Lucas membuka pintu itu perlahan dan menutupnya kembali.
Ruang rawat ini masih saja membuatnya sukses bergetar karena takut. Takut bila orang yang sangat penting bagi hidup wanitanya akan pergi.
Masuk bulan yang kelima ini Jasper masih belum sadarkan diri membuat Lucas semakin menyesal.
Mungkin bila ia bunuh diripun tidak akan cukup menghapus dosa yang telah ia lakukan kepada Jasper.
"Hei dude, kau masih betah tidur disini?", sapa Lucas mencoba mencairkan suasana.
Tapi, dari nada bicaranya. Ia berusaha menahan getaran dibibirnya.
"Oke. Aku mulai membencimu karena kau tidak membalas perkataanku", tambahnya sambil menggeret kursi di samping ranjang.
"Sudah hampir bulan kelima kau membuat kami semua menunggu. Apa kau tidak lelah?", tanya Lucas.
Lalu ia menghela napasnya panjang.
Wajahnya tampak kusut dan lelah.
"Aku tahu kau pasti mendengarku. Tapi karena kau membenciku. Untuk itu kau tidak menjawabku.
Aku hanya mau bercerita padamu.
Tentang Alice", Lucas tersenyum.
"Dulu kami bertemu karena aku yang menemuinya pertama kali.
Saat itu, tepat dua bulan orang tuanya meninggal.
Aku menemuinya karena ingin menagih hutang orang tuanya yang masih belum terlunasi bila perusahaan itu dijual.
Waktu itu aku masih belum mengerti bahwa harta bukanlah segalanya dan aku juga terobsesi dengan tahta.
Dan aku menawarkannya pekerjaan sebagai sekretarisku.
Alice bekerja dengan baik tanpa melakukan kesalahan sedikitpun.
Tapi, yang membuatku terkadang marah kepadanya karena caranya berpakaian yang membuat banyak pria di kantorku selalu menatapnya lapar.
Aku sendiri tidak bisa menolak pesona itu. Untuk itu aku jatuh cinta kepadanya. Bukan karena fisik saja, tapi memang karena hatinya yang baik.
Meski ia membentak atau berani kepadaku, dia selalu peduli padaku bila aku bekerja hingga larut malam dan lupa dengan kesehatanku sendiri", Lucas terdiam sejenak sambil menarik napasnya dalam.
"Aku mencintainya, Jasper. Aku mencintai istrimu. Maafkan aku", katanya lirih sambil berusaha menahan air matanya. "Aku berusaha sekuat mungkin menghindarinya tapi tidaklah bisa. Hatiku masih saja tertinggal di dalam dirinya",
"Aku baru mengerti kenapa kau marah saat tahu Alice bersamaku. Karena kau sendiri masih mencintainya",
Lucas dengan cepat mengusap air matanya yang menggenang di pelupuk mata. "Untuk itu bangunlah. Sadarlah", suaranya semakin pelan.
"Kau tidak ingin pria b******k ini merebut wanitamu bukan?",tanyanya.
"Aku berjanji jika kau sadar. Aku akan menjauhi kalian berdua. Aku akan membiarkanmu hidup bersama dengan Alice dengan bahagia.
Tapi, aku akan kembali padamu jika aku mendengar Alice tersakiti",
"Ak- aku...", ia sudah tidak tahu lagi ingin berkata apa. Lidahnya keluh.
Lucas hanya bisa menunduk membenamkam wajahnya di sela-sela tangannya.
Ia mulai menangis. Menangisi penyesalannya karena membuat Jasper jadi seperti ini.
Tiba-tiba Lucas merasakan ada pergerakan di ranjang itu.
Dengan cepat ia mendongak dan mengusap air matanya.
Ia melihat dengan jelas tangan Jasper baru saja bergerak perlahan.
Tanpa banyak berpikir, ia segera menekan tombol merah di atas ranjang itu untuk memanggil dokter.
Lucas tersenyum. Tapi, ia sekuat mungkin untuk tidak menangis lagi.
Karena apa yang ia inginkan kini terkabul, "Aku tahu kau sangat mencintai, Alice. Kau tidak mau aku merebutnya darimu",
"Seperti kataku tadi. Aku akan pergi, Jasper. Aku akan pindah ke Washington besok. Sampai jumpa.
Dan aku harap kau akan pulih dan sehat seperti dahulu agar bisa menjaga Alice.
Aku pergi...",
...
Mike dengan cepat berlari melewati lorong-lorong rumah sakit saat mendengarkan panggilang dari Lucas bahwa Jasper sepertinya mulai tersadar.
Saat ia sampai di depan ruangan itu.
Ia sudah melihat ada kedua orang tua Jasper. Ayah Jasper memeluk istrinya yang meneteskan air mata dengan erat. Langkah demi langkah ia ambil perlahan mendekati keduanya.
Ia menepuk-nepuk bahu Jasmine (ibu Jasper) berusaha membantunya menguatkan diri. "it's okay, tante. Jasper baik-baik saja. Dia kini tersadar",
Jasmine masih saja menangis. Ia sungguh tidak tega melihat putra semata wayangnya berada di dalam ruangan itu bersama dokter yang memeriksa.
Ia bahkan sangat shock ketika mendengar anaknya masuk ke rumah sakit dan koma.
Anaknya itu sangat baik dan selalu memikirkan orang tuanya. Dan mungkin itu yang membuat Jasper tak mengatakan penyakitnya kepada mereka.
Tak lama setelah itu, dokter dan beberapa suster keluar dari dalam ruangan. Mike pertama kali maju kearah dokter itu.
"Bagaimana dok?",
Dokter tersenyum, "Keajaiban kedua datang lagi padanya, nak. Dia tersadar dari komanya dengan kondisi lebih baik dari pada sebelumnya",
Mike menghela napasnya, ia sangat bersyukur.
"Tapi, kita harus tetap melakukan operasi sambil menunggu kondisinya lebih pulih.
Kita akan jadwalkan tiga bulan kedepan untuk operasi di kepalanya",
Ayah Jasper berdehem, "Tapi, apakah operasi itu pasti akan berhasil?",
Dokter mengangguk, "Ya, pasti berhasil. Hanya saja pasti ada efeknya dari operasi itu",
Mike terdiam. Ia tahu apa efek yang akan terjadi pada Jasper jika melakukan operasi itu,
"Apa itu?", tanya ayahnya lagi.
Dokter menghela napasnya, "Dia bisa kehilangan seluruh ingatannya",
Dalam sekejap suara tangisan Jasmine pecah kembali membuat ayah Jasper dan Mike langsung mengangkat wanita itu yang menangis hingga meluruh kelantai.
Ia membopong tubuh wanita itu keatas bangku.
"Mike, Jasper...", isaknya.
Mike tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menunduk,
"Tuan Mike", panggil sang dokter.
Mike menoleh dan bangkit.
"Apakah anda bisa membawa nona Alice kemari? Sedari tadi saya memeriksanya. Jasper selalu saja bergumam memanggil istrinya",
Mike tersenyum getir. "Saya akan usahakan dok. Alice saat ini sedang mengandung besar",
Mike sampai saat ini belum mengabari Alice mengenai sadarnya Jasper. Ia juga meminta Lucas untuk tidak menghubungi Alice.
Wanita itu kini harus mempersiapkan mentalnya agar saat persalinan tidak membahayakan nyawanya.
Ia takut jika Alice dalam keadaan panik, tertekan, dan sedih, itu malah berpengaruh buruk.
Bahkan Mike sangat bersyukur anak yang dikandung Alice sampai saat ini baik-baik saja meski Alice memangis ataupun sedih.
"Saya mengerti. Dan jika kalian ingin menjenguknya, usahakan maksimal dua orang. Kalian juga akan dibantu suster untuk memakai pakaian steril.
Kalau begitu, saya permisi",
Mike mengangguk. Ia kembali pada Jasmine dan Fernando. "Apa tante dan om mau masuk melihat keadaannya terlebih dahulu?",
Fernando menggeleng, "Kau saja duluan, Mike. Om akan menenangkan tante terlebih dahulu. Om yakin bila Jasper melihat keadaan ibunya yang kacau, ia pasti sedih",
Mike mengangguk, ia berpamitan menemui Jasper terlebih dahulu.
Ia membuka pintu ruangan itu dan masuk.
Ia juga dibantu seorang suster yang bersiap didalam untuk membantu memakaikan pakaian steril.
Saat ia melangkahkan kakinya mendekat. Ia tidak boleh memasang wajah sedihnya. Ia tersenyum.
Mike menyentuh kaki Jasper dan memijat kaki itu perlahan.
"Aku tahu kau pasti lelah", ujarnya pelan.
Tak ada jawaban dari Jasper. Hanya ada suara monitor yang berbunyi stabil di ruangan itu.
Mike masih memijat kaki Jasper. Ia tahu pasti pria itu merasakan kram dikakinya.
"Terima kasih", jawab Jasper dengan suara lirih dan lemah.
Bahkan nyaris tak terdengar.
Mike menoleh kearah Jasper. Dan saat itu, mata yang selama ini terpejam terbuka perlahan.
Meski sayu-sayu, Mike bernapas lega.
"Ahkirnya kau sadar",