BAB 10b-Nameless Monster

1085 Kata
Suatu hari di sebuah pulau tanpa nama. Di sana hidup seorang monster yang tak bernama. Monster itu sangat menginginkan nama, jadi, dia memutuskan untuk mencarinya. Monster menyadari bahwa dunia adalah tempat yang luas. Monster itu membelah dirinya menjadi dua. Yang satu menjelajah ke arah timur dan yang satu berangkat ke arah barat. Monster timur melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah desa. Dia bertemu dengan seorang pandai besi. “Pandai besi tolong beri aku nama,” kata si Monster. “Aku tidak mau memberikan namaku padamu,” jawab Marcy. “Kau bisa menjadi kuat, jika kau memberikan namamu,” bujuk Monster. “Sungguh? Baiklah, aku akan memberikan namaku jika kau bisa membuatku menjadi yang terkuat.” Monster lalu masuk ke tubuh Marcy, dan berubah menjadi Marcy Si Pandai Besi. Marcy akhirnya menjadi pria paling kuat di kota itu. Tetapi suatu hari, dia berteriak mengatakan “Tolong aku! Monster dalam diriku semakin besar.” Monster yang lapar memakan Marcy dari dalam tubuhnya hingga keluar. Sekali lagi dia menjadi monster tanpa nama. Dia kemudian menemui Han Si Pembuat Sepatu, menjalankan rencana yang sama dan sekali lagi menjadi monster tanpa nama. Dia menemui Thomas sang pemburu dan segera menjadi monster tanpa nama lagi. Kemudian monster pergi ke istana untuk mencari nama yang bagus. Dia menemukan seorang anak lemah yang terbaring sakit-sakitan dan berkata. “Kau akan menjadi kuat, jika memberikan namamu.” Anak itu mengatakan, “Apa kau dapat membuatku sehat kembali? Aku akan memberikanmu namaku, jika aku bisa jadi sehat dan kuat.” Raja sangat senang dan mengumumkan pangeran telah sehat dan kuat. Monster cukup menyukai nama si anak laki- laki, dia juga cukup menyukai kehidupan kerajaan di dalam istana. Maka dari itu, dia mengontrol nafsu makannya, tidak peduli selapar apa dirinya. Hari demi hari terlewati, hingga rasa lapar monster menjadi sangat besar. “Tolong aku! Tolong aku!” pekik si anak. “Monster dalam diriku menjadi sebegini besar!.” Dia memakan raja dan pelayan-pelayannya. Istana menjadi sangat sepi, lalu anak itu memilih melakukan perjalanan ke tempat lain. Berjalan dan terus berjalan tanpa arah. Hingga akhirnya dia bertemu dengan monster yang pergi ke barat. “Aku sudah mendapatkan nama, dan nama itu sangat bagus,” Monster timur berujar bangga. Monster dari barat membalas. “Siapa yang butuh nama? Aku bahagia tanpanya. Inilah diri kita yang sebenarnya, seorang monster tanpa nama.” Karena marah mendengar perkataan Monster Barat, anak itu memakannya. Di saat dia akhirnya telah menemukan sebuah nama. Namun sayangnya, tidak ada lagi orang yang akan memanggil namanya. *** Saat membaca cerita itu pertama kali, Ulva tidak yakin mengapa nama di akhir kisah dicoret dengan tinta. Sebuah misteri yang bahkan sampai saat ini belum dia ketahui. Dia letakkan kembali buku itu di dekat nakas ranjang puterinya. Tetapi secara fisik buku itu sama seperti buku bergambar lain, hanya saja, buku cerita bergambar itu tak pernah dipublikasi secara resmi, tidak ada tanggal cetak mau pun orang-orang yang bertanggung jawab terhadap pembukuan. Dia menemukannya dari tumpukan buku masa lalu suaminya. Buku itu pernah di bawanya sewaktu ditemukan di rumah sakit saat kecil, kisahnya. Dia bahkan tak begitu mengetahui seluk-beluk mau pun masa kecil Gatot sejak menikahinya. Sejujurnya, dia merasa ada yang aneh dengan buku bergambar itu, hanya saja, sampai saat ini dia tak pernah menanyakannya. Gatot yang dia ketahui hanya seorang pria pemalu. Namun, saat Gatot membaca buku itu seolah-olah di amenjadi pribadi yang sangat berbeda. Amarah dan kekesalan dia tumpuhkan. Hanya sekali Ulva pernah mendengar Gatot bergumam sedih memanggil nama Han. Dia hampir saja melarikan diri, jika saja dia tak mengingat bahwa ini pertama kalinya sejak hampir sehari ia terkurung, mendengar suara manusia bak mendengar alunan harpa. Kesempatan hidup yang tak terduga, jika saja suara itu bukan milik penampakan hantu atau sejenisnya, pikir Eddie. Pada kenyataannya Eddie tak terlalu penakut mengenai hantu, dia mempercayai mereka sama seperti dia mempercayai adanya Tuhan, walaupun dia bukan orang alim juga. “Si-siapa di sana!” “Maaf aku mengagetkanmu.” Sosok itu mendekat. Eddie menyadari yang dikenakan pria itu adalah kacamata night vision yang memungkinkannya melihat dalam gelap. Dia adalah pria besar dengan janggut dan kumis lebat dan kotor. Tingginya mungkin lebih dua meter, senter kecil miliknya bahkan tak dapat menjangkau keseluruhan tubuh besarnya. Meski tampak seperti monster atau pun makhluk ancient yang menetap di gua, alat-alat yang melekat di tubuhnya tidak mengindikasikan hal serupa. “Oh, jika kau bisa sampai di sini itu berarti kau juga terjebak, benar kan?” “Mmm, sepertinya begitu.” “Oh jangan melihatku begitu, aku bukan manusia ancient seperti yang ada dalam pikiranmu.” “Saya tidak memikirkannya,” dusta Eddie, sial kalau pria itu dapat membaca pikirannya. “Oh, bagus juga, kau punya peralatan canggih. Oh, benar juga. Kenalkan namaku Han-tse Utomo.” Eddie mengernyit. Bukan hanya karena pelafalan “oh”, sebelum pria itu mulai berbicara, matanya yang juling saat membuka kacamata itu, menambah efek seram. “Ah, ini, mmm, begitulah. Saya Eddie.” “Kau dari agensi mana?” “Ya?” Eddie sempat terpaku menelaah pertanyaan “aneh” pria besar itu. Seolah-olah menanyakan hal itu adalah hal biasa, apakah memang banyak penyidik yang datang ke tempat ini? “Saya hanya sedang mencari orang yang menghilang.” “Oh, kenalanmu? Atau temanmu? Atau anakmu?” “Tunggu dulu, Pak Han Tse Utomo, boleh saya bertanya sebelum menjawabnya.” “Oh, maaf maaf. Aku terlalu bersemangat karena ini hal yang hanya akan datang sepuluh tahun sekali.” Sepuluh tahun? Sudah berapa lamakah makhluk ini bertahan hidup? “Berapa banyak manusia yang sudah Anda temukan.” “Oh, boleh ku-skip saja? Ini mungkin hanya akan membuat suasana lebih tidak nyaman di antara kita. “Saya mengerti.” “Oh, tidak perlu terlalu formal. Hahaha.” “Kalau begitu, bolehkah saya menanyakan hal lain.” “Oh, silakan, silakan. Sambil lalu, apa kau tidak lapar? Kemarilah, aku punya beberapa sisa kadal untuk makan malam. Kadal? Eddie merasakan kembali gelombang mual yang perlahan memudar karena kehadiran pria itu. Bau amis darah kadal yang menyengat dan bau terbakar menusuk hidungnya secara brutal. Eddie benar-benar lapar, jadi dia bisa mengesampingkan etika makannya untuk sekarang. “Oh, Eddie apa kau pria bodoh?” “Apa!” Sontak Eddie mengalihkan perhatiannya dari stick daging berbentuk kadal tanpa kepala menjijikan di tangannya, satu gigitan, Eddie menelan, rasanya tidak seburuk yang dia kira. “Oh, maaf aku terlalu kasar, bukan? Oh, bagaimana aku mengatakannya, kau terjebak di tempat seperti ini tanpa persiapan.” “....” “Tapi kau pasti punya urusan besar hingga bisa datang kemari. Apa kau mencari Mawar Hitam?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN