggalkanmu. Maafkan Mama. Mama janji akan selalu ada di sisi kamu, Nak.” Ulva menyarangkan kecupan sayang di kening putrinya, masih mengelus-elus surainya hingga terpejam.
Pagi hari dia tak menyadari sempat tertidur di samping Tanya yang menghilang.
“Tanya. Tanya!” Kepanikan menguasai batin Ulva. Dia tak ingin kehilangan siapapun lagi.
Begitu menuruni tangga, dia melihat sarapan telah tertata di atas meja. Sosok Tanya memegang penggorengan sambil tersenyum membuatnya mematung di tempat. Gatot muncul tak lama kemudian dengan setelan bersih dan rambut basah.
“Pagi.”
“P-Pagi, Sayang,” balas Ulva terbangun dari ketertegunannya.
“Wah, sarapannya kelihatan enak.”
“Tanya yang masak loh,” sahut Tanya ceria.
“Masa? Pasti rasanya luar biasa.”
“Huum papa harus coba. Mama juga.”
Perasaan apa ini? Ulva merasakan getaran hebat dalam dadanya. Apa yang sebenarnya dimaksudkan putrinya, dia mengerti, karena dia adalah ibunya. Namun, nurani ibunya justru memberontak, jika sampai dia kehilangan nyawa, maka putrinya bukan hanya kehilangan satu keluarga melainkan dua. Bagaimana pun opsi untuk melanjutkan apa yang ada dalam pikirannya adalah kebodohan.
Tak lama Gatot telah berangkat menjalankan misi setelah menciumi istri dan anaknya.
“Bunda.”
“Ya, Sayang?”
“Aku ingin belajar masak, belajar mencuci, belajar melakukan pekerjaan rumah, supaya aku mandiri, supaya Bunda tidak perlu mengkhawatirkanku lagi.”
“Tanya....”
“Aku punya satu permintaan, Bunda.”
“A-apa itu, Sayang?”
“Bunda harus berjanji untuk membantu Papa. Temukan pelakunya dan hukum dia karena sudah berbuat jahat.”
“Tanya... Mama... enggak bisa ninggalin kamu.”
“Tapi aku lebih sedih jika harus melihat Mama bersedih setiap hari.”
“Mama tidak akan bersedih lagi ok? Jadi, lupakan perkataan kamu tadi.”
“Bukan itu maksud Tanya.” Tangan mungil Tanya membalut miliknya yang lebih besar. Hangat merambati benak Ulva.
“Maksudku... Mama... apapun yang terjadi asal Mama meyakini apa yang Mama lakukan adalah benar, maka lakukan! Aku... tidak ingin menjadi beban. Mama harus mencari dan mendapatkan jawabannya. Aku rela. Tidak apa-apa. Mama tidak perlu khawatir lagi. Aku anak yang kuat. Aku yang akan mengurus Papa selama Mama pergi.”
Ulva tidak mampu mengeluarkan kata-kata, jika dia mengatakan pun air matanya yang akan lebih dulu berbicara.
“Tanya, maafkan Mama.”
“Aku sangat menyayangi Mama.”
“Mama juga sangat menyayangimu.”