Benar yang Cesa katakan dua hari lalu. Dia tak mengunjungi Kanya. Sekarang hari terakhirnya bebas. Kemungkinan dia juga tidak mengunjungi sahabatnya. Perdebatan kecil yang sungguh abstrak justru menjadi penghalang waktu terakhir mereka bisa bersama. Seolah mereka tak melihat perpisahan diujung mata. Sekarang senja sudah mulai datang. Semakin tipis saja waktu yang tersisa. Dan Cesa tetap tidak datang. Kanya harus berbesar hati jika yang kemarin itu adalah yang terakhir. Tak ada kata puas menikmati waktu bersama Cesa, tetapi rasa syukur setidaknya membuat Kanya sedikit lebih lega. Waktu terus berjalan meski dia meratapi pertemuan singkat itu. Maka lebih baik untuk tidak meratap pilu. "Nyung, lo beneran kagak pengen cepet pulang?" tanya Anna yang masih saja membuntuti Kanya. Mereka sedang d

