"Tidaaakk!" Teriakan penuh kesedihan menggema di aula duka yang dipenuhi cahaya lilin. Seorang wanita, Liana, duduk bersimpuh di samping sebuah peti panjang, tubuhnya bergetar hebat saat tangisnya pecah. Air matanya mengalir tanpa henti, membasahi wajah pucatnya yang memenuhi keputusasaan. Suaranya serak dan tergagap, mencoba mengungkapkan rasa sakit yang terlalu berat untuk di tahan. “Kau…berjanji tidak akan pergi…kau janji akan selalu bersamaku…” Liana terisak, tangannya gemetar saat ia menyentuh peti itu. "Kenapa...kenapa kau selalu membuatku menangis... kenapa kau meninggalkanku, Alphard?" setiap kata yang keluar dari bibirnya penuh dengan kesedihan yang mendalam, seperti patahan hati yang tak pernah bisa disatukan. Di sudut aula, seorang pria dewasa, menyaksikan dengan mata penuh

