Kejadian ini sedikit banyak menumbuhkan kewaspadaan dan ketakutan dari para pengunjung. Eddie telah menyuruh kedua penjaga sekaligus satpam komplek untuk mengevakuasi. Dia telah meminta seseorang untuk menghubungi ambulans. Malt Dextrin maju paling depan memeriksa dan memberi pertolongan pertama. Eddie tak dapat berbuat banyak dan hanya mendampingi jika Malt membutuhkan bantuan.
“Bagaimana.”
“Masih hidup. Hanya cedera luar dan kemungkinan gegar otak ringan. diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.”
Eddie mengembus napas lega, setidaknya hal ini tak akan membuat perpustakaannya dikenal tidak aman dan sebagainya, lebih-lebih jika korban meninggal, bisa-bisa dia harus menutup tempat itu karena dianggap membawa sial.
“Tolong suruh rumah sakit menyediakan kantung darah karena korban mengeluarkan banyak darah.”
“Apa masih bisa bertahan.”
“Untuk saat ini masih aman karena pendarahan telah dihentikan. Tetap saja harus segera dibawa ke rumah sakit secepat mungkin.”
“Mereka sedang dalam perjalanan, sekitar lima belas menit lagi tiba,” Pak Konco mengabarkan.
Eddie mengangguk singkat, lalu beralih pada Malt, amat bersyukur pria itu masih di sana.
“Terima kasih, Dokter.”
“Ah, itu bukan apa-apa. Kadang saya merasa bahwa saya yang menyebabkan semua ini.”
Terdengar sedikit aneh perkataannya barusan.
“Ah, kamu ini senang bercanda.”
“Tapi sungguh, ini seperti takdir, bukan?”
Eddie tak terlalu memahami pada awalnya. Dia menyuruh kedua pekerjanya untuk membersihkan kekacauan. Wanita baya yang tadi juga rupanya ikut terdiam, namun meminta Eddie segera mencarinya. Setelah meminta keterangan dan nomor yang dapat dihubungi, Eddie bermaksud memulangkan semua orang, namun Malt justru mencegahnya.
“Ada yang aneh dengan kejadian ini.”
Seketika Eddie merasakan firasat buruk merayap cepat bagai semut berbaris di tengkuknya. Malt hampir tedengar seperti si kumis ketika beraksi.
“A-apa yang aneh.”
“Apa kamu tidak merasa ini cukup aneh? Bagaimana bisa rak besar sekokoh itu rubuh tiba-tiba bahkan tanpa memperlihatkan tanda-tanda sebelumnya?”
Eddie membasahi bibirnya, tampak memikirkannya juga.
“Apa kita harus memanggil polisi untuk menyelidiki?” Pak Dono tampak sedikit takut-takut melirik ke arah wanita tambun yang menuduhnya kini tengah menyeringai.
“Tentu. Berapa jauh kantor polisi terdekat?”
“Sekitar tiga puluh menit.”
Pengunjung yang tercegat di pintu masuk mulai protes karena memiliki pekerjaan mendesak.
“Tolong semua tenang. Ini berkaitan dengan nyawa seseorang. Dimohon kerjasamanya.”
“Tapi kami bahkan tidak mengenal orang itu, dan semua itu tidak ada hubungannya dengan kami-kami ini.” Salah seorang pria muda mungkin sekilas anak kuliahan maju untuk protes.
“Kalau begitu saya tanya, siapa yang mengenal ataupun datang bersama orang ini.”
Tidak ada yang mengangkat tangan. “Adakah yang berjanji temu ataupun melakukan interaksi dengan orang ini.”
Sekali lagi khalayak bungkam.
“Tolong jangan takut, kami hanya ingin mengkonfirmasi.”
Saat Eddie yang gemas hendak membuka suara kembali, Malt mencegahnya.
“Percuma saja. Mereka pikir siapa saja yang datang atau berbicara dengan orang ini sudah pasti akan dituduh pelaku.”
“Jadi bagaimana kita akan tahu.”
“Kita harus mencarinya.”
“Karena tidak ada yang menjawab dan sepakat untuk diam, tidak ada yang boleh keluar dari tempat ini sampai polisi tiba.”
Sial! Di saat seperti ini Gatot pasti sangat berguna. Padahal awalnya dia pikir ini hanya kecelakaan biasa, karena dia sempat merasa rak bagian itu sedikit miring sesekali. Eddie mengikuti Malt menuju tempat rubuhnya rak yang akan diangkat oleh beberapa orang. Hampir saja mereka merusak TKP.
Eddie mengingat posisi pria itu sebelumnya, mendekap dua buah buku di dadanya. Jika tidak salah, buku bernoda darah itu adalah novel fantasy La Petit Prince dan buku mitologi Oidipus Rex.
Eddie tidak dapat menyambungkan hubungan kedua buku tersebut. Yang satu adalah buku anak-anak. Yang satu adalah cerita legenda.
“Apa yang kamu pikirkan?” Malt menanyakan pertanyaan bodoh.
“Aku tidak tahu.”
“Kupikir, ada kalanya buku bernoda darah yang dipilihnya merupakan sebuah pesan tersembunyi?”
“Pesan... tersembunyi.”
“Dying Massage.”
***
“Pesan kematian.”
“Suatu pesan yang ditinggalkan korban, entah merujuk kepada pelaku, mau pun untuk menyampaikan wasiat terakhir.”
“Kenapa kamu bisa berpikir begitu.”
“Lihat bekas darah di buku ini,” Malt menunjuk dua buku yang telah terlepas saat korban pingsan. Darah berbentuk jari-jari tebal hampir kering. “menunjukkan korban memegangnya dengan erat. Itu berarti, ada suatu hal yang sangat berarti pada buku ini.”
“Haruskah kita melihat isinya.”
“Untuk apa? Bukannya kau seorang librarian.”
“Maksudku coba saja kita lihat isi di dalamnya. Mungkin ada sesuatu yang ditinggalkan.”
“Aku sudah memeriksanya, dan tidak mendapat keanehan apapun. Tidak ada bercak atau pun tulisan dan semacamnya.”
“Kenapa kau sangat yakin, kalau pria itu bermaksud memberi ‘tanda’ kepada kita.”
“Bukan pada kita, tetapi padamu.” Eddie mengingat pria itu mencoba memanggilnya sebelum terjatuh. “Sudah ingat? Dia memilihmu karena tahu siapa dirimu, dan kamu sebagai seorang librarian tentu mengerti dengan isi dua buku ini.”
Eddie memandangi kedua buku.
La Petit Prince, jika dirincikan, begini kisahnya:
Buku dimulai dengan cerita ketika tokoh cerita ini masih kecil. Suatu kali ia menggambar ular boa yang memakan seekor gajah. Namun, saat ia menunjukkan gambar itu ke orang dewasa, mereka menyuruhnya untuk berhenti menggambar dan mulai belajar hal-hal lain, seperti geometri, aritmetika, geografi, tata bahasa, dan lain-lain. Akhirnya sang tokoh ini berhenti menggambar dan tumbuh besar menjadi seorang pilot. Sebagai pilot, ia terus membawa gambarnya yang pertama, dan kadang membahas gambar itu bersama teman-temannya. Namun tidak ada satu orang dewasa pun yang memahami gambar buatannya.
Pada bab berikutnya, sang pilot terdampar di gurun Sahara ketika pesawatnya jatuh. Saat ia tengah memperbaiki pesawatnya seorang diri di tengah gurun, seorang pangeran kecil mendatanginya dan memintanya menggambar seekor domba, tanpa penjelasan lebih lanjut. Sang pilot mengaku bahwa dia tidak bisa menggambar domba dan hanya menunjukkan gambar ular boa yang pernah dibuatnya. Anehnya, sang pangeran memahami gambar itu, namun tetap meminta gambar domba. Setelah beberapa gambar awalnya ditolak oleh sang pangeran, sang pilot menggambar sebuah kotak dan berkata bahwa di dalamnya ada seekor domba. Sang pangeran bisa melihat domba di dalam kotak itu dan menerimanya.
Beberapa hari bersama, sang pilot mulai paham bahwa sang pangeran kecil berasal dari planet lain, yaitu sebuah Asteroid kecil seukuran rumah dan mempunyai tiga gunung berapi (yang satu mati dan yang lainnya aktif), setangkai mawar, dan beberapa benda lain. Asteroid itu bernama Asteroid B-612, dan pertama kali dilihat oleh seorang ilmuwan Turki yang berpakaian aneh. Karena pakaian anehnya, tidak seorang pun mempedulikan astronom itu. Namun kemudian diktator Turki menyuruh rakyatnya untuk berpakaian ala Eropa. Dengan pakaian ini, barulah orang-orang menaruh perhatian pada penemuan astronom Turki itu.
Sang pangeran menghabiskan hari-hari di planetnya dengan mencabuti tunas-tunas baobab yang tumbuh agar tidak merusak, membersihkan semua gunung berapi—termasuk yang sudah tidak aktif, dan merawat mawarnya. Dia belajar kesabaran untuk membuat planetnya tetap ada. Dia kemudian jatuh cinta kepada mawar yang berada di planetnya. Namun sang mawar seolah tidak membalas cintanya, karena sifatnya yang sombong. Sang pangeran pun memutuskan berkelana melihat alam semesta, menumpang serombongan burung yang bermigrasi. Dalam perjalanan ini, ia mengunjungi beberapa asteroid.