BAB 8b-The Secret Basement

1112 Kata
Pengakuan Fitra tidak lantas membuktikan ketidakbersalahan. Dia mengatakan akan memberitahu segalanya, namun USB itu belum juga ditemukan. Dan saat ini, kawan baiknya, Eddie tengah melakukan pencarian, menyusuri tiga buku diari yang ditemukannya di TKP yang disinyalir berasal dari pelaku pembunuhan anaknya. “Apa kau sudah menemukan tempatnya, Ed?” “Aku tidak akan menemukan secepatnya jika kau terus menghubungi.” Eddie tengah serius. Gatot sangat mengenal karakter Eddie yang satu itu. “Hubungi aku segera, kalau kau menemukan tempatnya.” “Ya, ya, ya.” Sambungan diputus. Benar-benar sangat Eddie, dan kini mungkin dia tak main-main mengatakan akan membersihkan nama anaknya. Di saat Eddie berkutat dengan Laura, Gatot masih mencari tahu tentang Lim. Gatot mengizinkannya mengunjungi Fitra saat itu karena pria itu memberinya informasi yang berharga. Tidak disangka, justru pria itu yang memiliki kemungkinan terbesar sebagai pembunuh Fitra. Perasaan bersalah menggumpul di benaknya, bak penyakit yang menggerogotinya hingga dia susah bernapas. Bagaimana pun dia yang melakukan hal itu, dan itu berarti satu hal, ida yang telah membunuh putranya. “Firman, apa kamu masih ingat wajah pria bernama Lim itu?” Eddie menilisik berkas yang dibawakan kepadanya. “Maaf, Pak. Saya sebenarnya agak payah mengingat wajah seseorang yang baru sekali bertemu dan itu pun tidak jelas.” Tidak ada yang bisa diharapkan Gatot dari Firman. Dia tidak punya saksi lagi yang sempat melihat wajah itu. “Mengapa Anda begitu tertaarik dengan orang ini, Pak?” “Oh, tidak ada apa-apa.” “Saya akan mencoba membantu jika Anda membutuhkan hal lainnya, Pak.” “Ya, Terima kasih, Firman.” “Sama-sama, Pak. Saya berharap masalah yang Anda hadapi akan segera berakhir.” Bibir Gatot tertarik kecil, di saat seperti dia memang membutuhkan dukungan seseorang yang dapat dimintai pertolongan. Firman, petugas yang cekatan, meski dia mengenalnya tidak terlalu lama, tetapi dia melihat banyak kebaikan dari anak itu. Anak itu juga bercerita, bahwa dia akan ditugaskan di luar untuk sementara dan akan menikmati liburan, jadi, dia mungkin tak akan dapat bertemu Gatot dalam beberapa waktu ke depan. Firman berkata akan mentraktirnya untuk menyemangati, meksi tak lagi tergabung dalam satuan investigasi khusus, dia mendengar kasus tersebut belum lagi menunjukkan kemajuan yang signifikan. Dia menyodorkan satu cup kopi latte panas yang masih mengepulkan asap ke arah Gatot yang duduk di kursi besi taman. “Saya marah sekali dengan orang-orang ini. Sudah hampir setahun berlalu, tetapi tanda-tanda terselesaikan masih jauh api dari panggang.” Gatot sangat menyukainya, tersebab, di amelihat dedikasi dan kerja keras dari dalam dirinya. Seperti melihat cermin, dan Firman adalah Gatot jr, meski gelar itu berniat dia berikan pada anaknya. “Firman, boleh saya tanya alasan kamu menjadi seorang polisi?” Kerlipan kejut itu tertangkap mata Gatot, rautnya berubah murung.” “Ada seseorang yang ingin saya tangkap dengan tangan saya sendiri.” Kejujuran. Satu hal yang istimewa darinya. Firman tidak bisa melihat orang kesulitan dan tidak dapat berbohong ketika ditanya. Agak merugikan, tetapi istimewa. Kali ini pun begitu , Gatot menatapnya dan menemukan wajah sungguh-sungguh Firman atas perkataannya. “Siapa dia bagi kamu?” “Dia kakak kandung saya.” Seketika Gatot merasa ada yang tersangkut di tenggorokannya. Keberanian Firman menohok ke ulu hati. Dia teringat ketika pertama kali menyangka putranya terlibat. Begitu berat. Rasanya tidak mungkin juga dia bisa menangkap apalagi memenjarakan Fitra, dia justru memilih menyembunyikan semuanya dan hendak menaruh kesalahan pada orang lain. Dia benar-benar telah gagal menjadi polisi yang sesungguhnya. “Pasti sangat berat untuk kamu.” “Pada awalnya, iya. Saya sudah mencaritahu, menyelidiki hingga saat ini, dan tidak ada keraguan bahwa kakak saya sendiri telah melakukan hal yang termaafkan.” Gatot hendak bertanya, namun dia merasa hal itu tidak tepat untuk ditanyakan. “Saya sangat salut dengan ketegasan kamu, Firman. Kamu pasti akan menjadi polisi yang hebat.” Jadi, dia hanya menepuk punggung Firman untuk memberikan semangat. Lima belas menit kemudian, Gatot telah duduk memegangi salah satu map di antara tumpukan berkas berisi penyelidikannya. Kembali memfokuskan diri pada pekerjaan. Gatot mengingat pertemuan pertama mereka. Seingatnya, Lim memiliki bekas luka sabetan di pelipis kiri, itu terlihat dari kerutan pada dahinya. Apalagi? Entah mengapa, wajah Lim sangat mudah dia lupakan. Mungkin karena pria itu terus menunduk, membuang muka atau sesekali melihat sekeliling setiap kali mulutnya mengeluarkan suara. Pri aitu amat ketakutan hingga Gatot mengiranya telah buang air di celana. Rasanya semua itu bertolak belakang dengan asumsinya, bahwa Lim merupakan kunci sekaligus tersangka. Itu tidak benar. Lelaki bertampang baik sekalipun dapat berlaku curang dan keji. Pakah gelagatnya juga merupakan kebohongan. Gatot tak melihat keanehan. Itu bukan kebohongan, pria itu memang takut pada suatu yang mengerikan. Tidak banyak yang Gatot ingat, pun percakapan mereka seolah kabur. Apa ini? Selama dia bekerja, Gatot tidak pernah melewatkan sedetil informasi apapun. Apa mungkin keterlibatan Fitra yang membuatnya lupa segala hal? Matahari telah naik dan terik membasuh tubuhnya tatkala keluar dari markas. Tidak banyak juga yang dapat dia kerjakan, semenjak dikeluarkan dari satuan khusus. Kasus yang iddapatnya juga tidak terlalu pelik dan bukan bahan yang dicari berita. Dia justru direndahkan dengan menangani kasus-kasus kecil. Pandangan rekannya berubah ketika dia dianggap tak dapat menyelesaikan kasus dan hanya dapat bekerja sendiri. “Kau berpikir berlebihan. Anggap saja ini adalah liburan untukmu yang tengah berkabung.” Gatot mengajak Alfred keluar karena Eddie sedang tidak berada di tempat, dia harus bisa mengorek sedikit informasi apa yang mereka dapat. “Aku justru mencoba mencari kesibukan.” “Kau salah, Sungut. Bukannya ini kesempatanmu untuk lebih mendekatkan diri pada keluargamu? Istrimu pasti juga amat terpukul.” Ulva. Walaupun selama berhari-hari belakangan dia melihat senyum kembali menghias di wajahnya setiap kali dia pulang, istrinya itu diam-diam menangis, entah karena sebuah sepatu, jam, atau bahkan gantungan kunci kepunyaan Fitra yang ditemukannya. Dia wanita paling tangguh yang Gatot kenal, jauh di dalam dirinya, hanyalah ibu yang kesepian, wanita yang begitu rentan patah. Sisa dari hidupnya hanya untuk Tanya. Saran Alfred terasa benar, tetapi dia juga tak terlalu sanggup untuk menghadapi Ulva. Perasaan bersalah masih menggelayutinya bagai lintah, karena dia jugalah yang turut andil menjadi penyebab kematian seseorang yang berharga baginya. Prioritas Gatot saat ini adalah menemukannya, bukti ketidakbersalahan Fitra. “Apa masih tidak ada perkembangan dengan kasus ini? Aku... hanya merasa perlu bertanya, bukan sebagai salah satu penyididk, melainkan sebagai salah satu keluarga korban.” Alfred menyesap kopinya, menghela napas berat, yang diketahui Gatot sebagai pertanda kabar buruk. “ Semua terasa lambat dan memuakkan. Aku berniat mundur saja dan menikmati masa-masa sebelum pensiun, tetapi aku tidak dapat mati dengan tenang, jika belum menyampaikan pembalasan dendam orang-orang itu.” “Aneh. Bukankah kita juga mempercayakannya pada orang-orang pilihan dari pusat? Apa yang menghambat pekerjaan mereka?” “Itu yang membuatku terheran. Mereka seolah tidak mempercayai kami. Aku yakin penyelidikan mungkin telah berkembang ke arah yang tak terduga.” Gatot berpikir. Meraba jaket kulit miliknya. Catatan Hendro masih tersimpan rapi. Hanya bagian awal yang telah dia buka sebagai bahan diskusi, kemudian dia disibukkan dengan kejadian-kejadian tak terduga. Apa yang terjadi seperti mimpi dan Gatot berharap dapat bangun sekarang juga. Setelah Alfred menghilang dari pandangannya, Gatot membuka catatan itu kembali. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN