CHAPTER 21 Sekitar seharian dirawat di mana Wafa dan Fauzan semakin dekat, akhirnya Fauzan diperbolehkan pulang. Leo, selaku dokter yang merawat pria itu, kini berdiri di hadapan mereka. "Kalian kayak anak dan bapak, ya." Leo terkekeh pelan, perbedaan umur dan perbedaan bentuk tubuh sudah memperlihatkan dengan jelas mereka memang pantas berstatus demikian. Wafa hanya diam, sejujurnya ada untung ruginya menikah dengan makhluk semacam Fauzan. Walau sepertinya banyak ruginya, sih …. "Lo pernah keselek sendal goreng lima ratusan, gak?" Fauzan berdesis bak ular, pria dengan gips di tangannya itu memutar bola mata. "Canda, Bosque!" Kemudian Leo menatap Wafa. "Gak ada niatan aborsi?"

