Setelah Pantai Srau hingga hari ini, Candi Cehto, Karanganyar. Tempat bersejarah yang selalu mereka kunjungi setiap tahunnya. Bahkan seperti tak pernah bosan, sekalipun jalanan yang dilalui beberapa kali membuat mereka harus bertaruh nyawa. Keindahan Candi Cetho serta keindahan pemandangan Kabupaten Karanganyar dari ketinggian yang membuat mata mereka tidak pernah bosan.
Hari ini, hari terakhir mereka menikmati waktu bersama. Sebelum benar-benar terpisah oleh jarak dan waktu. Seperti kembali ke masa lalu, di mana tidak ada alat komunikasi canggih yang dapat menghubungkan dua sejoli. Tujuh bulan juga bukan waktu yang singkat. Tak akan ada kabar yang Kanya kirimkan apalagi kabar yang bisa dia terima. Terasa lama sebab seolah kembali ke jaman batu.
Duduk di antara bebatuan yang berjajar rapi. Orang-orang di masa lalu memang hebat, tanpa bantuan semen, pasir atau alat bangunan masa kini, mereka bisa mendirikan candi yang indah. Meski tak semegah Borobudur atau Pramabanan, tetapi Candi Cetho memiliki bentuk bangunan yang tak kalah indahnya dengan berbagai makna di setiap bangunannya.
“Indah ya kalau sore begini, bisa menikmati senja yang begitu singkat,” puji Cesa saat matahari memang sedang indah-indahnya, semburat jingga di ufuk barat. Keindahan duniawi dari Sang Maha Pencipta.
Kanya tersenyum. Selain pantai, senja adalah hal yang indah tetapi meski hanya datang sekedipan mata. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa senja selalu memanjakan penikmatnya. Bahkan dia berjanji kembali esok hari.
“Yang di sini juga ada Senja. Sama indahnya,” canda Kanya, ini bukan apa yang seharusnya yang dia keluarkan. Hati, otak dan mulut gagal berkoordinasi kali ini.
Cesa tersenyum. “Memang sama indahnya, tapi massa waktu kita tidak sama. Aku harap waktuku bersamamu lebih lama dari senja di sore hari.” Bahasa puitis yang membuat Kanya hilang fokus pada jingganya senja.
“Massamu jauh lebih lama dari senja, Cesa. Kamu harus terus bersamaku sampai kamu benar-benar menjadi milik istrimu,” ujar Kanya kembali menikmati senja yang asli.
Tak ada jawaban apapun, hanya ada tanggapan berupa gerakan verbal. Cesa menggenggam jari-jemari Kanya, membawa ke pangkuannya. Kembali menikmati senja tanpa kata pun suara.
Tidak perlu menunggu 1 jam untuk melewatkan senja, hanya beberapa menit saja dia menghilang. Massa waktu senja yang jingga memang tidak lama, tetapi Senja di samping Kanya, dia harus lebih lama. Ego Kanya memuncak, tidak peduli ada perempuan yang Cesa cintai, dia akan bersama Kanya dalam waktu yang lama.
“Hari ini hari terakhirku bisa menikmati waktu bebas denganmu, Kanya.” Terdengar sangat layu. “Kali ini massa waktu yang aku miliki bersamamu berlalu cepat, seperti senja yang satu kedipan mata saja sudah berganti gelap. Sesingkat apapun, waktuku bersamamu adalah yang paling berharga, Kanya,” katanya menggetarkan segala macam organ di d**a.
Kanya tak bisa berkutik, setiap kata yang terucap bak lantunan puisi yang dimusikalisasi. Indah nian merasuk ke dalam telinga, menembus relung hati. “Jangan katakan hal yang membuatku melambung, Cesa,” protesnya.
Cesa tersenyum lebar. “Pipi merahmu membuatku ingin terus menggodamu, Kanya.” Menyeringai jahat.
“Kita pulang saja,” ajaknya melepas genggaman Cesa, percuma Cesa tak akan melepaskan. Kanya tetap memaksa berdiri, namun Cesa tak mengizinkan.
Menarik Kanya duduk kembali di sampingnya, tenaga calon Bintara pastinya lebih kuat dari seorang perempuan. “Aku masih ingin menikmati malam bebas terakhirku dengan kamu, Kanya. Jangan merengek, turuti saja apa yang aku mau.”
Kanya kembali duduk. Diam, menikmati gelap yang sebentar lagi menyapa sempurna. Suara azan telah berkumandang, itulah yang akhirnya membuat Cesa mau beranjak pergi dari Candi Cetho.
“Masnya sama Mbaknya sering sekali datang kemari. Terima kasih lo, ya?” seloroh Bapak Tukang Parkir yang memang sering menjadi langganan mereka.
Mereka hanya tersenyum.
“Masnya pintar juga cari pacar. Cantik begini,” puji Bapak itu setelah tidak mendapat respon positif dari mereka atas kalimat pertamanya. “Boleh lah ya carikan anak saya itu.” Menunjuk seorang pemuda yang sedang duduk di atas sepeda jadul dan bermain ponsel. “Yang seperti Mbaknya ini,” lanjut beliau.
Cesa tertawa sementara Kanya menahan tawa.
“Ini sahabat saya, Pak,” sahut Cesa. “Kalau anaknya mau silakan,” lanjutnya, menyenggol bahu Kanya.
Kanya tahu sahabatnya hanya bercanda, tetapi candaan itu terdengar menyakitkan. Bukan, kenyataan bahwa dia hanyalah sahabat bagi Cesa itu yang lebih menyakitkan. Di saat Kanya ingin bahagia dan mendekap semuanya, setiap itu pula Cesa menghujam jantungnya dengan banyak realita.
“Wah masa cuma sahabat, Mas? Jangan-jangan pacarnya lebih cantik dari Mbaknya.”
Tawa Cesa semakin lebar. “Iyalah, Pak. Calon istri saya malah.” Memperburuk suasana hatiku.
“Waduh, parah nih Masnya. Sudah punya calon istri tapi bawa anak gadis orang. Enggak baik, Mas. Bertaubatlah!” seloroh Bapak Parkir.
Beberapa kalimat tidak penting dan menyakitkan bersaut-sautan, hingga akhirnya mereka berpamitan untuk pulang. Hari sudah semakin gelap, jalanan yang mereka lalui nanti juga cukup berbahaya dan curam, bahkan melalui jalanan sepi di tengah-tengah perkebunan teh.
Sejak dari Candi Cetho, hingga sekarang jalanan Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, mereka tak menciptakan suara hanya hening.
“Kanya,” panggil Cesa lirih, bisa didengar karena jalanan yang sepi tidak begitu mengganggu pendengaran.
“Hemmm.”
“Maaf soal menawarkanmu ke anak Bapak Parkir tadi, aku hanya bercanda,” jelasnya melihat dari kaca spion sebelah kiri.
Kanya hanya menarik ujung bibir beberapa inchi. Tundukkan kepala, untuk mengheningkan cipta atas kenyataan pilu yang dia alami. Kanya bahagia menjadi sahabat Cesa, tetapi menerima bahagia tidak semudah membalik telapak tangan. Dia ingin mendekap luka, tetapi luka itu justru semakin menyayat. Mungkin karena besok Cesa sudah harus pergi dan menghilang tanpa kabar. Bisa jadi itu juga yang memperburuk luka.
Bahkan hingga mereka harus berpisah besok, Kanya tidak mendapat jawaban terbaik atas rasa cintanya. Yakin saja jika memang selamanya akan tetap menjadi sahabat Cesa. Sahabat yang selalu ada untuk menjadi bahu dan telinga, tanpa pernah bisa menjadi tambatan hati.
Cengeng, begitulah julukan yang tepat untuk Kanya. Menangis adalah cara terbaik untuk membuatnya lega, toh menangis bukan berarti kita lemah tetapi karena kita sedang mencari kekuatan yang lebih besar.
“Kamu menangis, Kanya?” Cesa sepertinya menyadarinya. “Maaf, tadi aku hanya ingin melihat senyum bahagiamu seperti biasanya. Ini hari terakhirku, Kanya. Tujuh bulan ke depan aku tidak bisa melihat senyummu. Maaf sekali lagi, caraku salah.”
Kanya mengusap air matanya. “Aku mau tidur, kondisikan laju kendaraanmu,” pinta Kanya pelan. Cesa masih tidak mengerti hal apa yang membuatnya menangis.
“Tidurlah, aku akan menjagamu,” balas Cesa yang sepertinya tahu bahwa sahabatnya hanya menghindar dari percakapan.
Laki-laki yang Kanya cintai itu melajukan kendaraanya stabil, hanya 40 Km/Jam sembari terus memegangi tangan kiri Kanya. Sementara tangan kanan Kanya menggenggam erat ransel kecil di punggung Cesa. Kepala yang terbalut helm bersandar di bahu kanan. Mata terpejam tetap telinga masih aktif mendengar.
“Kanya.” Cesa membangunkan Kanya. Sepeda motornya sudah berhenti di depan rumah. Sepi, hanya ada Bang Raka mungkin. Itupun sudah dipastikan sedang berkutat dengan BAB II skripsinya. “Turun gih!” kembali menepuk tangan Kanya.
Kanya langsung melonjak turun dan melangkah masuk. Tak peduli Cesa terdiam di luar rumah sendirian. Dia tidak mungkin masuk tanpa Kanya minta, terlebih hari sudah malam. Menutup pintu, beralih ke jendela. Kanya melihat Cesa masih termenung di atas sepeda motornya. Sesekali melihat ke arah pintu rumah. Suasana hatinya kalut, dia sedang tidak ingin memperpanjang kenangan menyakitkan.
“Nasibmu begitu banget sih, Dik.” Bang Raka mengejutkan Kanya. Sejak kapan dia berdiri di belakangnya, menenteng dua buku besar tentang Perbankan Syariah. “Sudah bertepuk sebelah tangan, eh ditinggal pendidikan. Tujuh bulan lagi.” Ikut menyaksikan Cesa yang masih di tempatnya.
Kanya tidak ingin menanggapi ucapan Bang Raka.
“Kasih kek kalimat terakhir gitu. Percuma lah berhari-hari menikmati waktu bersama kalau pada akhirnya berpisah tanpa kata." Menyenggol bahu adiknya.
Tetap tidak ingin menanggapi.
“Ah, kisah kasih masa kini. Penuh kode verbal tidak mau visual.”
Tak peduli, mata Kanya tetap pada titik fokus yang sama, Cesa.
Cesa menghela napasnya panjang. Kembali melihat pintu rumah Kanya yang tertutup kemudian melaju pergi. Pada akhirnya tiada kata yang terucap dalam sebuah perpisahan. Malam ini juga Cesa berangkat ke Semarang dan besok siang dia akan berangkat ke pendidikan Bintara.
***
Masih meratapi perpisahan tanpa kata. Masih menikmati libur panjang yang menyiksa. Ya, ospek masih minggu depan.
“Nyung,” panggil Anna yang sedang berbaring di sebelah Kanya.
Kanya sengaja memintanya datang ke rumah karena suasana hatinya yang buruk. Selain Cesa, Anna adalah bahu dan telinga terbaik bagi seorang Kanya Bhakti Mayanetra. Dia juga tangan yang hangat untuk memeluk Kanya, bahagia ataupun susah.
“Hemmm.” Menatap langit-langit rumah, putih.
Anna membetulkan posisinya, menjadi duduk bersila. Kanya tak mau melihatnya. “Jadi kalian pisah tanpa ada kata perpisahan?” Memperjelas apa yang sudah Kanya ceritakan tadi.
“Itu terdengar seperti kami putus tanpa kata putus. Ubah kalimatmu, Anna!”
Sahabat Kanya itu mengkerlingkan kedua bola mata. “Oke. Kenapa lo enggak jujur aja semalem, Nyung? Kenapa juga lo biarin Cesa pergi begitu saja tanpa memberinya kesempatan untuk mengucapkan kata perpisahan? Lo tahu kan tujuh bulan itu bukan waktu yang singkat?”
Kanya terdiam sejenak. “Aku tidak sanggup mengatakan apapun, An. Bahkan aku sudah tidak sanggup menatapnya dari jarak dekat. Semua realita terlalu menyakitkan,” jawabnya hampir menangis.
“Ah, lo sudah jadi manusia terbodoh karena melewatkan waktu, Nyung. Bahkan waktu terakhir lo! Lo tahu nggak, Nyung?”
Menggeleng.
“Besok-besok lo udah sulit ketemu sama Cesa, dia sudah jadi milik negara sekarang, Nyung. Enggak bisa semudah kemarin kalau mau ketemu sama dia. Apa-apa yang dipentingkan itu negara, bukan lagi kamu.” Terlalu berapi-api.
Hening, tak ada tanggapan.
“Lo paham enggak sih, Nyung?”
Sekali lagi menggeleng.
“Astagfirullah! Bisa gila gue! Nyung, artinya kemarin adalah waktu terakhir Cesa terbebas dari negara. Harusnya lo bisa memanfaatkan waktu itu dengan baik, menikmati kebersamaan kalian dan mengatakan apapun yang harus kalian katakan. Karena apa?” Terhenti, mengambil napas panjang lalu menghembuskan. “Karena setelah ini negara sulit mengizinkan!”
Terdiam, hening.
“Setelah itu lo enggak punya banyak waktu buat ketemu, enggak punya banyak waktu untuk ngobrol dan lain sebagainya. Lo bakalan nyesel seumur hidup dan lo cuma bisa meratapi kerinduan lo. Cuma bisa bilang aku rindu tetapi sulit untuk bertemu!”
Anna ada benarnya.
“Ya tapi masih lebih baik karena Cesa mencintamu, setidaknya rindumu terbalas,” lanjutnya menurunkan nada bicaranya.
Tersenyum getir. “Bukan aku yang Cesa cintai, An. Kemarin dia sudah mempertegas bahwa aku hanya sahabatnya. Bahkan di depan Bapak Parkir Candi Cetho yang tidak tahu menahu soal apa-apa,” cerita Kanya menahan pilu.
“Oh ya?”
Mengangguk.
“Lo tahu enggak dia jujur apa bohong?”
“Dia jujur, Anna!” .
“Gue sih kurang yakin!” Anna memang sulit goyah dengan pendapatnya.
“Cukuplah menyalahkanku soal ini, An. Aku sudah menikmati waktuku beberapa hari ini dengan Cesa. Ke pantai, ke Mall, nonton, ke Candi Cetho, makan, keliling Solo. Sudah cukup untuk menikmati waktu terakhir kami.”
“Hisss! Lo tuh masih enggak paham juga, Nyung. Gue enggak...”
Kling... ponsel Kanya berdering.
“Cesa tuh!” ujar Anna yang memang lebih jelas melihat layar ponsel yang berkedip.
“Biarin!"
Anna tak menurut, dia justru mengangkat ponsel Kanya. Menerima panggilan dari Cesa. “Halo!” Anna sangat kasar sekali mengucapkan kalimat sapaan itu.
“Gue mau bicara sama Kanya, An. Berikan ponselnya.” Yang di seberang langsung tahu jika yang berbicara adalah Anna, suara kami memang jauh berbeda. Satu bersuara lembut sementara yang satu lebih ke suara yang besar, macam laki-laki.
“Kanya lagi enggak mau bicara sama lo, Cesa. Makanya gue yang angkat!” Ketus sekali.
Ada suara helaan napas di seberang sana. “Kanya, aku tidak peduli kamu mau bicara denganku atau tidak, cukup dengarkan aku,” katanya.
Kanya menatap ponsel yang ada di depan d**a Anna. Telinganya terbuka lebar.
“Aku tidak tahu kenapa kamu tiba-tiba berubah kemarin. Mungkin karena candaanku yang keterlaluan, menawarkan kamu sesuka hatiku." Cesa masih belum paham apa yang membuat Kanya diam sejak kemarin. “Maaf untuk semuanya, Kanya.” Terhenti cukup lama. Anna yang biasanya menggangu kali ini memilih diam. “Terima kasih untuk hari-hari indah bersamamu.”
Air mata Kanya terjatuh tepat saat kalimatnya habis.
“Aku bahagia sekali bisa mengenalmu, bisa melewati masa bebas terakhirku bersamamu, bisa melihat senyum manismu sebelum masuk ke dalam lubang buaya, bisa menggenggam tanganmu, bisa menjadi bagian dari bahagiamu, sayangnya aku menghancurkan itu di menit akhir perpisahan kita.”
Butiran bening yang jatuh semakin banyak.
“Tujuh bulan lagi aku akan menemuimu di Karanganyar atau kamu bisa datang di acara pelantikanku nanti. Tolong doakan pendidikanku lancar. Aku harap di saat itu kamu sudah memaafkan aku, Kanya,” suaranya semakin parau. “Aku pamit, Kan. Sebentar lagi aku berangkat. Jaga dirimu baik-baik di sana, ya? Semangat kuliahnya. Aku akan merindukanmu, sangat merindukanmu.”
Hening, hanya suara tangis yang pelan, mungkin saja tidak terdengar oleh Cesa di seberang sana.
“Katakan sesuatu, Kanya!” Anna memecah keheningan. “Jangan bodoh!” Memukul kepalaku pelan.
“Aku tidak ingin mengatakan sesuatu.”
“Tak apa, hanya suaramu itu saja sudah membuatku bahagia, Kanya. Sampai jumpa tujuh bulan lagi. I will be missing you!” ucap Cesa.
"Aku juga akan sangat merindukanmu, Cesa. Sangat, bahkan lebih dari rindumu!" batinku menjerit.
“Sorry, Cesa. Kanya memang sedang kurang waras. Selamat menempuh pendidikan, semoga lancar dan tidak ada halangan apapun.” Anna yang mewakili.
Cukup lama tak ada jawaban. “Aamiin, terima kasih, Anna. Aku titip Kanya sama kamu, aku akan segera pulang ke Karanganyar. Sudah waktunya aku pergi. Assalamu’alaikum.”
“Siap, Wa’alaikumsalam.”
Anna menatap sahabatnya tajam, ingin membunuh. Berulang kali menggeleng dan menghela napas. “Lo adalah orang terbodoh yang gue kenal, Nyung. Mau sampai kapan lo nangis kaya gini? Diam dan menyiksa diri!”
Kanya menggeleng.
“Sekarang kamu benar-benar terlambat. Terserah, kamu memintaku datang bukan untuk meminta solusi kan? Cuma butuh untuk di dengar dan jadi bahu untuk bersandar?”
Tidak dijawab.
“Baiklah, aku diam. Terserah ke depannya mau bagaimana, itu keputusanmu!” Anna benar-benar telah menyerah pada sahabatnya.
Kembali menatap langit-langit, Anna memang benar, Kanya sudah terlambat dan sekarang tinggal meratapi apa yang telah dia sia-siakan. Perpisahan tanpa kata. Dia hanya bisa berharap rasa itu segera menghilang, seiring dengan berjalannya waktu tanpa Cesa. Agar semuanya kembali seperti sedia kala. Saat hanya kata persahabatan yang ada, bukan cinta tak terbalas macam sekarang ini.
Tujuh bulan yang akan datang, dia berharap, dia sudah bahagia, atau bahkan lupa soal cinta.